mala_ceaven

mala_ceaven

Share

Jadilah diri sendiri❤️

19/04/2026

"Aku tahu. Om Abra sudah kasih tahu semua."

"Sej elek apa ga dis ini sampai Bang Ibnu tega membuang perjod ohan ini kayak bua ng
sam pah? Mungkin sel era Bang Ibnu sudah rusak oleh standar tinggi yang tak masuk akal."

Tanpa membuang waktu, karena suara derap sepatu lars di luar barak sudah mulai terdengar, Hanif mengetikkan pesan balasan. Ia ingin langsung ke intinya. "Sebelum dipertemukan secara resmi, bisakah kita bertemu em pat ma ta dulu?"

Satu detik ...
Dua detik ...
Tiga detik ...

Aku masih menatap layar. Tidak ada tanda-tanda centang biru, apalagi balasan. Aku membaca ulang.

"Nggak ada yang aneh dengan pesanku. To the point, jelas, nggak pakai basa-basi ala y. Terus kenapa belum dibaca?"

Aku kembali melirik jam tactical di pergelangan tangan. Waktu untuk bersantai sudah habis. Aku melangkah menuju loker kayu di sudut
ka mar. Di Mess Perwira, setiap personel memang memiliki loker pribadi.

Aku membuka pintu loker. Sebelumnya sekali lagi kusempatkan melirik gawai lagi.
"Apa-apaan aku ini? Sejak kapan jadi kayak
rem aja lab il nungguin balasan pesan cewek?"

Dengan ger akan kas ar, aku menaruh ponsel itu di atas tumpukan kaus cadangan.

*

Sementara itu, di sebuah sudut kota yang berbeda, atmosfernya sama sekali tidak mengenal kata santai. Suara sirine ambulans meraung-raung, saling bersahutan membelah udara pagi yang hangat.

"Dokter Nisa! Korban tabr akan beru ntun di Tol KM 15. Pasien pertama tra uma kepala, kesadaran menurun!" teriak seorang perawat senior.

"Oke, bawa ke Merah satu! Siapkan intu basi!" perintah Nisa lugas. Suaranya tidak lagi terdengar seperti gad is pemalu, melainkan seorang calon dokter militer yang sigap.

Di saku jas dokternya, ponsel Nisa bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk di sana, tetapi terabaikan.

"Udah istirahat makan siang notifikasi pesan dari gue belum juga dibales?"

BERSAMBUNG ...

Esklusif di KBM.

Judul: Gemoy Untuk Kapten
Penulis; Ceaven

14/04/2026

(1)

“Santai saja, Rangga. Nikmati saja malam ini.”
Itu suara papaku. Yogi Mahendra. Aku ingat gelas min uman yang ia sodorkan. Ingat betapa aku menolak, tapi ia menepuk bahuku sambil tersenyum tenang, senyum yang kini aku tahu adalah jeba kan.

Setelah air dalam gelas itu kandas olehku, semuanya berputar cepat.

Kam ar hotel.

Lampu remang.

Kepalaku berat seolah dipaku. Napas pendek. Tubuh terasa ringan dan hilang kendali, seperti aku sedang berjalan di dalam mimpiku sendiri.

“Tol ong … jangan…,” suara itu bergetar.
Namun, o bat yang merayapi tubuhku membuatku tak mampu berhenti, tak mampu berpikir, tak mampu membedakan mana yang salah dan benar.

Aku terbangun dengan kepala pusing, tubuh tanpa seh elai ben ang, seprai berantakan, dan aro ma parfum wanita semalam menempel di kulit.

Wanita itu sudah pergi.

Jam menunjukkan pukul 05.12.

Aku meng geram, menggenggam rambutku kasar.

Pintu terbuka. Papaku berdiri di sana sambil menepuk tangan pelan, seperti baru saja menonton pertunjukan yang memu askan.

“Good. Semua berjalan lancar.”

Aku ingin meno njok wajahnya pagi itu. Ingin menun tut penjelasan. Ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di kam ar itu.

Flash back off

Rasti berdiri kaku di tengah ka mar, seperti menghindari tiap sudut yang bisa membuatku salah paham. "Mas… saya tidur di mana?"

“Di sofa.” jawabku cepat. “Kita memang satu
ka mar. Tapi tidak untuk satu ranj ang."

Rasti hanya mengangguk.
Tanpa protes. Tanpa bertanya. Ia meletakkan cadangan bantal dan selimut sendiri di sofa, lalu duduk perlahan. “Kalau Mas butuh apa-apa, tinggal panggil saya.”

“Kamu istirahat saja.” ucapku datar.

Tak lama kemudian kepalanya terjatuh pelan, dan ia tertidur… masih dengan cadar menutupi seluruh wajahnya.

Aku menelan saliva. "Bagaimana orang bisa tidur seperti itu?"

Sial… bahkan itu membuatku sedikit iba.

BERSAMBUNG ...

Esklusif di KBM.

Judul: Takdir di Balik Cadar
Penulis: Ceaven

09/04/2026

Pera wat Pilihan Istriku (9)

Tubuhku terasa lemas mendapati kenyataan yang sebenarnya. Walau sudah pernah menduga ini mungkin terjadi, tetapi aku tidak menyangka yang menjadi selingk uhan Nita adalah Yogi, adik tiriku sendiri.


Prank!

Aku tidak sengaja menyenggolnya. Suara vas bunga yang pecah tadi ternyata sampai ke luar.

"Ada apa, Mas?" Nita masuk ka mar tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. "Apakah sehabis makan bubur kamu jadi pusing?"

Fiks sesuai dugaan! Bubur tadi sudah Nita tambahkan sesuatu yang mungkin bisa berefek fatal pada proses pemulihan ku.

"Ayo, sini, Mas!" Nita mendorong kursi rodaku menjauh dari pecahan vas bunga yang berserakan di lantai.

"Hana!"

"Hana!"

"Perawat mu ke mana, Mas?"

"Hana!" Nita masih mencari keberadaan Hana.

"Dia pergi?" tanya Nita padaku, ekspresi nya masih sama menampakan gejolak api yang siap berkobar kapan saja.

"Suara apa tadi?" Yogi masuk kam ar ini setelah mengetuk pintu tiga kali. Lagi, aku kembali harus menahan diri.

"Ini Mas Denis pecahin vas bunga."

"Tapi kamu tidak papa, kan?"

"Aku baik-baik, saja. Hanya bekas pecahan itu masih berserakan di lantai."

"Suruh peraw atnya bersihin, lah! Gak mungkin kamu yang bersihin juga, kan?"

"Ke mana peraw at dan asisten pribadimu, Mas?" Kali ini Yogi yang bertanya.

"Mereka sepertinya ke luar. Aku coba telepon Reza dulu."

"Gimana?" tanya Yogi setelah Nita mengakhiri panggilan.

"Reza di kantor. Hana ke mana?"

Aku mengetuk-ngetuk pegangan kursi roda tempatku duduk sebagai ko de aku ingin menulis sesuatu. Aku menggunakan cara ini ketika ingin berkomunikasi dengan mereka.

BERSAMBUNG ...

Esklusif di KBM.

Judul; Pera wat Pilihan Istriku
Penulis; Ceaven



#ʀᴇᴇʟᴠɪʀᴀʟ

01/04/2026

(6)

"Tuh, kan, Bund! Apa Ayah bilang? Nama kamu itu wangi di ba nk karena nggak pernah punya cac at. Langsung ACC limit maksimal nasabah baru."

"I-ini ba yarnya gimana, Mas?"

"Gampang, Sayang. Cuma setahun, kok. Bayarnya mingguan, jadi nggak kerasa berat. Ayah sudah hit ung, hasil dari warung sembako Dewi nanti lebih dari cukup buat nutup ini."

Sebulan pertama, semua tampak berjalan sesuai rencana. Namun, memasuki bulan kedua, waru ng sem bako yang dikelola Dewi, adik iparku mulai menunjukkan gejala tidak beres. Setiap kali aku lewat di depan warung yang menempel di teras rum ah mertuanya itu, aku melihat buku uta ng yang lebih tebal daripada buku stok barang.

Puncaknya adalah pagi ini. Aku membuka kaleng tempat menyimpan beras di dapur. Kosong. Hanya tersisa beberapa butir beras yang menempel di sudut.

"Mas, beras habis."

"Pake ua ng sisa belanja kemarin nggak ada, Bund?"

"Mana ada? Uan g belanja kemarin sudah kupakai buat beli gas dan telur. Ini benar-benar kosong. Adam mau seko lah, dia nggak bisa cuma makan telur rebus tanpa nasi."

"Sabar ya, Bund. Beli kiloan dulu aja ke warung sebelah, ua ngnya lagi muter di Dewi. Banyak yang belum bayar uta ng sembako."

"Dulu di Jakarta kita nggak pernah kayak gini, Mas. Kenapa sekarang buat beli beras aja harus nunggu ut ang orang cair?"

"Itu kan dulu, Fa! Sekarang kita lagi berjuang. Jangan dibanding-bandingin terus, sabar, ya!" Harsa segera berdiri, menyambar kunci motor dan jaketnya.

Tepat saat ia hendak melangkah ke pintu depan, sebuah motor matic berhenti di halaman. Sosok perempuan dengan kacamata hitam dan pakaian santai yang modis turun dengan gaya manja. Andhini.

"Aduh, Mas... untung kamu belum pergi. Motor aku masuk bengkel, nih. Anterin aku ke kondangan saudaranya Hadi di sebelah desa, ya!"

BERSAMBUNG ...

Judul; Batas Waktu
Penulis: Ceaven

02/03/2026

"POV: Kamu rela mati demi anakmu, tapi dia lebih memilih selingkuhan bapaknya. 💔"

(6)

"Maaf aku terlambat," sapa Zafran lembut. Namun matanya menatap taja m ke arah Arkan yang masih terduduk lemas di tanah.

"Ayo, Elisa. Kita pergi dari tempat ini!"

"Tapi... barang-barangku, Pak. Koper dan baju-baju Nenek masih di sana!" Aku menunjuk bunt elan kain jarik yang berserakan.

Zafran melirik sekilas ke arah tumpukan baju kusam itu, lalu menggeleng pelan. "Tinggalkan saja semua itu di sini. Tidak perlu membawa beban lama ke kehidupan yang baru. Di rum ah sudah disediakan yang terbaik untukmu dan Nenek."

"Tapi ..."

"Elisa," ujar Zafran dengan nada rendah yang tidak memb antah. "Mulai hari ini, kamu tidak perlu lagi memikirkan hal-hal kecil seperti itu. Biarkan an ak buahku yang mengurus sisa urusan di sini. Nenekmu akan ikut mobil yang lain agar lebih nyaman. Kamu ikut saya."

Arkan mencoba bangkit, wajahnya merah padam karena malu ditonton tetangga gang. "Elisa! Kamu nggak bisa pergi begitu saja! Kamu masih istriku!"

Zafran berhenti melangkah, menoleh sedikit tanpa melepaskan rangkulannya padaku. "Istri? Kamu menyebut wanita yang kamu biarkan kelaparan dan diusir dari kontrakannya sebagai istri? Lucu sekali."

Tanpa menunggu balasan Arkan, Zafran membimbingku masuk ke dalam mobil
me wahnya yang harum aromaterapi mahal.

Perjalanan menuju rumah Zafran terasa sangat singkat karena pikiranku sedang mela yang kemana-mana. Sesampainya di sana, di depan pintu utama yang megah, sesosok tubuh kecil sudah berdiri menanti. Begitu aku turun, ia langsung berlari kecil menghampiriku. Tangannya dengan sigap membuka buku catatan kecil yang selalu tersampir di lehernya.
Ia menuliskan sesuatu dengan terburu-buru, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi diperlihatkannya padaku.

"SELAMAT DATANG KEMBALI, BUNDA."

Aku berlu tut, menyamakan tinggi dengan Eno, lalu memeluknya erat. "Terima kasih, Eno. Bunda senang sekali bisa ketemu Eno lagi."

Eno menyandarkan kepalanya di bahuku. Tidak ada kata-kata, tapi detak jantungnya yang tenang memberitahuku bahwa ia merasa aman.

Zafran yang berdiri di belakang kami berdeham pelan, raut wajahnya yang kaku sedikit melunak melihat pemandangan itu. "Eno ... biar Bunda istirahat dulu."

Eno mengangguk patuh.

"Pak, saya mau lihat kondisi Nenek dulu. Tadi beliau kelihatannya sy ok."

"Nenekmu sudah di paviliun khusus, Elisa. Ada pera wat yang sedang memeriksa tensinya dan memberikannya makan siang. Kamu bisa menemuinya setelah kita menyelesaikan administrasi ini," jawab Zafran tegas. "Ikut saya."

"Silakan baca. Itu kontrak kerja sama kita!"

Aku membuka map dengan tangan sedikit gemetar. Namun, saat mataku membaca poin-poin di halaman kedua, gerak mataku terhenti. Napasku memburu.

"Pak... ini maksudnya apa?" tanyaku dengan suara meninggi.

"Poin yang mana?"

"Poin nomor empat!" Aku menunjuk baris tulisan itu dengan jari yang gemetar hebat.

"Di sini tertulis... 'Pihak kedua bersedia didaftarkan dalam pernikahan sah secara hukum dan agama dengan pihak pertama selama masa kontrak berlangsung'."

Zafran menyandarkan punggungnya di kursi, menatapku tanpa kedip. "Eno butuh status yang jelas. Aku tidak ingin ada celah bagi siapa pun, termasuk mantan suamimu, untuk mengganggu ketenangan Eno dengan menganggapmu hanya pengasuh bayaran. Jika kita menikah secara hukum, kamu punya perlindungan penuh dari kekuasaanku."

"Tapi ini gila!"

"Bagaimana saya bisa menikah dengan Anda? Sedang saya masih punya suami? Saya belum bercerai secara resmi dengan Arkan."

Zafran menarik laci mejanya, mengeluarkan selembar kertas lain yang membuat duniaku terasa berhenti berputar.

"Surat gugatan ceraimu sudah didaftarkan siang ini ke pengadilan agama oleh pengacaraku. Dan jangan khawatir tentang Arkan."

Aku terperangah menyadari sesuatu. "Anda ... Anda merencanakan ini semua?"

"Aku hanya mempercepat apa yang seharusnya terjadi, Elisa. Sekarang pilihannya ada di tanganmu. Menjadi istr i forma litas saya dan mendapatkan segalanya atau pulang ke gang sempit kembali pada Arkan?"

BERSAMBUNG ...

Esklusif di KBM.

Judul: Dibuang A nak Kandung, Dipuja An ak Sambung

Penulis: Ceaven

01/03/2026

"Tega! Hanya karena tes DNA, Ibu dan Ayah membuangku begitu saja demi anak kandung mereka yang baru datang. Aku yang selama ini berbakti, langsung dianggap sampah.

Di saat aku hampir putus asa karena biaya kuliah yang menunggak, dia datang. Pria kaya yang usianya sudah matang tapi masih melajang. Dia butuh istri formalitas, dan aku butuh uang.

(1)

"Sekarang imp as. Aku akan benar-benar pergi. Kalian tidak perlu lagi bertemu dan ma rah pada a dik pemb angkang ini lagi," monolog Rey, sambil menutup laci tempat surat dan kartu ATM tabu ngan diletakan.

Napasnya tercekat, antara lega dan sesak, mau bagaimanapun ru mah itu sudah memberikan banyak kenangan manis sebelum Ziya datang.

Edo baru tiba di rum ah bersaman degan sebuah taksi pergi, tetapi dia tidak peduli meski tahu siapa penumpangnya.

"Palingan urusan nggak penting," monolog Edo sambil menggelengkan kepala.

Dahulu, Rey adalah a dik yang sangat disayangi, dika gumi, dilindungi dan paling diutamakan. Namun, sejak Ziya datang, segalanya berubah. Semua perhatian dan kasih sayang kedua kakaknya berpindah padanya.

"Kak, itu apa?" tanya Ziya, ma tanya fokus pada selembaran kertas di tangan Edo.

"Rey pergi," jawab Edo, lirih. Dalam benaknya bertanya-tanya, apa yang membuat Rey sampai sene kat ini. Terakhir kali ....

"Cuma minta dia buat maaf aja, apa susahnya?" gumam Edo.

"Itu... ATM Kak Rey juga?" Ziya menunjuk kartu di tangan Edo.

"Katanya, u ang ganti rugi," jawab Edo, merasakan rasa se sal yang meng ganjal dalam da danya. Setahun terakhir, Rey memang berubah menjadi ke ras ke pala dan
pemban gkang, tetapi tetap saja ... Edo masih menyayanginya.

"Maafin Ziya, ya, Kak! Pasti karena Ziya datang Rey jadi pergi," Ziya meraih tangan Edo,
berg elayut ma nja seperti biasa. Meski Ziya seumuran dengan Rey. Gadis itu sangat pandai mengambil hati semua orang di ru mah, ditambah lagi kemampuan memasaknya yang selalu berhasil memanjakan lidah siapa saja yang menikmatinya.

Ziya tersenyum sin is dalam hati. "Pergi aja, Lo jauh-jauh, Rey! Gak perlu lagi gue repot-repot mikirin cara nyingkirin, Lo."

"Dia salah. Seharusnya minta maaf sama kamu. Bukan malah milih ka bur. Aku cari Yoga dulu," Edo mengurai tangan Ziya dengan lembut sebelum beranjak mencari Kakaknya.

"Kak Yoga di gazebo. Ziya buatin teh dan cemilan ya, Kak," ucap Ziya, tetap ceria seolah semua baik-baik saja.

**

Di Gazebo Edo membaca su rat dari Rey bersama Yoga.

"Kak Edo! Kak Yoga!

Makasih udah jadi kakakku. Salam buat Mama sama Papa. Aku sayang kalian.

Rey."

"Gak ada kata maafnya sama sekali," komentar Edo dengan nada dingin. Am arahnya masih mendominasi akibat kesalahan Rey yang hampir mencel akai Ziya tempo hari.

"Kabur emang gampang? Gak bakal lama dia bertahan itu," Yoga mendengus, membolak-balik kartu ATM di tangannya.

"Kita lihat aja nanti," sahut Edo.

"Dia, kan manja. Gak mungkin bisa hidup susah. Ini, ATM-nya malah ditinggal." Yoga kesal dengan kecer obohan Rey.

Edo mencoba menenangkan diri. Ia khawatir kepergian Rey akan membuat kedua orang tua mereka mar ah. "Kita harus jaga rahasia ini dari Mama Papa, Kak"

"Gampang. Biar Ziya nanti yang ngomong." Ziya tiba-tiba muncul, membawa nampan berisi teh dan camilan yang dibuatnya, senyumnya lebar seperti biasa pandai mengambil simpati siapa saja.

"Yakin mereka percaya?" tanya Yoga. Meskipun tahu Ziya memiliki hati lembut yang tidak dimiliki Rey yang menjadi bar-bar setahun belakangan ini. Yoga masih sedikit ragu Ziya akan berhasil.

"Ziya, kan kesayangan Mama Papa. Kalian tenang saja, ya. Ayo, mending cobain kue buatan Ziya!" Gadis itu tersenyum ceria saat kedua kakaknya itu terlihat menikmati camilan buatannya

Dalam hati Ziya tersenyum lic ik dan bergumam. "Gak bakal gue biarin, Lo balik lagi ke sini, Rey!"

BERSAMBUNG ...

Esklusif di KBM.

Judul ; Dibu ang Keluarga Dipu ngut Ceo kaya
Penulis; Ceaven

01/03/2026

"Alhamdulillah. Semoga Allah menjagamu dari fit nah digital, seperti materi ceramahnya tadi Mas. Dan aku percaya, meski Mas tidak pernah memposting kemes raan bersamaku dan a nak-a nak di media sosial, karena benar menurut Mas, khawatir menjadi do sa dan peny akit a in bagi yang melihat waj ahku,"

Bab 7

"Dus ta paling sempurna bukanlah saat kau membo hongi dunia, Abizar. Tapi saat kau sanggup berdiri di depan cermin, menatap ma ta mu sendiri, dan berkata bahwa kau masih or ang baik. Berapa banyak to peng yang kau bawa dalam tas dakwahmu hari ini?"

Suara Mauren lewat pesan teks itu menjadi sarapan pa hit bagi Abizar sebelum ia melangkah keluar ru mah. Pagi ini, Jakarta di ba lut ka but tip*s yang menya markan gedung-gedung tinggi, persis seperti ka but mo ral yang menyeli muti batin Sang Ustadz. Di ru ang tamu, Sarah sudah menyiapkan sorban hijau zamrud dan baju koko putih bersih yang disetrika dengan doa-doa yang tulus.

"Mas, ini sorbannya. Hari ini temanya tentang 'Menjaga Pandangan di Era Digital', kan? Materi yang sangat penting untuk zaman sekarang," ucap Sarah lembut, je marinya merapikan k erah baju suaminya, berusaha mere but kembali simpati suaminya.

Abizar membe ku. Kalimat Sarah terasa seperti sil et yang mengi ris ku litnya pe pelan-pelan. "Iya, Sarah. Itu fit nah terbesar umat saat ini. Layar ponsel adalah lubang kunci menuju nera ka jika tidak dijaga."

"Aku bangga padamu, Mas. Kau selalu menjadi benteng bagi kami semua. Semoga semua yang aku cemb urui itu tidak benar ya, Mas?,"

Abizar hanya mampu mengangguk. Ia merasa seperti sebuah bangunan megah yang pon da sinya sudah dimakan ra yap hingga kero pos. Ia menci u m ke ning Sarah—sebuah formalitas yang kini terasa ham bar, seperti meminum air laut untuk mengha pus daha ga.

---

Masjid Al-Falah penuh ses ak. Aroma parfum non-alkohol dan hawa sejuk dari pendingin ruangan menyambut kehadiran Abizar. Saat ia melangkah menuju mimbar, jamaah berdiri memberikan jalan dengan penuh hormat. Mereka melihat sesosok ulama muda yang bercahaya, seorang pembimbing jiwa. Mereka tidak melihat pria yang lima menit lalu di dalam mobil baru saja mengirimkan pesan: *"Aku merindukan cara kau menat apku tan pa hij ab, Mauren."*

Abizar duduk di atas mimbar kayu jati yang diukir indah. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan mikrofon, dan mulai membuka khotbahnya dengan hamdalah yang fasih.

"Jemaah yang dirahmati Allah... M ata adalah jendela ruh. Namun hari ini, jendela itu seringkali kita buka untuk pencu ri. Kita menjaga pandangan di jalan raya, tapi kita membiarkan m ata kita li ar di balik layar ponsel berukuran lima inci."

Suaranya menggele gar, penuh penekanan, dan tampak sangat meyakinkan. Di barisan depan, bapak-bapak t ua mengangguk-angguk takzim. Abizar melanjutkan dengan mengutip ayat-ayat tentang bagaimana anggota tu buh akan bersaksi di hari kiamat.

"Tan g anmu akan bicara, ma tamu akan bercerita! Kau mungkin bisa menyembu nyikan riwayat pencarianmu dari istrimu, tapi kau tidak bisa mengha pusnya dari catatan Malaikat Rakib dan Atid!"

Saat meneri akkan kalimat itu, jan tung Abizar seolah ingin melom pat keluar. Ia sedang mema rahi dirinya sendiri di depan ratusan o rang. Ia sedang menelan jangi bo roknya sendiri dengan ju bah kemuliaan. Inilah pu ncak dari skizofrenia spiritual: di mana li dah bicara tentang syurga, namun jem pol sedang mengetuk pintu nera ka.

---

Selesai ceramah, sesi tanya jawab dibuka. Seo rang pemuda mengangkat tan gan dengan waj ah geli sah.

"Ustadz, bagaimana jika kita sudah terlan jur jat uh dalam jeb akan perasaan virtual? Kita ta hu itu salah, tapi ha ti terasa begitu hidup saat berkomunikasi dengannya. Apa yang harus saya lakukan?"

Ruangan mendadak sunyi. Abizar mene lan lu dah. Pertanyaan itu adalah cermin yang diletakkan tepat di depan wa jahnya. Ia melihat pantulan dirinya yang penuh da ki di dalam ma ta pemuda itu.

"A nak muda," Abizar memulai dengan nada kebapakan yang dipak sakan. "Itu bukan cinta, itu can du. Set an menghiasi kemaks iatan agar terlihat seperti kebahagiaan. Pu tuskan semua ak ses. Ha pus nomornya. Blo kir akunnya. Karena jika kau memberi cel ah sedikit saja, dia akan merun tuhkan seluruh bangunan imanmu yang kau bangun bertahun-tahun."

"Tapi rasanya sangat be rat, Ustadz," sela pemuda itu.

"Lebih be rat mana, menahan rindu sesaat atau menahan a pi nera ka yang abadi?" jawab Abizar teg as.

Jamaah berde cak kagum. "Masya Allah," bisik mereka. Jawaban yang sangat solutif. Jawaban yang sangat ustadz. Namun, di balik meja mimbar, tangan ki ri Abizar mere mas ponsel di dalam sakunya. Ia merasakan get aran notifikasi. Ia ta hu itu dari Mauren. Dan ia ta hu, ia tidak akan pernah melakukan apa yang baru saja ia perintahkan kepada pemuda itu.

---

Di ru ang transit ustadz, Abizar duduk sendirian. Ia merasa energinya terku ras ha bis, bukan karena dakwah, tapi karena sa nd iwara. Ia mengel u arkan ponselnya. Ada sebuah foto yang dikirim oleh Mauren. Foto Mauren yang sedang tersenyum tip*s dengan tulisan: *"Hebat sekali ceramahnya tadi, Ustadz. Aku menontonnya lewat Live Streaming. Kau bicara tentang mengha pus nomor, ya? Kapan kau akan mengha pus nomorku?"*

Abizar memi jat pel ip*snya. Mauren adalah penonton setia dramanya, sekaligus sutradara di balik layar yang paling ke jam.

*Abizar: "Kau menontonnya? Kau ingin menghan cu rkanku di depan umum, hah?"*

*Mauren: "Tidak, aku hanya ingin kau sadar betapa indahnya waj ahmu saat berbo hong. Kau sangat berwibawa. Itu membuatku semakin ingin memilikimu secara utuh. Datanglah ke hot el tempat kita dulu mengi nap minggu depan. Aku sudah memesan ka mar yang sama."*

*Abizar: "Aku tidak bisa. Sarah mulai cur iga setiap kali aku keluar kota."*

*Mauren: "Gunakan lid ah ustadzmu itu untuk meyakinkannya. Katakan ada umat yang bu tuh pertolongan. Bukankah aku juga umatmu yang bu tuh 'pertolongan'?"*

Abizar menatap layar ponsel itu dengan rasa ben ci yang dalam, namun ia tidak bisa memat i kan layarnya. Ia telah menjadi tawa nan dari dua wa jahnya sendiri. Wa jah pertama adalah ustadz yang dipuja, dan w ajah kedua adalah pria pecun dang yang ha us akan validasi dari seorang wanita masa lalu.

---

Abizar pulang ke ru mah dengan perasaan ham pa. Di meja makan, Sarah sudah menunggu dengan senyum yang sama.

"Bagaimana ceramahnya hari ini, Mas?"

"Lancar. Banyak yang bertanya tentang fit nah digital."

"Alhamdulillah. Semoga Allah menjagamu dari apa yang kau ucapkan sendiri, Mas. Dan aku percaya, meski Mas tidak pernah memposting kemes raan bersamaku dan a nak-a nak di media sosial, karena benar menurut Mas, khawatir menjadi do sa dan peny akit ain bagi yang melihat wa jahku,"

Abizar terte gun. Kalimat Sarah terdengar seperti doa sekaligus kutu kan. Ia segera beranjak menuju ka mar m andi, ingin mencuci muk a nya, seolah-olah air bisa mengha pus sisa-sisa kemu nafikan yang menemp el di pori-pori k u litnya.

Saat ia melihat ke cermin wastafel, ia melihat dua sosok. Sosok ustadz dengan sorban hijau di ba hunya, dan sosok pria dengan ponsel di tan gannya yang sedang tersenyum li cik. Keduanya adalah dia. Dan ia tidak ta hu mana yang asli.

"Aku masih Abizar," bisiknya pada bayangan di cermin.

"Bukan," jawab bayangan itu kembali. "Kau adalah dua o rang yang sedang saling membu nuh di dalam satu raga."

Ponselnya berget ar lagi di atas wastafel. Nama **Ustadz Mansyur** muncul di layar. Abizar mengambilnya, ja rinya mengge ser ikon hijau.

"Ya, ada apa?" tanya Abizar pelan, suaranya berubah menjadi lembut dan penuh rahasia.

"Hanya ingin memastikan, ustadzku yang tampan... apakah kau sudah merindukanku lebih dari kau merindukan istrimu?"

Abizar terdiam, menatap pintu ka mar mandi yang tertutup. Di luar sana ada Sarah, di sini ada Mauren, dan di tengah-tengahnya ada jiwanya yang sedang terb akar perlahan tanpa asap.

"Iya," jawab Abizar lirih. "Aku merindukanmu."

Dua wa jah itu kini resmi menjadi satu: w ajah seorang pengkhi anat yang sangat pandai berdoa.

---
Judul: Jejak Dosa Dalam Genggaman
Penulis: MUNTAHA H. S SKMM
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App.

01/03/2026

Aku bek erja siang malam demi memba yar operasi.
Namun di balik pung gungku,
mertuaku memasukkan perem puan lain ke dalam ru mah ku.
Dan seseorang di kantor pusat…
sudah lama memasang jaring untukku.
Pertanyaannya sekarang—
aku ko rban?
atau bi dak?

🌹🌹🌹🌹

Part 2 Jer at Yang Merapat

Lampu neon koridor rum ah sa kit berkedip tidak stabil, menciptakan bayangan panjang yang seolah hendak mene lan Galih.

Ia duduk di kursi tunggu kayu yang keras, menatap ta ngannya yang masih menyisakan be kas no da da rah kering di sela ku ku. Aroma karbol yang ta jam menu suk paru-parunya, memicu mu al yang sedari tadi ia tahan.

"Mbak, makanlah sedikit. Dari semalam Mbak hanya minum air mineral," Galuh menyodorkan sebungkus roti, wa jah adiknya itu tampak kuyu.

Galih menggeleng le mah. Suaranya s erak, hampir hila ng.

"Bagaimana aku bisa makan, Galuh? Mas Satrio di dalam sana... dia kehilangan ka kinya. Dan dia menyalahkanku."

"Mbak tidak bisa terus menyalahkan diri sendiri. Aku ada di sana, aku dengar Mas Satrio berteri ak-teri ak soal ponsel dan Erlangga.
Dia yang menarik setir itu, Mbak! Itu bukan kelala ianmu, itu kegil aannya!"

"Ssst! Pelankan suaramu," bisik Galih sambil melirik pintu ka mar ra wat yang tertutup rapat.

"Pak Hendarso tidak boleh dengar. Dia sudah cukup mur ka padaku."

Galuh menghela napas panjang, duduk di samping kakaknya.

"Mbak harus balik ke kantor pagi ini, kan? Ada audit besar dari pusat. Biar aku yang jaga Mas Satrio di sini. Aku sudah minta izin cu ti kuliah dua hari."

Galih menatap adiknya dengan rasa syukur.
Sebagai Manajer Ke uan gan, ia tahu ta gihan ru mah sak it VIP tidak bisa diba yar hanya dengan air ma ta.

"Terima kasih, Galuh. Aku benar-benar harus ke kantor. Biaya op erasi ini... tab unganku tidak akan cukup kalau aku sampai kehila ngan posisi di kantor."

Pukul sepuluh pagi, Galih sedang berge lut dengan tumpukan dokumen saat ponselnya bergetar he bat. Nama 'Galuh' berke dip. Jan tung Galih mencelos.

"Halo, Galuh? Ada apa?"

"Mbak... Mbak harus ke sini," suara Galuh terdengar gem etar, seperti menahan ta ngis.

"Mas Satrio... dia menga muk. Dia bilang aku tidak be cus."

Tanpa memedulikan tatapan heran rekan kantornya, Galih menyam bar tasnya dan berlari menuju parkiran.

Ia tidak menyadari, di sudut area parkir kantor, seorang pria berjaket driver ojek online yang sedang duduk santai di atas motornya, diam-diam memotret mobil Galih yang melaju pergi dan mengirimkannya ke sebuah nomor pribadi.

Begitu sampai di ka mar ra wat, pemandangan di depannya menghan curkan h ati Galih. Nampan makanan berse rakan. Bubur sumsum tum pah mengoto ri lantai putih, dan Galuh berdiri di sudut ruangan dengan m ata merah, mem egang serbet yang ba sah.

"Aku cuma mau menyua pinya, Mbak. Tapi Mas Satrio mene p*s mangkuknya sampai p ecah," bisik Galuh pelan.

"Sengaja! Dia sengaja mau membuatku tersed ak! Dia mau aku m ati cepat supaya kalian bisa beb as, kan?!"

Satrio berteri ak dari atas ra njang. Wa jahnya pu cat, mat anya memancarkan kemar ahan yang lia r.

"Mas, istighfar... Galuh hanya ingin membantu," Galih mendekat, mencoba menyen tuh ta ngan Satrio, namun suaminya menyent ak kas ar.

"Membantu? Adikmu ini am atir! Dia ka sar sekali saat mengel ap ba danku! Kalian memang tidak pernah tulus mengurusku!"

Di saat itulah, pintu ka mar terbuka. Pak Hendarso masuk dengan napas membu ru. Ia melihat kekacauan di lantai dan langsung menunjuk wa jah Galuh.

"Apa yang kamu lakukan pada a nakku?! Kamu mau menyiks anya pelan-pelan karena dia sudah tidak bisa berjalan?!"

"Tidak, Pak Hendarso. Saya hanya—"

"Diam kamu! Galih, ini yang kamu sebut bantuan?" Hendarso menatap Galih dengan hinaan yang ke ntal.

"Kamu tinggalkan suamimu yang cacat ini dengan a nak kecil hanya demi mengejar u a n g? Kamu benar-benar istri yang tidak punya ha ti!"

"Ayah, aku harus bek erja untuk memba yar semua ini..."

"Cukup! Aku sudah mu ak melihat ketidakbecusan kalian!"

Hendarso memu kul meja.

"Kalian berdua hanya tahu cara menya kiti Satrio. Dia butuh tenaga profesional. Bukan adikmu yang cero boh atau istri yang pikirannya hanya ada di kantor!"

"Maksud Ayah, aku harus se wa suster dari sini?"

"Suster rum ah sa kit itu ma hal dan mereka punya banyak pasien lain.

"An akku butuh perhatian penuh!" Hendarso mengeluarkan ponselnya.

"Aku sudah bicara dengan sahabat lamaku di kampung. Dia punya an ak perempuan, lulusan pera wat. Namanya Eka. Dia an ak yang penurut dan sopan."

Galih tertegun. "Eka? An ak Om Haris?"

"Ya. Besok aku akan menjem putnya. Dan dia tidak hanya akan menjaga Satrio di sini, tapi juga akan ikut tinggal di ru mah untuk memastikan pemul ihan Satrio berjalan sempurna."

"Tinggal di ru mah kita?" Galih terse ntak.

"Ayah, itu tidak perlu. Aku bisa mengatur waktu..."

"Mengatur waktu katamu? Lihat ini!" Hendarso menunjuk bubur yang berse rakan. "Ini buktinya kamu ga gal! Jangan memban tah lagi, Galih. Eka adalah solusinya. Atau..."

Hendarso merendahkan suaranya, masuk ke zona anc aman.

*Atau aku akan membawa Gunara tinggal bersamaku. Aku tidak su di cucuku diasuh oleh ibu yang lal ai!"

Galih merasa dunianya miring. Nama Gunara adalah kartu ma ti. Ia menatap Satrio, namun suaminya justru membua ng m uka.

"Aku setuju dengan Ayah," ucap Satrio dingin.

"Aku tidak mau disen tuh oleh Galuh lagi. Biarkan Eka yang datang. Setidaknya dia tidak punya niat untuk mem bu nuh ku."

Galih terduduk le mas. Ia tidak punya pilihan selain mengangguk.

Kantor Pusat Baskara – Pukul 17.00 WIB
Sebuah tablet diletakkan di atas meja jati besar.

Di layarnya, terpampang foto Galih yang sedang berlari menuju mobilnya dengan w ajah k alut, serta laporan singkat mengenai insiden bubur di rum ah sa kit.

Baskara menyandarkan pun ggungnya di kursi kuli t mewah. Ia tidak menatap layar itu, melainkan menatap pemandangan kota dari jendela lantai 40. Pikirannya melayang pada sebuah pesta perusahaan lima tahun lalu, di mana ia melihat seorang kar yawan biasa dengan m ata yang penuh tekad, berdiri tegak di samping suaminya yang sibuk menge luh soal makanan.

"Jadi, mertuanya mulai memasukkan orang luar ke ru mah itu?" tanya Baskara tanpa menoleh.

"Benar, Pak. Seorang pera wat bernama Eka akan tiba besok," jawab seorang asisten pria yang berdiri tegak di belakangnya.

Baskara memutar kursinya, menatap foto Galih. M atanya tidak menunjukkan rasa ka sihan, melainkan ketertarikan yang dingin.

Selama ini dia membantu menaikkan jabatan Galih secara halus tanpa wanita itu tahu, semata-mata agar Galih punya "pe dang" sendiri untuk membela diri. Tapi sekarang, mu suh Galih bukan lagi soal karier, melainkan jer at domestik yang mema tikan.

"Terus awasi dia. Jangan sampai kehilangan jejak. Hendarso bukan orang bo doh, dia sedang membangun tembok untuk mengisolasi wanita itu."

Baskara mengetukkan j arinya ke meja. "Aku ingin tahu, seberapa han cur Galih sebelum dia akhirnya menyadari bahwa keselamatannya hanya ada di ta nganku."

Langkah Hendarso berhasil mengunci Galih melalui Eka. Namun, Galih belum tahu bahwa jabatan yang ia banggakan—yang menjadi pemicu kebencian Satrio—ternyata adalah jaring pengaman yang dipasang oleh Baskara selama bertahun-tahun.

Judul: Milik Sang Penguasa
Penulis Anyelir Sarimbit
Cerita selengkapnya hanya di KBM AAP

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Bandar?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Website

Address

Bandar