dyana montok

dyana montok

Share

follow
Ig @mardiana1707
tiktok @Dyana1707

19/01/2024

Terpaksa Menikahi Opa Tua

"Mau tidur di atas atau di bawah?"

"Hah, apa, Kek? Aku masih ting-ting loh, Kek, dijamin masih ting-ting, sama sekali belum berpengalaman. Please, jangan unboxing aku sekarang, nunggu udah lulus kuliah dan dapat gelar sarjana saja!" Aku menyimpuhkan kedua tangan di depan wajah dengan mata merem melek, biar doi prihatin.

Pria tua itu melotot dan mendaratkan jit@kan di dahiku.

Aduh, kok dijitak?! KaDeeRTe nih kakek-kakek. Aku meringis sambil memegangi dahi yang sebenarnya tak sakit benaran, tapi tetap harus berpura-pura sakit biar terkesan drasmatis.

"Siapa juga yang mau unboxing kamu, gak minat saya sama bocah bau ingus kayak kamu! Sana tidur di bawah saja, saya tidur di kasur!" Dia melempar bantal dan selimut ke wajahku lalu menguasai ranjang pengantin dengan taburan kelopak mawar itu. Yeah, ciri khas ran-jang pengantin kayak di tv.

Aku melongo sambil mengusap hidung, perasaan lagi gak flu deh, masa iya ada in9us? Dahi ini berkerut menatap pria berwajah kakek-kakek yang kini berstatus suamiku itu.

"Apa lihat-lihat?! Sana bentang selimut tidur di bawah!" omelnya lagi dengan wajah judes.

Duh, nih Kakek-kakek bener-bener gak ada akhlak. Untung udah tua dia, kalau masih muda, udah kuajak duel dia.

Nggak nyangka juga, Si Doi yang udah ba-u ta-nah ini kej- bin s@-dis, gi-la aja aku yang wanita malah diusir suruh tidur di lantai. Segala omelan, umpatan dan sumpah serapah hanya bisa kupendam dalam hati.

Sabar, Loly, dari pada kamu diunboxing, mending pelukan ama lantai. Aku menghibur diri dan berusaha tetap jadi anak baik, eh ... istri baik maksudnya. Asem dah dengan segala macam istilahnya.

Dasar Kakek tua kejam, kusumpahi cepat jadi jenazah dia, biar aku bisa segera jadi janda kaya. Duh, otak makin error saja. Kupukul kepala sendiri yang terkadang s**a rada konslet, kayaknya ini karena terlalu banyak makan lauk sambel deh. Hizz ... iya, gaes, aku ini miskin, buat lauk sehari-hari, aku nanam cabe buat lauk. Menyedihkan bukan? Tapi kini Loly udah jadi istri pria kaya, hmm ... walaupun Si Dia yang re-nta. Gak apa deh, yang penting gak mi$kin lagi. Aku udah capek hidup miskin dan selalu dihina orang-orang, baik tetangga atau juga teman di sekolah dulu.

Yeah, saatnya tidur dan berhenti bersungut. Akan kusambut hari esok dengan status baru, Loly istri orang kaya walaupun dia seorang kakek tua.

Alhasil, malam pertama kuhabiskan dengan tidur meleseh di lantai kamar pengantin, sedangkan dia--kakek tua yang telah sah menjadi suamiku itu malah enak-enakan tidur di kasur empuk. Heran juga, jadi kakek-kakek kok galak amat! Pelit banget berbagi r@njang denganku, walau nggak ngapa-ngapain juga.

***

"Hey, bangun kamu! Mau tidur sampai jam berapa kamu? Ini sudah pukul 09.00. Heran, perempuan kok hobynya tidur aja!"

Samar-samar terdengar suara omelan di dekatku. Kira-kira siapa, ya? Perasaan aku ini tinggal sendiri aja di rumah reok peninggalan Ibu ini.

"Loly, mau bangun sekarang atau saya siram air satu gentong?!" Suara itu kembali terdengar, kubuka mata perlahan dan tampaklah dia yang menatapku dengan wajah jutek.

Astaga, wajahku langsung ditimpuk handuk sama nih kakek-kakek. Bener-bener galak dia, isshh! Dasar tua renta bau tanah, awas saja! Nanti kusmakdown langsung koit nih calon almarhum.

"Buruan mandi! Pukul 10.00 cucuku akan datang, kita akan ada acara sarapan pagi bersama!" ujarnya sambil duduk kembali di atas tempat tidur, dengan tablet di tangannya.

Dengan malas, aku meluruskan badan sejenak, ternyata gak ada bedanya juga kemarin ama hari ini, aku tetap aja tidurnya di lantai.

Aku memajukan bibir dan bangkit juga dari lantai, lalu melipat selimut dan meletakkan bantal di atasnya.

Kuedarkan pandangan ke sekitar, kamar milik orang kaya itu memang boros, masa kamar aja seluas ini, lalu di mana kamar mandinya? Aku celingukan.

"Kamar mandi ada di pojokan kanan, bawa pakaian ganti sekalian! Jangan sampai mata saya ternoda oleh pemandangan tak indah darimu itu!" ujarnya lagi dengan mata yang tetap fokus dengan benda pipih di tangannya itu.

Ishh ... kata-katanya makin pedas aja Si Kakek Tua berstatus suamiku ini. Sumpah, gaes, kalo gak mikir gak takut kualat, udah kujambak rambutnya yang sudah bisa dihitung pakai jari itu.

Dengan mendengus sebal, aku melangkah menuju bungkusan kresek yang isinya ada beberapa bajuku yang paling bagus dibandingkan baju buluk lainnya. Yeah, gini deh nasib orang miskin dan sebatang kara. Demi bisa meraih cita-cita, aku rela melamar jadi istri Si Kakek Galak ini. Hahhh, iya, gaes, aku yang melamar lowongan jadi istri Si Kakek sebab aku tergiur dengan gajinya yang lumayan buat bisa dijadikan ongkos kuliah. Gak apa deh jadi istri Si Tua Renta itu, yang penting aku bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Yeah, bagiku yang hanya punya otak pas-pasan, hanya mimpi saja mau dapat beasiswa bisa kuliah gratis. Karena kesadaranku itu, maka mengisi lowongan jadi istri Si Pria Tua kaya raya inilah jalan yang kutempuh.

***

"Xeon, kenalkan ini Lolyta, Oma barumu--istri baru Opa. Panggil dia Oma Loly dan kamu harus sopan kepadanya! Ayo, salim sama dia!" Kakek Tua itu menunjuk aku di sampingnya, padahal Si Lawan Bicara sedang membelakangi kami saat ini.

Pria berjaket hitam itu menoleh dan tatapannya langsung tertuju kepadaku.

"What? Jadi dia wanita yang mengisi lowongan jadi istri Opa?!" Dia melotot sambil menatapku dari ujung rambut sampai ujung sandal.

Tak hanya dia saja yang kaget, aku pun juga. Aku tak menyangka saja ternyata dia itu cucunya Si Kakek kaya raya ini. Dia musuh bebuyutan yang selalu membullyku di sekolah, aku membencinya sampai ke tulang sumsum. Kutatap tajam dia sambil mengangkat dagu, kini aku istri opanya, yang tentunya harus dia hormati.

"Ayo salim pada Omamu, Xeon!" perintah Si Kakek lagi, nadanya terdengar meninggi kali ini.

Dengan wajah tak ikhlas, dia--pria yang sebenarnya berwajah tampan namun sangat menyebalkan ini meraih tanganku lalu menciumnya.

"Ternyata ini kerjaan kamu, Cewek de-kil, miskin dan bau am-is?! Cihh ... bau comberan tangannya Si Oma ini, Opa. Suruh mandi minyak wangi dulu dia, biar bisa sejajar berdiri sama Opa!" Xeon berkata ketus, tatapannya begini ben-gis kepadaku.

Ya elah, kok gini amat nasibku? Niat hati pengen jadi orang kaya dengan cara instan, eh nggak tahunya malah masuk kandang para singa. Jadi serasa pengen gantung diri di pohon cabe deh ah. Hikzzz

Bersambung ....

***
Evhae Naffae

Cerita ini sudah tamat di KBM App : https://read.kbm.id/book/detail/11eb0861-bb46-452b-b0cd-f9bce8368a77?af=5dcc00c3-8441-92b7-edb1-989c8617f82d

Jangan lupa subscribe 🥰🥰

19/01/2024

BUNGA ILALANG
Mahkota Per4w4n Desa
Part 1

"Mbah, itu kenapa ada seorang gadis ikut bermain sama anak-anak? Aneh ...," tanyaku pada Mbah putri yang sudah sepuh, memakai kain jarit dengan rambut putih disanggul dan akulah Banyu Biru, pelajar SMA yang sebentar lagi lulus, cucu kesayangan Mbah Sinem.

Ada yang janggal ketika menatap kerumunan anak-anak yang sedang bermain di bawah pohon mangga di halaman rum4h Embah.

Seorang gadis cantik dengan kulit putih bersih bak pualam, tubuh tinggi semampai dengan rambut ikal yang tergerai panjang ikut bermain bersama mereka. Padahal sepertinya gadis itu seumuran denganku.

"O itu. Namanya Syahdu. Dia memang beda dengan gadis normal. Ada kelainan, Le."

"Ed4n, Mbah? (G1la, Mbah) tanyaku dengan mata melotot.

"Bukan g1la, hanya tingkah dan pikirannya seperti bocah."

"Tapi penampilannya bersih dan terawat ya, Mbah. Nggak kayak wong ed4n."

"Dibilangin ora ed4n. Dia itu anak tunggal orang terkaya di kampung sini. Anak juragan mete. Punya kebun pohon mete berhektar - hektar dan punya pabrik yang mengolah biji mete sampai jadi mete mateng. Ibunya sudah meninggal waktu melahirkan dia. Ayu yo, Le. Mau Mbah kenalin?"

"Nggak, Mbah. Takut dikejar - kejar wong ed4n aku," jawabku gengsi, padahal dalam hati penasaran.

Malamnya, kenapa aku jadi susah tidur gara - gara membayangkan wajah wong edAn itu. Kuakui dia memang cantik. Seumur - umur baru kali ini aku melihat wanita secantik itu. Gadis Ndeso tapi ora ndesoni. Bening. Teman tercantik di sekolahku saja kalah.

Pagi hari,

"Le, Embah ke sawah dulu ya. Ayo, ikut!"

"Nggak, Mbah. Masih capek karena perjalanan jauh kemarin. Banyu jaga rum4h saja ya, Mbah," jawabku yang memang baru terasa capeknya setelah perjalanan pertamaku sendirian, Bekasi - Wonogiri dengan naik bus kemarin.

"Ya sudah. Kamu istirahat saja. Makanannya sudah Mbah siapin di dapur."

Sepeninggal mereka, aku tiduran saja di kamar sambil berselancar di dunia Maya. Melihat yang tidak-tidak membuat aku berpikir yang tidak tidak juga.

Tiba-tiba terdengar suara gedebag gedebuk seperti langkah kaki yang terburu-buru masuk ke rum4h. Sengaja memang pintu rumah tidak kututup supaya bisa merasakan semilirnya angin. Toh kata embah di kampung ini aman.

Jantungku seperti mau copot karena terkejut, seorang gadis tiba-tiba sudah masuk ke kamarku lalu menutup pintu kamar. Seolah tak peduli ada manusia yang terbaring di ranjang. Aku seperti dianggap hantu yang tak terlihat.

"Hooi!!! Ngapain masuk nyelonong saja ke kamar laki-laki!" teriakku dengan mata yang sudah melotot lebar tapi sepertinya dia tidak takut.

"Ssst ... diem! Jangan berisik! Nanti ketahuan sama teman temanku," ucapnya lirih dengan nada khas anak-anak sambil menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya

Kemudian dia mengendap endap ke arah jendela, mengintip ke luar. Dari belakang aku tidak bisa menahan untuk tidak menatap tubuhnya yang hanya berbalut t shirt warna putih dan celana pendek sepaha yang memamerkan kaki jenjangnya yang putih mulus. Dadaku berdesir ... menelan saliva
Menikmati sebuah obyek yang sangat pas dengan pikiranku yang tidak-tidak tadi.

Mimpi apa aku semalam, disuguhi makhluk secantik ini di kamar. Darah mudaku tiba-tiba bergelor4, desiran-desiran aneh menyisir di sekujur tubuh. Sy4hw5tku bergejolak tak tertahan.

"Syahdu, duduk sini," panggilku berdebar debar dengan nafas yang semakin memburu.
Syahdu menuruti perintahku, berjalan ke ranjang tanpa sungkan. Padahal ini adalah pertemuan pertama kita tanpa kenalan. Lalu dia duduk di depanku. Menatap mata Syahdu, setan menguasai pikiran dan tubuhku. Kuk3cup bibirnya dan aku pun terlena ... begitu cepat ...

Dan terjadilah, kurenggut mahkotanya tanpa paksaan. Pasrah tanpa meronta. Syahdu terdiam setelah merintih sebentar. Bahkan wajahnya terlihat merona..Aku yang sangat menyesal, tapi Syahdu terlihat biasa saja. Tak ada tangis, tak ada wajah kehilangan.

"Syahdu, maafkan aku ya. Aku khilaf. Aku sudah merusakmu," lirihku terisak sambil memeluknya erat, sungguh aku sangat menyesal meskipun aku baru mengenalnya.

Setelah kulepas pelukanku, Syahdu menatapku kosong tapi ketika senyumnya melengkung manis, aku bisa merasakan kebahagiaannya. Seolah sebuah ucapan terima kasih entah untuk apa.

"Yang tadi namanya permainan apa?" tanyanya polos yang semakin membuat dadaku nyeri disayat rasa bersalah, kenyataannya dia tidak tahu apa - apa.

"Besok main seperti tadi lagi ya," ucapnya dengan tatapan memohon.

Syahdu beranjak dengan jalan yang sedikit beda. Sepertinya masih menahan sesuatu di bawah perut.

"Syahdu, sebentar!" Kuhampiri dia lalu kurapikan rambutnya yang acak - acakan dengan jemariku.

Aku juga merapikan bajunya yang masih belum pas. Terlihat Syahdu menatapku beda. Bukan tatapan kosong lagi. Seperti tatapan harapan dan haru. Apa mungkin gadis tidak normal seperti Syahdu bisa jatuh cinta? Tiba - tiba sebuah kecup4n sudah mendarat di pipiku, membuatku tersentak, mengerjap.

Dengan tersipu, Syahdu pun kemudian berlari meninggalkanku. Bermain kembali di halaman seperti tidak pernah terjadi apa - apa. Aku menatapnya dari balik jendela dengan perasaan campur aduk.

Apa yang sudah terjadi baru saja, seperti mimpi, begitu cepat tapi meninggalkan kesan yang dalam.

Aku berusaha menepis rasa bersalah dan dosa. Rasa bahagia yang tak kupungkiri, merasakan sesuatu yang selama ini hanya terpendam sebatas mimpi. Tapi hari ini, aku mengalaminya. Begitu indah ... bahkan getaran dan desiran itu masih terasa.

Syahdu yang tak kukenal dan tak normal sekejap menjadi wanita paling istimewa di hatiku. Pertemuan dan pengalaman pertama di usia muda ... dengan cinta pertama.

Tiba-tiba rasa takut menyelinap dalam kebahagiaanku. Bukan takut dosa tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Syahdu. Bagaimana kalau dia hamil. Bagaimana kalau dia mengadukanku pada ayahnya. Aku mulai cemas ...

Besoknya kuputuskan pulang ke Bekasi. Seperti seorang pencuri yang berusaha kabur. Kenyataanya aku memang tidak siap menghadapi akibat dari perbuatanku. Aku ingin lari dari rasa takut.

"Piye to, Le. Katanya mau liburan di sini lama. Lha kok mendadak mau pulang, nggak betah di kampung?"

"Ini ada pemberitahuan mendadak dari sekolah, Mbah. Disuruh ke sekolah secepatnya, ada yang perlu diurus untuk persyaratan kelulusan." Aku sudah lihai berbohong.

"Yo, wis. Hati-hati. Lebaran nanti ke sini lagi ya, Le. Nengok Embah."

"Iya, Mbah. InsyaAllah."

Sesampai di Bekasi, nyatanya rasa takut dan cemas itu terus mengikutiku. Bahkan membuatku sulit tidur. Aku terserang insomnia yang membuat hidupku berubah. Masa remajaku tak ceria lagi. Kebersamaan bersama teman - teman pun tak bisa kunikmati.
Aku memilih lebih banyak di rumah, mengurung dikamar dengan badan letih, lemas dan kantuk yang tak terobati.

Aku mulai browsing untuk mencari obat kecemasanku. Inikah akibat dari zina? Aku telah melakukan dosa besar. Aku bersimpuh menangis memohon ampun, menyesali perbuatanku.

"Ampuni hambaMu ini ya Alloh. Hamba mohon ketenangan,"

Taubat ... Itulah obatnya. Kulakukan sholat taubat Nasuha, memperbanyak dzikir dan membaca Qur'an. Alhamdulillah, rasa tenang mulai menyusup di relung hati. Adem. Aku mulai bisa tidur.

Satu yang ingin kulakukan, segera bekerja supaya bisa menikahi Syahdu. Itu satu - satunya cara untuk menebus kesalahanku.

Setelah lulus SMA, aku pun bekerja di salah satu PT di Bekasi sebagai operator. Tapi itu tak lama. 6 bulan kemudian, Ayahku mendadak kaya raya. Kehidupan kami berubah drastis. Kami pindah ke rumah yang sangat besar. Ayah juga beli mobil 2. Satu buatnya, satu buat di rumah. Walaupun sekarang ayah jadi jarang di rumah. Katanya karena usaha barunya memang di luar kota.

Aku pun disuruh ayah kuliah. Tak tanggung - tanggung, di luar negeri dan aku memilih Jepang. Entahlah ada yang aneh menurutku dengan ayah. Kata ibu, ayah sekarang punya usaha baru, bukan lagi karyawan biasa. Tapi ketika aku minta penjelasan ayah, jawabnya :

"Sudah, nggak usah di pikir. Tugasmu, selesaikan kuliah secepatnya supaya bisa segera bantu ayah."

Jadi aku pun diam dan tak mau tahu lagi urusan ayah. Yang terpenting, masa depanku kini terbentang luas. Aku pun resmi menjadi mahasiswa dan pekerja paruh waktu di salah satu restoran siap saji di Jepang tepatnya di kota Katsura, Kyoto.

Lambat laun, bayangan Syahdu dan rencana menikahinya memudar. Sampai sejauh ini tak ada khabar buruk dari Wonogiri tentang Syahdu. Jadi kuanggap semuanya baik - baik saja. Aku aman dan bebas.

2 tahun kemudian

Di Jepang, Aku pun mulai dekat dan akhirnya menjalin hubungan istimewa dengan teman satu kampus asal Indonesia tapi beda jurusan. Aku ambil ekonomi, dia ambil Hubungan Internasional. Kami di pertemukan di salah satu organisasi di kampus. Arumi ... Tidak secantik Syahdu, tapi di mataku dia istimewa. Dan atas pengalaman pahitku dengan syahdu, kali ini aku menjaga kesucian hubunganku dengan Arumi.

Lebaran tahun ini, aku dan Arumi memutuskan pulang ke Indonesia untuk menghalalkan hubungan kami. Walaupun belum lulus kuliah, tapi atas kesepakatan kami dengan orang tua masing-masing, biaya kuliah tetap di tanggung orang tua sedangkan untuk kehidupan sehari - hari kami berusaha mandiri.

Karena rumah Arumi yang di Yogyakarta, orangtuaku memutuskan untuk berlebaran di rumah embah Wonogiri sekaligus persiapan sampai hari H pernikahanku yang akan dilaksanakan di Yogyakarta.

Semalaman kami menikmati perjalanan Bekasi - Wonogiri yang kukemudikan gantian dengan kakak sepupu karena ayah masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan jadi tidak bisa berangkat bersama kami. Nanti mau menyusul naik pesawat saja. Kami pun akhirnya sampai.

Hatiku berdesir ketika kaki ini menapak di halaman rumah embah, lalu memasuki kamar ini ... wajah perempuan itu kembali hadir dan masa lalu itu kembali mengusik.

Dan di balik jendela jeruji kayu ruang tengah ini, kembali menatap kerumunan anak tapi tak ada perempuan itu.

"Mbah, kok tumben wong ed4n itu nggak kelihatan main sama anak-anak?" tanyaku penasaran pada embah yang menemaniku.

"Syahdu, Le?"

"Iya, Mbah."

"Miris ceritane, Le," ucap Mbah Putri terlihat sedih yang membuat jantungku berdebar kencang.

"Kenapa Syahdu, Mbah?" tanyaku kuatir.

"2 tahun kepungkur ( 2 tahun yang lalu), Syahdu tau tau meteng ( hamil). Nggak diketahui siapa yang menghamili. Setiap ditanya Syahdu hanya geleng - geleng," kata - kata Mbah Putri seperti petir yang menggelegar.

"Syahdu ... "

Anatasia Etik Pratiwi

Bunga Ilalang - AnatasiaEtikPratiwi
Kisah tragis dan perjuangan gadis penyandang retardasi mental yang menjadi korban dari keserakahan m...

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/f8b052b5-9837-a8ae-1cf3-162ce80ee30c?af=97235c75-e247-cc77-39c6-84c831adfa18

25/12/2023

😢

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Aceh Barat?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Kualabhee_pribu
Aceh Barat