Sophie Paris Comunity Betung ,Banyuasin
Informações para nos contactar, mapa e direções, formulário para nos contactar, horário de funcionamento, serviços, classificações, fotos, vídeos e anúncios de Sophie Paris Comunity Betung ,Banyuasin, Saúde/Beleza, jln Raya palembang-jambi Betung Banyuasin Sumatera Selatan, Macao.
Angkatan 66
1. Keluarga Gerilya dan Perburuan (novel karya Pramudya Ananta Toer)
2. Jalan Tak Ada Ujung, Tak ada Esok, dan Harimau! Harimau! (novel Moechtar Lubis)
3. Keluarga Permana dan Royan Revolusi (novel karya Ramadan K.H.)
4. Tirani dan Benteng (antologi puisi karya Taufiq Ismail)
5. Blues untuk Bonie dan Balada Orang-Orang Tercinta (antologi puisi karya WS Rendra)
6. Etsa (antologi puisi karya Toto Sudarto Bachtiar)
7. Buku Puisi (antologi puisi karya Hartojo Andangdjaja)
8. Domba-Domba Revolusi (naskah drama karya B. Soelarto)
9. Para Priyayi (novel karya Umar Kayam)
10. Mata Pisau dan Perahu Kertas (antologi puisi Supardi Joko Damono)
Perbedaan, Ciri-ciri dan Contoh Karya Sastra pada Setiap Angkatan
Ø Angkatan ’20-an atau Angkatan Balai Pustaka
Disebut Angkatan Dua Puluhan karna novel yang pertama kali terbit adalah novel Azab dan Sengsara yang diterbitkan pada tahun 1921 oleh Merari siregar. Disebut p**a sebagai Angkatan Balai Pustaka karna karya-karya tersebut banyak diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka.
· Contoh ciri-ciri dan karya penting pada angkatan ’20-an
Cirri-ciri
Karya Penting
pengarang
Puisinya berupa syair dan pantun
Alirannya bercorak romantic
Soal kebangsaan belum mengemuka
Gaya bahasa masih menggunakan perumpamaan
Azab dan Sengsara
Merari Siregar
Sitti Nurbaya
Marah Rusli
Salah Asuhan
Abdul Muis
Sengsara Membawa Nikmat
Tulis Sutan Sati
Ø Angkatan ’30-an atau Angkatan Pujangga Baru
Istilah Angkatan Pujangga Baru untuk karya-karya yang lahir tahun ’30-’40-an, diambil dari majalah Pujangga Baroe yang terbit tahun 1933. Disebut sebagai Angkatan Tiga Puluhan sebab sngkatan ini lahir pada tahun ’30-an.
· Contoh ciri-ciri dan karya penting pada angkatan ’30-an
Cirri-ciri
Karya Penting
pengarang
Dinamis
Individualistis
Tidak persoalkan tradisi sebagai temanya
Hasil karya bercorak kebangsaan
Layar Terkembang
S.T. Alisyahbana
Belenggu
Armin Pane
Indonesia Tumpah Darahku
Muhammad Yamin
Nyanyian Sunyi & Buah Rindu
Amir Hamzah
Ø Periode ‘45
Disebut juga sebagai Angkatan Chairil Anwar kerna perjuangan Chairil Anwar dalam melahirkan angkatan ’45 ini. Disebut juga sebagai angkatan kemerdekaan karna dilahirkan pada tahun Indonesia memproklamirkan kemerdekaan.
· Contoh ciri-ciri dan karya penting pada periode ‘45
Ciri-ciri
karya
pengarang
Bebas
Individualistis
Universitalitas
realitas
Aku
Chairil Anwar
Tiga Menguak Takdir
Chairil Anwar, Asrul Sani, Riayi Apin
Atheis
Achdiat Karta Mihardja
Dari Ave Maria ke Jalan Lain Roma
Idrus
Surat Kertas Hijau dan Wajah Tak Bernam
Sitor Situmorang
Ø Angkatan ‘66
Nama Ankatan ’66 dicetuskan oleh Hans Bague Jassin melalui bukunya yang berjudul Angkatan ’66 bersamaan dengan kondisi politik Indonesia yan tengah kacau akibat PKI.
· Contoh ciri-ciri karya penting pada Angkatan ‘66
Ciri-ciri
Karya
pengarang
Kebanyakan tentang protes terhadap social dan politik
Mulai dikenal gaya epic pada puisi
Banyak penggunaan gaya retorik dan slogan
Cerita dengan berlatar perang
Pagar Kawat
Berduri
Toha Mochtar
Tirani dan Benteng
Taufiq Ismail
Pariksit
Goenawan Mohammad
Para Priayi
Umar Kayam
Mata Pisau dan Peluru Kertas
Supardi Joko Damono
Ø Angkatan ’70-an
· Sekitar tahun ’70-an, muncul karya-karya sastra yang lain dari sebelumnya yang dimana tidak menekankan pada makna kata yang kemudian digolongkan kedalam jenis sastra kontemporer.
Contoh ciri-ciri dan karya penting pada angkatan ’70-an
Ciri-ciri
karya
pengarang
Diabaikannya unsur makna
Penuh semangat eksperimentasi
Beraliran surealistik
Dalam drama, pemain sering improvisasi
O, Amuk, Kapak
Sutardji Calzoum Bachri
Hukla
Leon Agusta
Wajah Kita
Hamid Jabar
Catatan Sang Koruptor
F. Ibrahim
Dandandik
Ibrahim Sattah
Ø Angkatan ’80-an
Karya sastra Indonesia pada setelah tahun 1980 ditandai dengan banyaknya roman pecintaan karya sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut.
· Contoh ciri-ciri dan karya pada Angkatan ’80-an
Ciri-ciri
karya
pengarang
Didominasi oleh roman percintaan
Konvensional : tokoh antagonis selalu kalah
Tumbuh sastra beraliran pop
Karya sastra tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum
Pulau Buru
Pramoedya Ananta Toer
Burun- Burung Manyar
Y.B Mangun Wijaya
Boko
Darman Moenir
Ronggen Dukuh Paruk
Ahmad Tohari
Lupus
Hilman Hariwijaya
Ø Angkatan Reformasi
Munculnya ankatann ini ditandai dengan dengan maraknya karya sastra yang bertemakan seputar reformasi. Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan social dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru.
· Contoh ciri-ciri dan karya pada Angkatan Reformasi
Ciri-ciri
karya
pengarang
Bertemakan social-politik
Penuh kebebasan ekspresi dan pemikiran
Menampilkan sajak-sajak peduli bangsa
Religious dan nuansa sufistik
Puisi Pelo
Widji Thukul
Resonansi Indonesia
Ahmodun Yosi Herfanda
Di Luar Kota
Acep Zamzam Noer
Abad yang Berlari
Afrizal Malna
Opera Kecoa
N. Rianto
Ø Angkatan 2000
Angkatan ini ditandai dengan oleh karya-karya yang cenderung berani an vulgar dan kebanyakan mengadopsi begitu saja moral pergaulan bebas ala remaja Amerika. Tetapi pada masa ini, muncul jua fiksi-fiksi islami.
· Contoh ciri-ciri dan karya pada Angkatan 2000
Ciri-ciri
karya
Angkatan
Karya cenderung vular
Mulai bermunculan fiksi-fiksi islami
Muncul cyber sastra di internet
Bahasa kerakyatjelataan
Saman
Ayu Utami
Atas Nama Malam
Seno umira Ajidarma
Supernova
Dewi Lestari
Pulau Cinta di Peta Buta
Raudal Tanjung Banua
Ayat-Ayat Cinta
Habiburrahman El-Shirazy
Novel Pada Sebuah Kapal, NH Dini (Kajian Prosa)
ABSTRAK
Saya mengkaji karya sastra N.H. Dini yang berjudul Pada Sebuah Kapal, dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik adalah pendekatan kajian sastra yang menitikberatkan kajiannya terhadap peranan pembaca dalam menerima, memahami, dan menghayati karya sastra. Menurut saya karya ini perlu dikaji dengan pendekatan pragmatik karena karya N.H. Dini yaitu Pada Sebuah Kapal termasuk dalam karya yang best seller sehingga banyak para kritikus sastra mengomentarinya.
Di dalam makalah ini menjelaskan unsur intrinsik dalam novel Pada Sebuah Kapal yang disertai oleh kutipannya untuk lebih jelas. Dan mengetahui pendapat para kritikus dan peneliti majalah beserta komentar-komentarnya agar kita mengetahui mereka pro, kontra atau negosiasi yang cenderung menerima atau menolak.
Banyak kritikus yang kontra terhadap novel ini tapi banyak juga yang pro seperti Ali Akbar Navis juga berpendapat dalam makalahnya terhadap makalah Satyagraha Hoerip, bahwa NH. Dini memang berhasil memikat perhatiannya sehingga ia merasa enggan untuk melepaskan novel tersebut sebelum tamat membacanya.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam perkembangan sejarah karya sastra di Indonesia yang relatif masih sangat singkat, tetapi telah dapat melahirkan banyak pengarang yang memiliki kreativitas yang tinggi dan best seller. Perkembangan yang begitu pesat membuat semakin bersemangat untuk menciptakan karya-karya yang bagus, mayoritas pengarang adalah pria tetapi wanita ingin membuktikan keberadaan mereka dengan tidak kalah membuat karya-karya yang bagus dan dapat bersaing salah satunya adalah N.H Dini. Dan ia dinobatkan menjadi sastrawan angakatan 66. Dalam sejarah pengarang wanita Indonesia, barangkali hanya N.H. Dini-lah yyang mempunyai reputasi nilai tinggi dalam karya-karyanya. Buktinya dengan novelnya Pada Sebuah Kapal , ia sukses dengan mendapatkan “best seller”, di samping karya-karyanya yang lain. Dan sampai sekarang tidak ada yang menyainginya, baik kekreatifan maupun dalam mutu.
Saya mengkaji karya sastra N.H. Dini yang berjudul Pada Sebuah Kapal, dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik adalah pendekatan kajian sastra yang menitikberatkan kajiannya terhadap peranan pembaca dalam menerima, memahami, dan menghayati karya sastra.[1] Menurut saya karya ini perlu dikaji dengan pendekatan pragmatik karena karya N.H. Dini yaitu Pada Sebuah Kapal termasuk dalam karya yang best seller sehingga banyak para kritikus sastra mengomentarinya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana unsur intrinsik pada novel Pada Sebuah Kapal karya N.H. Dini?
2. Bagaimana pandangan para kritikus mengenai novel Pada Sebuah Kapal?
C. Tujuan
1. Dapat memahami unsur-unsur intrinsik novel Pada Sebuah Kapal karya N.H. Dini
2. Dapat mengetahui pandangan para kritikus mengenai novel Pada Sebuah Kapal karya N.H. Dini.
BAB II
BIOGRAFI PENGARANG
Nama lengkap Nh.Dini adalah Nurhayati Srihardini, lahir di Semarang , Jawa Tengah tanggal 29 Februari 1936. Ia sekarang bermukim di kota Paris, karena Dini menikah dengan seorang Diplomat dari Perancis yang mengharuskannya mengikuti pekejaan suaminya untuk menetap tinggal. Nh. Dini yang lebih dikenal Madame Coffin, mula-mula Dini menulis puisi-puisi dan sebuah drama untik sandiwara radio di kota kelahirannya tahun 1952. Pada tahun 1955 ia memperoleh kemenangan dari Festival Teater se-Jawa Tengah atas sandiwara radionya yang berhudul “ Kota”. Kemudian tahun 1956 ia mengarang berbagai roman kehidupan yang dibukuna oleh Pustaka Jaya sampai tahun 1981 ia telah menghasilkan sembilan buah yang dibukukan.[2] Dini menulis sajak dan prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang ketika usianya 15 tahun. Sejak itu ia rajin mengirim sajak-sajak ke siaran nasional di RRI Semarang dalam acara Tunas Mekar. Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand ini sudah terlanjur dicap sebagai sastrawan di Indonesia, padahal ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya. Ia digelari pengarang sastra feminis.
Dalam karya-karya yang dihasilkan Dini misalnya cerpen-cerpennya menunjukkan pehatiannya yang besar terhadap kepentingan sosial yang terjadi disekelilingnya.[3] Dini menikah dengan seorang Diplomat Perancis dan pernah tinggal di Jepang dan ia menulis sebuah roman yang berjudul Hiroku ini p**a diterbitkan dalam bahasa Perancis dalam salah satu majalah di Paris. Dari Jepang ia mengikuti suaminya ke Perancis ia pun tetap menulis dan menyelesaikan roman La Barka Dan Pada Sebuah Kapal yang telah p**a diumumkan dalam majalah Sastra dan Horison. Pada Sebuah Kapal yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya di Jakarta, menurut H.B Jassin kritikus sastra pada tahun tersebuat belum banyak yang mengkaji Pada Sebuah Kapal tapi yang cukup mengembirakan adalah dibandingkan denga roman-roman ynag terbit sesudah tahun 60-an , Dini yang paling cepat mendapat sambutan dari pembacanya.
BAB III
UNSUR INTRINSIK KARYA
A. Sinopsis
Novel ini menceritakan tentang keadaan sebuah rumah tangga yangberada di ambang perceraian. Perselingkuhan yang dilakukan istri,komunikasi yang macet, adalah penyebab persoalan itu. Dengan keteguhan hati dan keangkuhannya, sang suami berupaya mempertahankan rumah tangga mereka meski ia selalu diberondong oleh tuntutan cerai istrinya. Sementara istrinya terus meneruskan perselingkuhannya dengan pria yang juga sedang menghadapi persoalan yang sama, tidak bahagia dalam rumah tangganya. Sri adalah seorang gadis yang lincah, aktif, dan ramah. Ia seorang penari yang bekerja sebagai penyiar di Radio Republik Indonesia (RRI) di daerah Semarang. Kemudian ia melamar menjadi seorang pramugari. Sejauh ini perjalanannya mengikuti seleksi berjalan lancar hingga ia harus menjalani seleksi lanjut di Jakarta. Namun sayang, proses seleksi yang diikutinya harus terhenti karena ia tidak lolos ketika menjalani tes kesehatan. Betapa kecewa hatinya.Secara kebetulan, Sri mendapat tawaran menjadi seorang wartawan disebuah majalah, tetapi ditolaknya tawaran itu karena ia lebih tertarik menjadi penyiar RRI di Jakarta. Di sela-sela menjadi penyiar itulah Sri masih meneruskan kegemarannya menari. Berbagai undangan menari ia hadiri, bahkan pernah p**a ia diundang menari ke istana Negara. Tujuh bulan ia menjadi penyiar di Jakarta tepat saat itu ibunya yang tinggal di Semarang meninggal dunia.Berbekal keramahan dan kelincahannya, Sri banyak menarik perhatian pemuda-pemuda di Jakarta. Di antara sekian banyak pemuda yang menyatakan cinta, Sri hanya menjatuhkan pilihan pada seorang pemuda bernama Saputro. Saputro adalah seorang pilot. Hubungan kasih mereka tampaknya sangat serius dan mereka merencanakan untuk segera menikah. Namun apa mau dikata, Saputro dikabarkan mengalami kecelakaan pesawat ketika terbang. Begitulah kegagalan membangun rumah tangga bersama Saputra membawa Sri pergi ke Yogyakarta. Lelaki berikutnya yang mencobamendekatinya antara lain: Yus – seorang pelukis, Carl – orang asing yangbertugas mendampingi mahasiswa. Namun kedua orang itu tidak dapat membuat Sri melupakan bayangan Saputro.Adalah seorang diplomat Perancis bernama Charles Vincent. Lelaki inilah yang kemudian dapat mencairkan kebekuan hati Sri. Sikapnya yanglembut, perhatian membuat Sri secara serius menjalin hubungan denganlelaki itu. Meski keluarga Sri tidak sepakat, Sri tetap menikah denganVincent.Apa yang dinasihatkan keluarganya ternyata benar-benar terjadi. Setelahmenikah sikap Vincent berubah. Ia bukan lagi seorang lelaki yang lembutdan berperhatian, tetapi berubah menjadi lelaki yang egois, kasar, dantidak mau msengalah. Pernikahan Sri dengan Vincent sangat tidak bahagia.Pertengkaran hampir setiap hari terjadi. Pertengkaran itu berlanjut terushingga kelahiran anak pertama mereka.Anggapan Sri akan lebih baik rumah tangganya setelah anak pertama mereka lahir ternyata salah. Pertengkaran tetap terus terjadi.Ketidakcocokan ini sangat tampak ketika mereka mengadakan perjalanan ke Perancis. Vincent mendapat cuti, maka mereka berkeinginan p**ang kePerancis. Apa yang terjadi? Perjalan ke Perancis suami istri ini dilakukan dengan sangat aneh. Sang suami dan anaknya pergi ke Perancis dengan naik pesawat, sementara Sri, sang istri melakukan perjalanan dengankapal laut.Perjalanan dengan kapal inilah awal terjadinya perselingkuhan yang dilakukan Sri. Di atas kapal itu Sri berkenalan dengan seorang pelaut bernama Michel Dubanton. Michel adalah lelaki Perancis. Karena perjalanan dengan kapal menuju Perancis cukup memakan waktu, makasharinglah dua orang – lelaki dan wanita ini untuk mengusir kejenuhan. Srimenceritakan perkawinannya dengan Vincent yang tidak bahagia,sementara Michel juga menceritakan kehidupan rumah tangganyabersama Nicole yang selalu diliputi rasa cemburu berlebihan. Dua orangyang mengalami persoalan rumah tangga, bertemu pada sebuah kapaldalam perjalanan menuju Perancis yang membutuhkan waktu cukup lama,itulah awal munculnya bahagia karena istrinya sangat pencemburu, sehingga ia tidak boleh bergaul dan dekat-dekat dengan wanita lain. Sebelum menjadi pelaut, Michel adalah seorang tentara yang pernah pergi berperang di Jerman. Perjumpaan dengan Sri yang masih cukup menarik, ramah, dan terbuka membuat Michel merasa menemukan wanita yang selama ini iarindukan. Sementara dari pihak Sri, Michel adalah sosok lelaki yang romantis, lembut, dan sangat perhatian sebagaimana ia idamkan selamaini. Sri jatuh cinta pada Michel, pun Michel jatuh hati pada Sri. Di atas kapal itu, perbuatan layaknya suami istri mereka lakukan berkali-kalitanpa ada rasa bersalah diantara keduanya.Sesampai di Perancis, Sri yang telah menemukan sosok Michel lelaki yangsangat diidam-idamkan, selalu membandingkan suaminya, Vincent dengan Michel. Segeralah ia dengan gampang membuat perbedaan yang sangat menyolok diantara keduanya. Secara diam-diam, Sri dan Michel tetapmenjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Hubungan mereka pun berlanjut saat Vincent ditugaskan ke Jepang. Kehidupan rumah tangga Sri di Jepang tidak kunjung membaik hingaakhirnya Sri mengajukan cerai pada Vincent. Namun gugatan Sri ini tidakditanggapi oleh suaminya. Akibatnya, perselingkuanan Sri dengan Michelsemakin menjadi-jadi. Bahkan Michel memohon kepada atasannya untuk dipindah tugaskan ke Jepang agar ia bisa selalu dekat dengan Sri.Selesai bertugas di Jepang, Vincent kembali bertugas ke Perancis. Michel pun meminta pada atasanyya agar membatalkan tugasnya di Yokohamadan diganti dengan tugas sebagai pelaut di daerah pelayaran Perancis.Begitulah perjumpaan dan perselingkuhan antara Sri dengan Michel semakin menjadi-jadi.
Unsur-unsur intrinsik dalam novel Pada Sebuah Kapal adalah :
1. Sudut Pandang
Sudut pandang dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama tokoh “aku” yaitu tokoh terlibat langsung, memandang, mengalami, mendeskripsikan dan menceritakan hal dan kejadian yang terjadi. Tetapi dalam novel ini ada dua sudut pandang yang sama-sama memakai bentuk persona “aku”. Dilihat dari kutipan:
a. Tokoh “aku” yaitu Sri.
“Umurku tiga belas tahun waktu ayahku meninggal”.[4]
b. Tokoh “aku” yaitu Michel.
“Aku kembali ke anjungan. Komandan telah turun makan. Dua perwira dan aku meneruskan pengawasan”.[5]
2. Tema
Tema yang diangkat dalam novel ini adalah gambaran umum dari seorang wanita yang tidak seharusnya dimonopoli oleh kaum pria. Dilihat dari kutipan berikut:
“Dariku mulai tumbuh keberanian untuk menyangkal beberapa pendapatnya,.......aku telah berubah. Aku merasa diriku telah berubah karena aku mau berubah”.[6]
3. Latar
a. Tempat
Salatiga
“Waktuku di Salatiga cepat berlalu”.[7]
Semarang
“Kakakku yang sulung dan suaminya menjemputku untuk kembali ke Semarang”.[8]
Jakarta
“Bulan berikutnya aku ke Jakarta. Kotanya panas waktu itu”[9]
Bandung
“Ini adalah yang kedua kalinya aku ke Bandung. Kotanya memikat.”[10]
Kobe
“Kami menghabiskan musim panas di Kobe”.[11]
Kapal laut
“ Charles akan melepaskan kami, anakku dan aku, dengan sebuah kapal”.
b. Waktu
Latar waktu di dalam novel tidak disebutkan secara gamblang, tapi kami merujuk pada tahun pembuatan novel sekitar tahun 1960-an.
4. Alur
Alur yang digunakan adalah alur campuran, karena tokoh “aku” (Sri dan Michel) menceritakan kisah yang sudah lewat dan menceritakan kisah yang terjadi pada saat itu terjadi. Kutipan dilihat dari:
“Umurku tiga belas tahun waktu ayahku meninggal”[12]
“Sepuluh bulan kemudian aku kawin dengan Charles Vincent”.[13]
Awal
Konflik
Klimaks
Akhir
Penyelesaian
Sri adalah seorang wanita yang ingin banyak pengalaman karena Sri jenuh dengan kegiatan dan pekerjaannya di Semarang.
Laki-laki yang bermimpi ingin menjadi komandan kapal dan mengarungi lautan agar dapat merasa bebas
Tunangannya yang sangat dicintainya meninggal dalan kecelakaan pesawat.
Menikah dengan laki-laki kasar yang tidak dicintainya sama sekali.
Menikahi wanita tetangganya yang usianya lima tahun lebih tua disbanding dirinya
Selingkuh dengan komandan kapal pada saat perjalanan liburannya.
Selingkuh dengan seorang wanita Asia yang sikapnya lembut dan penyayang berbeda dengan isterinya yang kasar dan cerewet.
sri meminta cerai kepada suaminya karena tidak tahan dengan pertengkaran-pertengkaran yang ada di rumahtangganya. Namun suaminya menolak dengan alasan anak.
Michel memutuskan pindah kerja di darat agar dapat dekat dengan Sri, wanita lembut yang sangat dicintainya.
Mereka sama-sama menyadari bahwa mereka memiliki pasangan masing-masing namun apabila Michel ke Jepang mereka tetap dapat bertemu. Sri tetap mencintai Michel walaupun Michel jarang berada di darat.
5. Tokoh dan Penokohan
a. Sri (aku)
Tokoh aku berfungsi sebagai narrator. Ia seorang wanita yang giat bekerja, pemalu (waktu kecil), dan wanita yang berkarakter menjunjung tinggi emansipasi.
“Aku amat pemalu. Aku berbicara hanya untuk menjawab pertanyaan yang patut dijawab”.[14]
b. Sutopo
Tokoh Sutopo adalah kakak ke empat dari Sri, di dirinya mengalir darah seni dari Ayahnya. Ia berbakat dalam menggambar dan melukis, Sutopo orang yang paling dekat dan juga lebih mengerti Sri.
“Kau harus ingat kesehatanmu. Kalau kau belum mengenal pekerjaan itu lebih baik kau tolak.bukan Karena aku berpikir kau tidak akan bias mengerjakannya, tapi karena kau akan terpaksa mempergunakan kekuatan pikirannmu untuk itu. Ini aku tidak setuju. Kau baru saja sembuh. Menurut pendapatku kau lebih baik ke radio lagi. Ka’u akan tetap mempunyai waktu untuk dirimu sendiri. Buat menari lagi misalnya”.[15]
c. Michel
Tokoh Michel muncul pada akhir novel ini, digambarkan seorang pria yang memiliki pribadi tidak ambil pusing dalam hal masalah. Tetapi disini juga digambarkan pria yang kesepian akibat tidak menemukan kebahagiaan dirumah tangganya karena isteri yang dinikahinya menjadi seorang yang sangat cerewet dan banyak menuntutnya, ia mengidam-idamkan istri yang mengerti dirinya.
“Apakah aku bahagia selama ini? Pertengahan bulan ini umurku akan mencapai tiga puluh tujuh tahun. Seorang isteri dan dua anak laki-laki serta sebuah rumah. Saat aku berlayar ke Timur Jauh, isteriku tidak pernah lupa memberiku sebuah daftar panjang berisi barang yang harus kubeli untuknya dan untuk kawan atau keluarganya. Kukatakan harus, karena apa yang kuperbuat untuknya kini merupakan keharusan yang tidak mengenakan perasaanku. Itu kukerjakan dengan ketidaksenangan di hati. Selama delapan tahun yang terakhir ini aku hidup dengan urutan-urutan seperti sebuah mesin. Pada saat-saat aku tinggal bersama keluargaku selama sebulan atau lebih, aku tidak lagi merasa bahwa aku berada di rumah sendiri. Aku merasa bebas dan bisa berbuat apa yang kukehendaki di atas kapal yang membawaku”.[16]
Michel juga seorang laki-laki yang lembut dan s**a membantu pekerjaan ibu dan kakak perempuannya.
“Kalau kulihat salah seorang dari mereka mengerjakan pekerjaan yang agak kasar, aku dengan keikhlasan yang sederhana dan tulus menolongnya tanpa diminta”[17].
d. Nicole (Isteri Michel)
Seorang wanita yang cantik dan menarik. Dan merupakan kawan sekolah dari kakak perempuan Michel
“Wajahnya tidak jelak, malahan bias dikatakan cantik, dengan bentuk mulut yang tipis menarik”.[18]
Isteri yang cerewet dan bicaranya kasar kepada Michel.
“Sikapnya yang cerewet dan seperti seorang kanak-kanak tanpa pendidikan betul-betul memuakkanku”.[19]
Tidak mau mengerti suaminya yang ingin bercerita dan berbagi keluh kesah kepadanya sebagai seorang teman atau sahabat.
“Dan pada waktu yang lain, kalau aku mengeluh karena sakit kepala, dengan serta-merta dia akan menyahut bahwa dia juga tidak enak badan. Seolah dia menolak kita, seolah dia hendak menunjukkan bahwa dia lebih sengsara daripada kita”.[20]
e. Charles (Suami Sri)
Laki-laki yang kasar dan pelit.
“Pengeluaran uang untuk makan dan barang-baang kecil lainnya yang kubutuhkan dieriksanya dengan ketelitian yang pelit. Bila ada sesuatu di rumah yang tidak disetujuinya, kemarahannya meluap dengan kasar dan berlebihan”.[21]
Pada dasarnya Charles adalah laki-laki yang setia.
“Kau yang semanis ini tidak mungkin membuat Charles berbuat serong”.[22]
f. Narti (Teman Sri sewaktu sekolah rakyat di Semarang)
“Narti. Dulu yang duduk di bangku di depanmu. Sampai kelas lima aku pindah ke Bandung ”.[23]
g. Saputro
Lelaki tegap, punya prinsip hidup dan memiliki cita-cita yang tinggi. Ia tipe lelaki yang setia dan pengertian, mengetahui cara memperlakukan wanita dengan lembut.
“Dia juga halus. Sikapnya selalu lembut. Sentuhan tangannya yang kuat kurasa disertai kelembutan yang meresap ke balik kulit tubuhku”.[24]
6. Amanat
o Hormati, hargai, dan sayangi pasangan, karena jika kita saling menghormati dan menyayangi dalam hidup berumah tangga niscaya rumah tangga akan menjadi harmonis.
o Harus menerima kelebihan dan kekurangan pasangan.
BAB IV
KEJERNIHAN NH. DINI DALAM NOVEL PADA SEBUAH KAPAL MELALUI PENDEKATAN PRAGMATIK
Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono sangat mengapresiasi para sastrawan wanita yang mulai muncul bermunculan di peradaban sastra, seperti yang ia ucapkan pada diskusi di UI “Pengarang laki-laki yang menulis tentang perempuan biasanya hanya berdasar pada konsep pikiran, keinginan, dan deskripsi laki-laki. Mereka tidak menyentuh perempuan sebagai manusia.
Sapardi menilai novel Pada Sebuah Kapal sebagai karya puncak Nh. Dini. Sebagai penulis NH. Dini sangat memoerhatikan komposisi dan matang dalam mengurai masalah. Ia selalu membaca ulang dan mengendapkan karyanya sebelum merilisnya. Selain itu, penulis yang pernah tinggal di berbagai Negara itu tidak memihak kepada salah satu tokoh yang diciptakan. Ia membiarkan pembaca mengambil kesimp**an masing-masing.
Menurut wartawan I R, cerita NH. Dini terasa ringan, bening, dan membual. Namun dapat p**a memuai seperti seperti embun, manakala Nh. Dini tidak kuat dalam menonjolkan segi-segi kejiwaan. Dari buku ini saya mendapat pelajaran, bagaimana seharusnya mengerti rasa perasaan seorang istri. Bagi pembaca wanita mungkin tidak akan puas mencari, bagaimana perasaan seorang suami, karena menurut anggapan saya, pengarang tidak menjiwai tokoh Michel dan juga Charles Vincent.
Penyair Taufiq Ismail mengatakan novel Pada Sebuah Kapal merupakan novel yang mencengangkan larisnya. Kemudian dengan banyaknya perhatian atau sambutan masyarakat sastra terbukti dengan banyaknya tulisan yang ramai membicarakan novel tersebut.
Ali Akbar Navis juga berpendapat dalam makalahnya terhadap makalah Satyagraha Hoerip, bahwa NH. Dini memang berhasil memikat perhatiannya sehingga ia merasa enggan untuk melepaskan novel tersebut sebelum tamat membacanya.
Goenawan Mohammad berkata, prosa Dini seperti titik-titik embun pada daun: ringan, bersih, segar, transparan. Dan juga cepat menguap, melalui resensinya di majalah Tempo.
Persepsi yan telah dikemukakan para kritikus dan peneliti majalah di atas dapat digolongkan menjadi kelompok yang pro , yaitu cenderung menerima dan menyukai novel yang telah dibuat oleh Nh. Dini ini.
Karena memang karya Nh. Dini berasal dari kehidupan sekitarnya sehingga karya yang dibuat bersifat bening dan transparan yang telah banyak dikemukakan oleh para kritikus dan peneliti. Nh. Dini pun mengakui walau karyanya kurang bagus tapi konflik yang dituangkan tidak bersifat absurd tapi konkret sehingga membuat karya itu menjadi transparan. Dan memang dalam karya ini cenderung menggambarkan lika-liku kehidupan Dini. Misalnya tokoh waniyta yang menikah dengan orang luar negeri.
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Munculnya Angkatan 66
Perbedaan-perbedaan pandangan mengenai seni dan sastra yang berpangkal pada perbedaan-perbedaan politik, sudah sejak lama kelihatan dalam dunia sastra Indonesia. Pada awal tahun 50-an terjadi polemik yang seru antara orang-orang yang membela hak hidup angkatan 45 dengan orang-orang yang mengatakan ”Angkatan 45 sudah mati” yang berpangkal pada suatu sikap politik.
Para seniman muda tidak mau mengelompokkan diri dalam kelompok seniman untuk menyamakan persepsi. Semangat yang dimiliki seniman Angkatan 45 tidak mereka warisi dan mereka tidak menghayati revolusi fisik dengan baik. Seniman muda ini lebih memfokuskan diri pada menulis cerpen, puisi, dan naskah drama.
Periode 50 bukan saja sebagai pengekor Angkatan 45, tetapi sudah merupakan penyelamat setelah melalui masa-masa kegoncangan. Ciri-ciri periode ini antara lain :
1. Pusat kegiatan sastra telah meluas keseluruh pelosok Indonesia, tidak hanya berpusat di Jakarta atau Yogyakarta saja.
2. Kebudayaan daerah lebih banyak diungkapkan demi mencapai perwujudan sastra Nasional Indonesia.
3. Penilaian keindahan dalam sastra tidak lagi didasarkan pada perasaan kepada perasaan dan ukuran Nasional.
Pada tahun 1959, merupakan tahun yang membawa perubahan dalam dunia kesusastraan sebagai imbas dunia politik. Tujuan sastra pada mulanya mengangkat harkat dan martabat manusia dalam kehidupan yang memiliki nilai-nilai kebebasan dan kemerdekaan. Pada tahun ini sastrawan ingin mengembangkan karya sastranya, dilain pihak tekanan-tekanan partai politik yang mulai mengendalikan pemuda Indonesia sehingga muncul PKI, LEKRA, LKN, LESBUMI, HSBI, LESBI dan lain sebagainya.
Akhirnya Manikebu menjadi konsep sikap dan kepentingan dan kepentingan mereka sebagai angkatan dalam kesustraan yang kemudian dikenal dengan ankatan 66. Akibat fitnah PKI, Manikebu dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Setelah bangkitnya Orde Baru, tahun 1966, maka, Manikebu sebagai konsepsi Angkatan Kesusastraan terbaru, dijadikan landasan ideal Angkatan 1966. Isi Manikebu antara lain :
1. Kami para seniman cendikiawan Indonesia dengan ini mengumumkan sebuah manifes kebudayaan yang menyatakan pendirian, cita-cita politik kebudayaan kami.
2. Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi kehidupan manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan lain. Setiap sektor perjuangan bersama- sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.
3. Dalam melaksanakan kebudayaan nasional, kami berusaha mencipta dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri kami sebagai bangsa indonesia ditengah-tengah masyarakat dunia.
4. Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami.
Tiga dasar konsepsi angkatan 66 itu adalah :
1. Manifes kebudayaan itu sendiri.
2. Teks penjelasan Manifes Kebudayaan.
3. Sejarah lahir kebudayaan.
B. Perbedaan Angkatan 45 dengan Angkatan 66
NO ANGKATAN 45 ANGKATAN 66
1. Lahir karena politik, tidak memperhitungkan politik Lahir karena politik, memperhitungkan politik
2. Karyanya bernadakan perjuangan Karyanya bernadakan keadilan dunia
3. Mempunyai sikap sebagai warisan Menegaskan Pancasila peperangan
4. Mempunyai sikap sebagai akibat falsafah kebudayaan Menegaskan Pancasila sebagai falsafah kebudayaan
5. Berorientasi kepada pengarang dunia Lahir akibat penindasan HAM
6. Karyanya bersifat ekpresi puisi dan realis skeptis pada prosa Karyanya bersifat realis, aturalisme, dan ekstensionalisme
7. Merupakan nama kump**an saja sastrawan melulu Merupakan wadah bukan sastrawan, tetapi juga budayawan, seniman, dan pelukis.
C. Penyair Angkatan 66
1. Taufik Ismail
Lahir di Bukit Tinggi 1937 tetapi dibesarkan di Pekalongan. Karya-karyanya berupa sajak, cerpen, dan essei mulai dikenalkannya pada tahun 1954. Namun baru mencut tahun 1966. Karyanya yaitu sajak Jaket Berlumuran Darah, Harmoni, Jalan Segara. Puisinya Karanganya yaitu Karangan Bunga, Salemba, dan Seorang Tukang Rambutan Kepada Istrinya.
2. Goenawan Mohamad
Lahir di Batang 1942, pernah menjadi wartawan harian KAMI, pemimpin redaksi majalah Ekspress, redaksi majalah Horison, Peminmpin majalah tempo dan Zaman. Karyanya antara lain Interlude (1973), Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), dan lain-lain
3. Mansur Samin
Lahir di Batang Toru Sumatera Utara, karyanya antara lain kump**an puisi tanah air, Kebinasaan Negeri Senja (drama 1968), Baladanya yang terkenal ialah Sibagading Si Rajagoda, dan Raja Singamangaraja.
4. Hartoyo Andangdjaja
Lahir disolo 1930, kump**an sajaknya berjudul simponi Puisi (1954) dan Buku Puisi (1973). Ia juga menterjemah buku antara lain Tukang Kebun (1976), Kubur Terhormat (1977), dan Novel Rahasia Hati 1978).
5. Piek Ardijanto Suprijadi
Lahir di Mangetan 1929, karyanya antara lain Burung-Burung di Ladang, Paman-paman Tani Utun.
6. Abdul Hadi W.M
Lahir di Sumenep 1949, karya-karyanya antara lain Riwayat, Terlambat di Ujung Jalan, Laut Belum Pasang, Tergantung Pada Angin.
7. W.S Rendra
Rendra termasuk penyair yang kritis. Karena berbagai macam sosial, segi pendidikan, ekonomi, pemerintahan selalu menjadi sorotan dalam karyanya. Karyanya antara lain Balada Sumirah, Balada terbunuhnya Atmo Karpo, Aminah.
SIMPULAN
Simp**an
Lahirnya angkatan 66 disebabkan :
1. Karena politik dan memperhitungkan politik
2. Karena bernadakan keadilan
3. Menegaskan Pancasila sebagai falsafah kebudayaan
4. Lahirnya sebagai akibat penindasan hak azazi manusia
5. Berorientasi kedalam negeri ( Pengarang nasional menggali kebudayaan daerah).
6. Karya bersifat naturalis, realitas, dan ekstensialitas
7. Merupakan wadah untuk para sastrawan , ahli budayawan dan pelukis
5). ANGKATAN 1966-1970-an
Nama angkatan 66 dikemukakan oleh H.B.Jassin. Angkatan 66 muncul di tengah-tengah keadaan politik bangsa Indonesia yang sedang kacau. Kekacauan politik itu terjadi karena adanya teror PKI. Akibat kekacauan politik itu, membuat keadaan bangsa Indonesia kacau dalam bidang kesenian dan kesusatraan. Akibatnya kelompok lekra di bawah PKI bersaing dengan kelompok Manikebu yang memegang sendi-sendi kesenian, kedamaian, dan pembangunan bangsa dan Pancasila.
5.1 Ciri-Ciri Sastra Angaktan 1966-1970-an :
1. Mulai dikenal gaya epik (bercerita) pada puisi (muncul puisi-puisi balada).
2. Puisinya menggambarkan kemuraman (batin) hidup yang menderita.
3. Prosanya menggambarkan masalah kemasyarakatan, misalnya tentang perekonomian yang buruk, pengangguran, dan kemiskinan.
4. Cerita dengan latar perang dalam prosa mulai berkurang, dan pertentangan dalam politik pemerintahan lebih banyak mengemuka.
5. Banyak terdapat penggunaan gaya retorik dan slogan dalam puisi.
6. Muncul puisi mantra dan prosa surealisme (absurd) pada awal tahun 1970-an yang banyak berisi tentang kritik sosial dan kesewenang-wenangan terhadap kaum lemah.
7. Mencintai nusa, bangsa, negara dan persatuan.
8. Pembelaan terhadap pancasila.
5.2 Analisis Karya Sastra Angkatan 1966-1970-an
PUISI
Kutipan: puisi “Kami Adalah Pemilik Syah Republik Ini” Karya Taufik Ismail
KITA ADALAH PEMILIK SYAH REPUBLIK INI
Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hanyut
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran:
“Duli Tuanku”?
Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang ditepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya merdeka
Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
1. Mulai dikenal gaya epik (bercerita) pada puisi (muncul puisi-puisi balada)
Dalam puisi diatas penulis jelas menggambarkan gaya epik atau bercerita, muliai dari bait pertama hingga terakhir ia mengungkapkan puisi seolah-olah sedang bercerita.
2. Puisinya menggambarkan kemuraman (batin) hidup yang menderita.
Kutipan: “Kami Adalah Pemilik Syah Republik Ini” Karya: Taufik Ismail..
Kita adalah manusia bermata sayu, yang ditepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya diam inikah yang namanya merdeka..
Dalam penggalan puisi ini penulis menggambarkan masyarakat yang hidup yang menderita, sengsara yang dipenuhi oleh bencana alam banjir, gunung api dan tanaman yang diserang hama.
3. Mencintai nusa, bangsa, negara dan persatuan.
Dalam ciri ini penulis menggambarkan tentang kecintaannya terhadap nusa dan bangsa. Hal ini tergambar dari kutipan puisi berikut ini
Kutipan: puisi “ Dari Seorang Ibu Demonstran” karya : Taufik Ismail
DARI SEORANG IBU DEMONSTRAN
Ibu telah merelakan kalian
Untuk berangkat demonstrasi
Karena kalian pergi menyempurnakan
Kemerdekaan negeri ini..
Jelas dalam puisi ini pengarang menggambarkan kecintaan seorang Ibu terhadap nusa dan bangsa dengan merelakan anaknya untuk pergi berperang demi menyempurnakan kemerdekaan bangsa ini.
PETUALANGAN MENCARI SEBUAH KEDAMAIAN HATI YANG TELAH LAMA HILANG DALAM NOVEL “HATI YANG DAMAI”
Oleh:
A. Pendahuluan
Psikologi merupakan ilmu yang mengkaji tentang kejiwaan manusia dan segala tindakan yang dilakukan oleh manusia. Tindakan manusia ini dipengaruhi oleh dorongan kejiwaan yang ada dalam manusia itu sendiri. Dalam sebuah cerita sastra psikologi dibutuhkan untuk menghidupkan penokohan setiap tokoh yang ada dalam mendukung jalannya cerita. Psikologi yang berbeda antar tokoh satu dengan tokoh lainnya akan menciptakan sebuah konflik baru agar cerita yang diajikan hidup dan menarik untuk dibaca.
Manusia memiliki pribadi yang khas, selalu berkembang, bertujuan, dan pribadi yang menguasai jasmani. Pribadi yang khas membuktikan manusia itu berbeda dari pribadi laiinya. Sifat yang khas menentukan penyesuaian pada lingkungan. Pribadi manusia akan berkembang sesuai dengan tujuan nurani. Perbuatan khusus pada individu terletak dalam kepribadiannya. (Allport dalam Sujanto, 2004:94).
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimp**an bahwa psikologi sastra merupakan sebuah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa dan karsa dalam berkarya untuk menyajikan sebuah cerita yang menarik. Begitu p**a pembaca dalam menanggapi karya juga tidak akan lepas dari kejiwaan masing-masing, sehingga mereka mampu memberikan beberapa penilaian terhadap prilaku setiap tokoh yang digambarakan lewat cerita.
Dalam novel “Hati yang Damai” karya Nh. Dini ini, jika kita cermati lebih dalam dan memfokuskannya pada salah satu tokoh, kita akan menemukan bagaimana kegalauan hati seorang istri penerbang yang bertemu lagi dengan kekasih-kekasihnya terdahulu justru di saat sang suami tidak berada disampingnya. Untuk itu disinilah kita mencoba melakukan analisis psikologi yang akan membahas mengenai kegalauan yang dialami oleh tokoh utama dalam menjaga kesetiannya kepada suami hingga pada akhirnya sang tokoh utama mampu menemukan kedamaian hati dalam keluasan hati pada diri suaminya dan dapat mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
B. Analisis dan Apresiasi
Rekaman Suasana Kegalauan Batin Tokoh Demi
1. Awal
Kami tidak saling memandang. Tapi meneruskan bicaraku.
“Kau akan memperkenalkan istrimu kepadaku?” kataku setelah kami berdua diam sejenak. Sidik tidak menjawab.
Pada awal cerita ini dibuka dengan narasi dan beberapa dialog seperti di atas. Dari potongan narasi dan dialog tersebut dapat terlihat mulai adanya perkenalan tokoh. Terdapat dua tokoh yang dimunculkan sebagai center cerita pembuka dan memunculkan sebuah konflik antara mereka. Dalam narasi yang ada, mengambarkan adanya pertentangan batin diantara kedua tokoh tersebut. Sidik merupakan masalalu dari tokoh Dati yang kembali muncul disaat suami Dati tidak berada disampingnya. Mereka mencoba mengingat kenangan masa lalu yang dulu belum sempat terselesaikan.
“Memang ada apa-apa diantara kita. “Ia kembali duduk dan matanya terpaku ke wajahku. “ada suatu pengenalan yang tidak akan bisa diartikan orang lain.Ada pengenalan yang akan selalu menguatkan kita berdua hingga kita terpaksa mengakui, bahwa kita dilahirkan hanya untuk menjadi satu.”
Pada cuplikan dialog diatas, tergambar bahwa Sidik mulai berusah mengoyahkan keyakinan dan kesetian hati Dati. Ia berusaha membangkitkan kembali kenangan yang indah ketika bersamanny. Mencoba meyakinkan bahwa mereka tercipta untuk saling bersama lagi. Setelah dahulu ia ditinggalkan Dati begitu saja, Sidik pun berusaha untuk mendapatkan hati Dati dengan berbagai cara.
2. Tengah
Sidik makan siang dirumahku. Sebelumnya dia menelepon mau datang malam ini. Tetapi aku berkata bahwa aku akan pergi. Untuk menutuppenolakan itu aku mengundangnya makan siang itu. Aku merasa tidak ada salahnya jika ia datang, apalagi di siang hari.
Pada narasi tersebut Dati menerima baik masa lalunya, ia berhubungan baik dan kembali dekat dengan Sidik. Selain makan di rumah Dati, Sidik sering mengajaknya keluar untuk sekedar ngobrol, mengajaknya nonton dan makan malam di luar rumah. Lambat waktu berjalan, Dati tersadar akan perbuatan salah yang ia lakukan di belakang suaminya. Dati mulai memperbaiki diri menata hidupnya kembali untuk kesetiannya terhadap keluarga.
3. Akhir
Apakah sebenarnya yang telah kuberikan kepada Wijaya suamiku?.
Laki-laki itu mengecap hidup dengan perempuan yang memberinya keperawanan dan kesetiaan. Aku tidak mau dan tidak bisa menyalahkan diri mengapa kadang-kadang mengkhianatinya dengan pemikiran-pemikiran cinta kepada orang lain.
Narasi teks cerpen tersebut mengungkapkan beberapa ungkapan perasaan yang dipendam oleh Dati. Perasaan bersalah yang mendatangkan kegelisahan dan kegalauannya ketika masa lalunya datang mengusik ketentraman hatinya, mengangu kehidupan rumah tangganya bersama Wija, suami yang begitu mencintainya. Hal tersebut wajar terjadi terhadap semua orang yang pernah melakukan sebuah kesalahan, penyesalan selalu datang dari belakang, namun tidak ada kata terlambat untuk merubah hidup ke arah yang lebih baik dari yang sebelumnya.
Aku terbangun oleh dentang jam penjagaan. Mataku tertumbuk kepada tingkap kecil di dinding kamarku. Sinar bulan pagi yang terang jatuh dari sana terus ke lantai. Aku berfikir apa yang telah terjadi dengan diriku.
Dati mulai berusaha bangkit, menguatkan hatinya untuk belajar menerima hidupnya saat ini, berusaha mencintai suaminya yang telah baik padanya. Ia mulai mengetahui letak kesalahannya sendiri. Ia berusaha memunculkan sosok suaminya agar ia mengingatnya. Ia mulai belajar mencintai suami dan keluarganya. Perasan-perasaan tersebut muncul dalam usahan kerasnnya untuk mencari sebuah kedamaian dalam hidupnya.
REKAMAN SUASANA BATIN DALAM USAHA PENCARIAN KEDAMAIAN HATI
Kata Ajip Rosidi (1969: 178), kisah ini sangat mengharukan dan ditulis dengan halus mengajuk hati wanita, sedangkan Prihatmi (1977: 50) menyatakan bahwa novel ini mampu memukau perhatian pembaca. Seorang yang lembut, jujur, sederhana, dan selalu memilih kedamaian hati telah ditampilkan pengarang sebagai tokoh utama.
Kesadaran akan menjaga sebuah keutuhan dan kesetiaan kepada keluarga mulai diciptakan oleh Dati dalam usahanya mencari sebuah kedamain dalm hidup. Ia menganalisa apa yang menyebabkan dirinya dahulu sempat berfikir untuk menghianati suaminya.
“Aku hidup sadar dari hari ke hari dengan kebahagiaanku. Aku mempunyai anak, aku mempunyai suami. Kedamaianku hanya selintas-selintas, jika kamu berkumpul semua; anakku suamiku dan aku. Pekerjaan suamiku merupakan bayangan yang menakuti perasaanku setiap saat. Juga keadaan merupakan bayangan yang menakuti perasaanku setiap saat. Juga keadaan hati yang tidak bisa dipercaya akhir-akhir ini semakin mencemaskan hatiku. Dan kini aku datang. Adakah ini hanya bersebab kepadaku saja, aku sendiri?” .
Kesabaran hati Suami untuk menerima Dati kembali membuatnya semakin merasa bersalah atas perbuatan yang ia lakukan di belakang suaminya. Hingga ia tidak berani menatap wajah suaminya yang telah baik padanya dan mencintainya denga sepenuh hati. Sesungguhnya kala itu Wija telah mengetahui bahwa istrinya masih mencintai Sidik. Namun Wija berusaha diam dan memendam rasa kecewanya sendiri. Wija sadar bahwa Dati tidak dapat membalas ketulusan cintanya karena ia masih menyimpan rasa cinta yang besar pada Sidik, masa lalunya. Ia tahu bahwa Dati berada pada posisi yang sulit, dan ia memahami keadan tersebut.
“Aku tahu kau masih mencintainya. Tapi aku juga tahu bahwa mencintai itu memang mudah. Untuk aling mengerti itu yang s**ar.”
Kudengar suamiku berkata, suranya kaku dan terang. Aku menoleh kepadanya. Jadi dia tahu. Dia mengerti siapa Sidik. Dia pasti juga mengerti semuanya.
“Malam itu dalam kamarmu yang sempit kita telah berjalan jauh, menjelajahi hidup. Itu berjalan pertama bagimu. Aku tahu. Tapi aku tidak pernah mengatakan bahwa itu bukan malam pertama bagiku. “Ia tiba-tiba telah berdiri dekat sekali denganku. Dan aku tidak mendengar yang lainnya selain suaranya yang bening, tenang dan damai. Aku tidak melihat lainnya selain dia, suamiku yang telah kembali dan mencintaiku. Aku tidak berani menatapnya. Aku tundukkan kepalaku.
Pada narasi tersebut, Wija dan Dati berusaha untuk memperbaiki hubungannya yang telah rengang. Malam itu mereka saling berbicara, dari hati mengungkapakan segala rasa yang lama terpendam dalam dada. Wija telah menerima segala perbuatan yang dilakukan data kepadanya. Wija tak menghiraukan yang terdahulu, ia mencintai Dati kembali dengan sepenuh hatinya, memaafkan kesalahan yang pernah diperbuat istrinya. Karena rasa bersalahnya yang teramat besar, Dati merasa malu dan tak sanggup menatap ketulusan wajah suaminya.
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuatnya terhadapku, istri yang tak mencintainnya. Tanganya berat meraba mukaku. Aku tidak mau menengadah menentangnya.
“Kau menangis. Mengapa?” Suaranya perlahan setengah berbisik.
Tanganya yang tidak dibalut kini meraihku ke dadanya. Aku menolaknya. Kupandang tenang-tenang wajahnya muram.
“Aku berjanji akan kembali, Dati. Kini aku kembali. Kepada siapa aku harus datang? Aku tidak memiliki siapapun selain kau dan anak-anakmu.”
Kami berpandangan. Perkataannya amat menunjang perasaan hatiku. Kuulurkan jari-jari tangankuke bibirnya, dan aku peluk dia. Aku peluk dia erat. Kudapatkan kepalaku dengan terisak sebuah kekuatan yang sejuk mengait perasaanku. Aku kemudian menyadari kedamaian dan ketenangan yang dibawanya kepadaku.Aku mencintainya.
Akhir cerita ditutup dengan sebuah suasan ayang mengharukan, dimana Dati telah mampu menghilangkan perasaan dimasalalunya dan kini ia menapaki kehidupan baru bersama suami dan anak-anak yang dicintainnya. Wija telah berhasil membuat Dati mencintai dirinya dengan carannya sendiri, keikhlasannya memaafkan kesalahan Dati, penantiannya, kesabarannya menanti agar Dati dapat membalas cintanya kini berbuah manis. Kini Dati telah menemui kebahagiaan yang sesunguhnya dalam hidupnya, ia menemukan kedamaian hati yang selama ini ia cari dalam keluarga kecilnya.
C. PENUTUP
Keunggulan novel ini terletak pada kerumitan konflik yang terdapat pada setiap alur cerita. Keruntutan dan kedetailan alur cerita begitu memudahkan pembaca memahami isi cerita. Permainan perasaan setiap karakter tokoh yang ada sangat kuat dimunculkan dalam cerita. Meskipun terdapat bahasa yang fulgar namun isi ceritnya begitu menarik dan sayang untuk dilewatkan untuk dibaca.
Banyak pesan moral yang dapat diambil dari cerita tersebut.
D. RUJUKAN
Dini, Nh. 1961. Hati yang Damai. Bandung: PT DUNIA PUSTAKA JAYA.
Permana , Hartana Adi. 2012. Indahnya Sastra Indonesia, (online),
Clique aqui para solicitar o seu anúncio patrocinado.
Categoria
Telefone
Website
Endereço
Macao
30758
