Mohammad Alfiansyah
Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Mohammad Alfiansyah, New York, NY.
05/29/2026
Alfiansyah duduk diam di samping restoran kecil itu sambil memeluk kucing kesayangannya. Malam mulai gelap, lampu restoran terlihat terang dan hangat, tapi Alfiansyah hanya duduk di pinggir jalan dengan wajah yang tenang namun sedikit sedih.
Sejak sore tadi, Alfiansyah menemani kucing kecil itu mencari makanan. Kucing itu adalah sahabatnya yang selalu ikut ke mana pun ia pergi. Saat orang-orang datang ke restoran untuk makan bersama keluarga mereka, Alfiansyah hanya memperhatikan dari kejauhan sambil mengelus kepala kucingnya perlahan.
“Tenang ya, kita pasti dapat makanan nanti,” bisik Alfiansyah kepada kucing itu.
Kucing kecil itu mengeong pelan, seolah mengerti apa yang dirasakan Alfiansyah. Walaupun mereka tidak punya banyak hal, Alfiansyah tetap sayang kepada kucing itu. Ia tidak pernah meninggalkannya sendirian.
Beberapa orang yang lewat melihat Alfiansyah duduk bersama kucingnya. Ada yang tersenyum haru karena melihat persahabatan mereka. Di tengah malam yang dingin, Alfiansyah tetap memeluk kucingnya agar tetap hangat.
Bagi Alfiansyah, kucing itu bukan hanya hewan peliharaan. Kucing itu adalah teman terbaik yang selalu menemani saat ia merasa kesepian.
05/22/2026
Alfiansyah adalah anak kecil yang sangat menyayangi kucing. Setiap pagi, ia selalu berjalan di pinggir jalan sambil mencari kucing-kucing yang sering bermain di sana. Walaupun Alfiansyah masih kecil, hatinya sangat lembut dan penuh kasih sayang. 🥺🐾
Suatu hari, Alfiansyah melihat dua anak kucing sedang bermain di tepi jalan. Mereka saling kejar-kejaran dengan bola kecil warna-warni. Melihat itu, wajah Alfiansyah langsung tersenyum lebar. Ia memeluk erat kucing oren kesayangannya sambil berkata pelan,
"Kalau tidak ada yang sayang kamu… aku akan selalu sayang kamu." 😭💖
Kucing di pelukannya terlihat tenang, seolah mengerti cinta tulus dari Alfiansyah. Orang-orang yang lewat hanya melihat seorang anak kecil bermain dengan kucing. Tapi mereka tidak tahu, Alfiansyah sebenarnya pernah merasa sedih melihat banyak kucing dibuang dan kelaparan di jalan.
Karena itu, Alfiansyah berjanji dalam hatinya…
selama ia masih bisa tersenyum, ia akan terus menyayangi dan menjaga kucing-kucing kecil yang tidak punya rumah. 🐈💔
Walaupun rumahnya sederhana, kasih sayang Alfiansyah sangat besar. Setiap kucing yang bertemu dengannya selalu merasa aman dan dicintai. Dan sejak hari itu, kucing oren itu selalu mengikuti Alfiansyah ke mana pun ia pergi, seakan berkata,
"Terima kasih sudah menjadi sahabat terbaikku." 🥹🐾
05/11/2026
Di pinggir jalan yang sepi, berdirilah seorang anak kecil bernama Alfiansyah. Air matanya jatuh tanpa henti melihat tiga ekor anak kucing kurus yang mengelilinginya. Kucing-kucing itu mengeong pelan, seolah meminta sedikit makanan untuk bertahan hidup hari itu. 😭💔
Di dekat mereka hanya ada kaleng kosong berkarat. Tidak ada nasi, tidak ada ikan, bahkan sepotong roti pun tidak ada.
Alfiansyah menggigit bibirnya sambil menangis. Ia menunduk memegang perutnya sendiri yang sejak pagi juga belum terisi makanan. Namun yang lebih membuat hatinya sakit bukanlah rasa laparnya… melainkan melihat kucing-kucing kecil itu ikut kelaparan di jalanan.
“Maaf ya… aku juga tidak punya makanan…” ucap Alfiansyah lirih sambil mengusap kepala kucing oren di dekat kakinya.
Anak kucing hitam itu terus mengeong pelan, seolah mengerti kesedihan anak kecil tersebut. Alfiansyah pun duduk di pinggir jalan, menangis bersama mereka dalam senja yang sunyi.
Tak ada rumah mewah. Tak ada orang yang peduli. Hanya seorang anak kecil dan tiga ekor kucing jalanan… yang sama-sama menahan lapar. 😭💔
Namun di tengah kesusahan itu, Alfiansyah tetap memeluk mereka dengan penuh kasih sayang. Karena walaupun ia tidak punya makanan untuk dibagi, ia masih punya hati yang tulus untuk menyayangi makhluk kecil yang terlupakan.
05/09/2026
Di sebuah bukit pembuangan sampah yang penuh bau menyengat, hiduplah seorang anak kecil bernama Alfiansya. Pakaiannya sederhana, sandalnya sudah lusuh, tetapi hatinya begitu lembut.
Setiap pagi Alfiansya berjalan sendirian sambil membawa bekas makanan kecil. Bukan untuk dirinya… tetapi untuk seekor kucing kurus yang sering ia temui di bukit sampah itu.
Orang-orang sering berkata,
“Untuk apa kasih makan kucing liar? Kamu sendiri susah.”
Namun Alfiansya hanya tersenyum pelan.
Karena ia tahu rasanya lapar…
Dan ia tidak tega melihat makhluk kecil itu menahan sakit sendirian.
Hari itu hujan turun perlahan. Tubuh kecil Alfiansya basah kuyup, tetapi ia tetap datang mencari kucing tersebut. Saat akhirnya melihat si kucing gemetar di balik tumpukan sampah, Alfiansya langsung duduk dan membuka bekal kecilnya.
“Itu saja makanan yang aku punya… makanlah dulu ya,” bisiknya lirih.
Kucing itu mendekat perlahan lalu makan dengan lahap. Alfiansya memandangnya sambil menahan air mata. Perutnya sendiri belum terisi sejak pagi.
Di tengah dunia yang kadang kejam, anak kecil itu masih punya hati yang penuh kasih.
Walau hidupnya susah, ia tetap memilih berbagi dengan makhluk yang lebih lemah darinya. 😭💔
05/07/2026
Hujan turun deras sore itu.
Di pinggir jalan yang sepi, orang-orang sibuk berlalu lalang tanpa peduli pada suara kecil yang terus mengeong pelan dari bawah selokan.
Seorang anak kecil bernama Alfiansya berhenti melangkah.
Bajunya sudah basah kuyup, sandal kecilnya penuh lumpur, tapi matanya langsung tertuju pada seekor anak kucing hitam putih yang menggigil kedinginan.
Kucing kecil itu kurus… tubuhnya gemetar… matanya seperti meminta tolong.
Alfiansya jongkok perlahan.
Dengan tangan kecilnya, ia mengangkat anak kucing itu lalu memeluknya erat di dada.
“Jangan takut ya… sekarang ada aku,” bisiknya polos.
Padahal, Alfiansya sendiri hanyalah anak sederhana.
Kadang ia harus menahan lapar ketika ibunya belum punya uang membeli makanan.
Tapi saat melihat kucing kecil itu sendirian di tengah hujan, hatinya tidak tega meninggalkannya.
Ia lalu membawa kucing itu berteduh di bawah warung tutup.
Handuk kecil yang seharusnya dipakai untuk mengeringkan tubuhnya sendiri, justru diberikan untuk membungkus si kucing kecil.
Alfiansya tersenyum bahagia walau tubuhnya menggigil kedinginan.
“Kalau kamu lapar… nanti kita makan sama-sama ya,” katanya sambil mengelus kepala kucing itu pelan.
Anak kucing itu akhirnya berhenti gemetar dan mulai tidur di pelukan Alfiansya… seolah merasa sudah menemukan rumah.
Di dunia yang kadang begitu keras,
anak kecil itu tidak punya banyak harta…
tetapi hatinya lebih hangat daripada banyak orang dewasa. 😭💔
05/04/2026
Hujan turun deras sore itu. Di belakang deretan tong sampah yang penuh dan bau, seorang anak kecil bernama ALFIANSYAH berjongkok diam. Bajunya basah kuyup, kakinya dingin, tapi tangannya tetap lembut mengelus seekor kucing kecil di depannya.
Di hadapan kucing itu ada sedikit makanan dalam wadah plastik. Kucing kecil itu makan dengan lahap, seolah sudah lama tidak merasakan kenyang.
Sementara itu…
perut ALFIANSYAH sudah sejak pagi kosong.
Ia menatap kucing itu tanpa berkedip. Matanya lelah, tapi penuh kasih.
“Pelan-pelan ya… jangan takut… ini buat kamu…” bisiknya lirih.
Tangannya gemetar, entah karena dingin atau lapar. Ia sempat menelan ludah, mencoba menahan perih di perutnya. Tapi saat melihat kucing itu makan dengan lahap, ia hanya tersenyum kecil… senyum yang dipaksakan.
Tak ada yang tahu…
bahwa makanan itu sebenarnya satu-satunya yang ia punya hari ini.
Hujan semakin deras. Air mengalir di jalan, membasahi tubuh kecilnya. Orang-orang lewat begitu saja, tak ada yang berhenti, tak ada yang peduli.
Perutnya kembali berbunyi pelan.
Ia menunduk… lalu berbisik dengan suara hampir tak terdengar,
“Gapapa… kamu aja yang kenyang… aku nanti aja…”
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia bukan tidak ingin makan.
Ia bukan tidak lapar.
Tapi hatinya terlalu lembut… untuk membiarkan makhluk kecil itu kelaparan seperti dirinya.
Di dunia yang sering terasa kejam,
ALFIANSYAH memilih untuk tetap baik.
Meski harus menahan lapar…
meski harus menahan dingin…
Ia tetap berbagi.
Dan di tengah hujan yang tak berhenti itu,
air mata kecilnya jatuh perlahan…
bercampur dengan hujan, seolah dunia tak pernah tahu betapa besar hati seorang anak sekecil dirinya. 💔
05/02/2026
Di sebuah pondok kecil di kebun yang sunyi, angin sore berhembus pelan membawa aroma tanah dan daun-daun basah. Di atas lantai kayu yang sederhana, terbaring seorang anak kecil bernama Alfiansyah. Tubuhnya kecil, pakaiannya sederhana, dan wajahnya terlihat lelah… namun tangannya tetap memeluk erat seekor kucing kesayangannya.
Kucing itu bukan sekadar peliharaan. Itu satu-satunya teman yang selalu ada untuknya.
Hari itu, Alfiansyah tidak banyak bicara. Perutnya kosong sejak pagi, tapi ia tidak menangis. Ia hanya berbaring, menatap langit dari celah atap pondok, sambil mengelus lembut kucingnya yang tidur di sampingnya.
“Kalau aku lapar… kamu juga pasti lapar ya…” bisiknya pelan.
Kucing itu hanya diam, sesekali bergerak kecil, seakan mengerti.
Tak ada orang di sekitar. Tak ada suara selain angin dan dedaunan. Dunia terasa sangat luas… dan mereka berdua terasa sangat kecil di dalamnya.
Alfiansyah menarik kucing itu lebih dekat ke dadanya. Walaupun tubuhnya lemah, pelukannya hangat.
“Aku nggak apa-apa… yang penting kamu sama aku…”
Matanya perlahan terpejam. Bukan karena ia ingin tidur, tapi karena lelah menahan semuanya sendirian.
Di pondok kecil itu, di tengah kebun yang sepi… hanya ada seorang anak kecil dan seekor kucing, saling menguatkan dalam diam.
Dan di saat semua terasa berat, mereka tetap bersama… karena bagi Alfiansyah, kucing itu adalah satu-satunya rumah yang ia punya 💔
04/30/2026
Alhamdulillah… di malam yang sederhana itu, Allah mempertemukan kebaikan dengan cara yang tak disangka.
Adik Alfiansyah duduk di pinggir jalan, memeluk kucing kecil yang setia menemaninya. Perutnya lapar, begitu juga kucing itu. Namun, di tengah keramaian orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing, mereka hanya bisa menunggu dengan sabar.
Tak lama kemudian, datanglah seorang lelaki baik hati. Dengan senyum hangat, ia menghampiri Alfiansyah. Tanpa banyak bertanya, ia memberikan makanan—bukan hanya untuk Alfiansyah, tapi juga untuk kucing kecil yang ada di pelukannya.
Mata Alfiansyah berbinar. Dengan tangan kecilnya, ia mulai berbagi makanan itu dengan kucing kesayangannya. Keduanya makan dengan tenang, seolah dunia kembali terasa hangat.
“Terima kasih, orang baik…” ucapnya pelan, penuh syukur.
Di balik semua itu, ada pelajaran indah—bahwa kebaikan sekecil apa pun, sangat berarti bagi yang membutuhkan. Dan Allah selalu punya cara untuk mengirimkan pertolongan, tepat di waktu yang paling dibutuhkan.
Alhamdulillah… ternyata masih banyak orang baik di dunia ini 🤍
04/28/2026
Di depan sebuah restoran yang ramai, duduklah seorang anak kecil bernama Alfiansyah. Ia memeluk erat kucing kecil berwarna oren yang setia di sampingnya—si oyen kesayangannya.
Perut Alfiansyah sudah lama kosong. Dari pagi ia belum makan apa-apa. Matanya menatap ke dalam restoran, melihat orang-orang tertawa, berbicara, dan menikmati makanan hangat di meja mereka. Aroma masakan yang harum membuat perutnya semakin terasa perih.
Air mata perlahan jatuh di pipinya.
“Tenang ya, kita kuat…” bisiknya pelan sambil mengelus kepala si oyen. Kucing kecil itu hanya menatapnya, seakan mengerti, lalu mendekatkan tubuhnya untuk memberi sedikit kehangatan.
Orang-orang berlalu-lalang di depan mereka. Ada yang melihat sekilas, tapi tak ada yang berhenti. Tak ada yang menyapa, apalagi memberi makanan. Alfiansyah hanya bisa menunduk, mencoba menahan tangisnya agar tidak semakin keras.
Ia bukan hanya lapar, tapi juga merasa sendirian.
Namun di tengah kesedihan itu, ia tetap memeluk kucingnya dengan penuh kasih.
“Aku nggak apa-apa… yang penting kamu ada,” ucapnya lirih.
Di dunia yang terasa dingin, setidaknya Alfiansyah masih punya satu teman yang tidak meninggalkannya—seekor kucing kecil yang tetap setia di sisinya, dalam lapar dan air mata.
🤣🤭
Click here to claim your Sponsored Listing.
Telephone
Website
Address
New York, NY
