Sendang Cupu Manik Astagina

Sendang Cupu Manik Astagina

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Sendang Cupu Manik Astagina, Beauty, cosmetic & personal care, Ambarawa.

26/11/2021

salah satu 7 weton yang di s**ai khodam si pahit lidah
RABO KLIWON - RABO PON
KAMIS KLIWON - KAMIS PON - KAMIS LEGI
JUMAT KLIWON - SABTU LEGI
https://www.facebook.com/104761765310702/posts/123688023418076/

10/11/2021

Ucapan terimakasih kepada para donatur
Tempat Doa dan Semadi Bukit Kendalis**o Glodogan

07/11/2021

di ceritakan pada tahun 1947 Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno dan Wakil Presiden Dr. Mohammad Hatta
Pernah datang ke puncak gunung kendali s**o, untuk melakukan tirakat

Pada waktu itu penjagaan ketat di area seputaran gunung kendali s**o di tugaskan oleh Tentara Republik Indonesia

Cerita berikutnya, tentang kedatangan Menteri dalam Negeri, Bapak Sumarjo Rustam,
juga pernah melakukan tirakat di puncak gunung tersebut
Lokasi google map https://maps.app.goo.gl/bYzgMnekkaR6Zfbg7

07/11/2021

Lokasi google map https://maps.app.goo.gl/bYzgMnekkaR6Zfbg7

07/11/2021

Rampak Barong Prabu Erlangga Bedono
Live Talang Emas Kendalis**o Candi Kab Semarang

Lokasi google map https://maps.app.goo.gl/bYzgMnekkaR6Zfbg7

07/11/2021

Tarian hanuman di expo dubai arab
https://www.facebook.com/107777264521681/posts/310296667603072/

05/11/2021

CUPU MANIK ASTAGINA (4)
PERJALANAN DEWI ANJANI

"Pada saat Raden Guwarsi terjun ke telaga tadi, begitu muncul sudah berubah menjadi monyet Waktu itu hamba sangat kaget Kemudian hamba meraba badan, tangan dan kaki sendiri, ternyata sudah ditumbuhi rambut monyet.
Ketika melihat bayangan di air telaga, sadarlah hamba telah berubah menjadi monyet.
Hamba menjadi yakin bahwa Raden Guwarsi betul telah menjadi monyet" katanya melanjutkan.

"Selanjutnya hamba mengikuti Raden Guwarsi dari kejauhan dan akhirnya bertemu dengan monyet lain.
Hamba yakin itu adalah Raden Guwarsa yang juga telah berubah menjadi monyet.
Raden berdua lalu terlibat dalam perkelahian.
Hamba mengawasi dari kejauhan, dari balik pepohonan Pada saat itu hamba ketemu dengan monyet yang mengikuti Raden Guwarsa, dia ternyata Menda yang juga telah menjadi monyet juga", sambung Jembawan.

Air matanya menetes, tak kuasa menahan sedih Menda yang berada di dekatnya juga demikian.

"Menda juga bernasib sama dengan hamba. Dia terjun ke telaga, mengikuti Raden Guwarsa dan berubah jadi monyet juga Kami kemudian sepakat untuk menghentikan perkelahian Raden berdua", sambung Jembawan lagi.

"Aduuh. Kenapa bisa begini? Kenapa kita semua menjadi monyet?", kata Guwarsi sambil memukuli badannya sendiri.

Guwarsa, Jembawan dan Menda hanya bisa menunduk, menyesali apa yang sudah terjadi. Beberapa saat mereka saling tidak berbicara. Tiba-tiba dari balik pepohonan muncul sesosok manusia wanita, namun mukanya muka monyet.

"Aduh, adik-adikku Guwarsi dan Guwarsa", katanya sambil berjalan mendekati mereka yang sedang berdiam diri.

Dari perkataannya, terasa bahwa kata itu diucapkan dengan nada kesedihan mendalam.
Dia kemudian memeluk Guwarsi dan Guwarsa yang kini telah berubah menjadi monyet.
Demi mendengar sosok itu menyebut Guwarsi dan Guwarsa sebagai adik, yakinlah semua yang berada di situ bahwa dia tentulah Dewi Anjani.
Badan tetap badan manusia, sementara mukanya berubah menjadi muka monyet.
Dewi Anjani tidak bisa melanjutkan kata-katanya Air matanya membanjir.

Di belakang wanita berwajah monyet itu, yang tak lain Dewi Anjani, sesosok monyet berjalan mengikuti Monyet yang berada di belakang Dewi Anjani itu lalu berkata.

"Hamba Endang Suwarsih, pengasuh Dewi Anjani", akunya.

Dia lalu bercerita bahwa dia, Endang Suwarsih juga berlari mengikuti Dewi Anjani Ketika sampai di pinggir telaga, Dewi Anjani ragu-ragu mau menceburkan diri, karena memang kurang pintar berenang, makanya hanya minum dan mencuci muka saja Namun Endang Suwarsih sebagai pengasuh yang merasa bertanggung jawab, dia menceburkan diri dan menyelam berusaha mencari cupu manik Maka seketika berubahlah Endang Suwarsih menjadi monyet.

Dewi Anjani yang hanya mencuci muka dan meminum air di pinggiran telaga, hanya mukanya saja yang berubah menjadi muka monyet, sedangkan badannya tetap badan manusia normal.

Demikianlah, kini mereka berenam telah berubah menjadi monyet.
Monyet adalah sebutan untuk primata yang mempunyai ekor, sementara primata tanpa ekor disebut kera, Mereka menjadi monyet namun besar, sebesar manusia biasa.
Dalam dunia wayang monyet besar seperti ini disebut juga dengan kapi.

Telaga tempat mereka berubah menjadi monyet, sesungguhnya merupakan telaga baru, baru saja terjadi akibat tanah di hutan itu kejatuhan cupu manik asta gina yang sangat sakti, sehingga seketika berubah menjadi telaga, Air telaga itulah yang membuat mereka yang mencebur ke dalamnya berubah menjadi monyet.
Dewi Anjani yang hanya meminum dan mencuci muka, hanya mukanya saja yang berubah menjadi muka monyet, sedangkan leher ke bawah masih normal seperti manusia biasa.

Telaga itu kelak ada yang menyebut telaga Nirmala, namun ada juga yang menyebut Telaga Sumala.
Kedua nama itu sesungguhnya mempunyai arti sama Nirmala, nir artinya tidak ada dan mala artinya penyakit, dosa, salah.

Jadi Telaga Nirmala berarti telaga yang bisa meniadakan atau menyembuhkan penyakit, baik penyakit hati maupun penyakit fisik.
Demikian p**a arti Telaga Sumala, su artinya baik dan mala artinya penyakit.
Maka Telaga Sumala berarti telaga yang bisa membuat orang berpenyakit menjadi baik, atau menyembuhkan penyakit.
Mengapa demikian? Karena telaga itu airnya mengandung zat-zat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit fisik.

Setelah menumpahkan rasa sedihnya kepada sesama yang bernasib jelek, karena berubah menjadi monyet, mereka berenam, kemudian memutuskan kembali ke Padepokan Grastina untuk melaporkan apa yang sudah terjadi dan memohon Resi Gotawa agar mengembalikan wujud mereka menjadi manusia kembali.

Sesampai di Padepokan Grastina, mereka disambut dengan penuh kesedihan oleh semua cantrik, dayang dan seluruh warga padepokan.

Mereka kemudian menghadap Resi Gotawa dan menceritakan apa yang telah terjadi.
Setelah mendapat penjelasan dari mereka, Resi Gotawa mengatakan bahwa itu merupakan akibat perbuatan mereka yang memperebutkan benda bukan haknya.

Resi Gotawa juga memberi tahu, bahwa sepanjang sejarah, banyak orang memperebutkan sesuatu yang bukan haknya Mengumbar keserakahan Mereka,
ada yang menerima hukuman saat itu juga, ada yang menerima hukuman kemudian, namun ada p**a yang aman-aman saja.

Mereka yang aman di dunia ini belum tentu aman di kehidupan sesudah mati.

Justru hukuman di saat itu menjadi berlipat-lipat dibanding hukuman yang diterima di dunia fana ini.

Demikian Resi Gotama menjelaskan Setelah mereka berenam, Anjani, Guwarsi, Guwarsa, Jembawan, Menda dan Endang Suwarsih menyatakan menyesal dan mengakui kesalahannya, mereka ingin wajah mereka kembali seperti sedia kala.

🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈
Resi Gotawa lalu menjelaskan bahwa sebagai penebus kesalahan mereka harus bertapa.

"Guwarsi, kamu harus bertapa ngalong, artinya kamu menggantung di pepohonan hutan dengan kepala di bawah.
Makananmu berupa daun dan buah-buahan", kata Resi Gotama kapada Guwarsi.
"Kini namamu menjadi Subali".

🙉🙉🙉🙉🙉🙉🙉🙉🙉
Resi Gotama kini memandang Guwarsa.
"Guwarsa, kamu bertapa ngidang, artinya kamu bertapa di rerumputan hutan seperti sesekor kijang, berjalan dengan tangan menapak seperti kaki kijang dan memakan rumput atau tetumbuhan di permukaan tanah", kata Resi Gotama kapada Guwarsa.
"Kini namamu menjadi Sugriwa".

🙊🙊🙊🙊🙊🙊🙊🙊🙊🙊🙊🙊🙊
"Anjani, kamu bertapa ditelaga Nirmala", kata Resi Gotama kapada Dewi Anjani.

Dia menjelaskan bahwa Dewi Anjani harus bertapa di telaga dengan telanjang, leher dan kepala berada di atas air.

Dia tidak boleh mencari makan.
Dewi Anjani hanya boleh memakan apa yang ada di depan mulutnya.
Entah itu daun yang jatuh dari pohon, binatang seperti ikan atau katak Atau bisa juga rumput air, semacam ganggang dan eceng gondok. Namun hanya boleh menunggu apa yang berada tepat di depan mulutnya saja.

🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔
Kini mereka bertiga berangkat menuju tempat yang ditunjukkan Resi Gotama, masing-masing diiringi pengasuhnya.

Setelah sampai tempat yang dituju, mereka segera bertapa sesuai petunjuk Resi Gotama. Mereka bertapa, sehari, sepekan, sebulan, setahun, sampai bertahun-tahun.

Kini kita ikuti perjalanan bertapa Dewi Anjani.
Dewi Anjani bertapa di Telaga Nirmala dengan bertelanjang Badan terendam air, jadi tidak kelihatan dari luar telaga.
Leher dan kepala tetap berada di atas permukaan air, sehingga bisa bernafas seperti biasa.
Dia memakan apa yang ada di depan mulutnya saja.
Kadang daun yang jatuh dari pohon di pinggir telaga, atau ganggang yang hanyut terbawa air.
Kadang dia memakan katak atau ikan.
Sebenarnya dia tidak s**a memakan ikan atau katak mentah. Namun karena kadang beberapa hari tidak makan, hanya minum air saja, maka terpaksa dimakannya juga karena dorongan rasa sangat laparnya.
Pada hari-hari awal, pekan-pekan awal, dia sering menangis mengalami nasib seperti itu.

Namun lama-lama dia bisa kuat menghadapi cobaan yang sangat berat itu.

😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇😇
Alkisah pada suatu hari Batara Guru, presiden para dewa dari kayangan sedang keliling jagad, yang kalau bahasa penguasa di dunia sering disebut "blus**an".
Saat itu Batara Guru mengendarai kendaraan kadewatan yaitu Lembu Andini.

Batara Guru ingin melihat kehidupan manusia di dunia, dari ujung barat sampai ujung timur, sisi utara maupun sisi selatan, kota dan desa, di kampung serta di gunung.

Pada saat Batara Guru terbang melintas di udara di atas Telaga Nirmala dengan mengendarai Lembu Andini, dia melihat seorang wanita muda yang bertelanjang di tengah telaga.
Karena telaga itu airnya sangat jernih, maka tubuh Dewi Anjani nampak jelas di mata Batara Guru.
Pada saat itulah timbul birahi Batara Guru, sampai keluar k**a yang kemudian menetes jatuh ke Telaga Nirmala.
Demikianlah dalam cerita wayang, presiden para dewa sekalipun masih tidak bisa menahan nafsu birahi.

K**a itu jatuh di ranting pohon asam mengenai daun muda dari pohon asam itu, lalu kemudian menempel di sana.
Ranting kemudian patah dan jatuh ke telaga.

Ranting pohon asam yang jatuh di telaga itu hanyut dan sampai ke depan mulut Dewi Anjani. Dia kemudian memakan semua daun asam itu, termasuk yang telah terkena k**a Batara Guru, tanpa dia sadari.

Bulan demi bulan kemudian Dewi Anjani merasa heran karena perutnya semakin membesar, dia juga sering muntah-muntah.
Karena dia sudah mempelajari hal seperti itu sebelumnya dari cupu manik astagina, itu tanda-tanda orang hamil.
Dewi Anjani menyadari bahwa dirinya telah hamil.

Dewi Anjani sangat sedih, sebab dia hamil, padahal belum pernah bersentuhan dengan pria manapun.
Apalagi selama ini dia selalu berada di telaga, tidak pernah keluar dari situ, tidak pernah pergi dari situ Dia menangis dengan kesedihan sangat mendalam.

Seakan mendengar tangisan Dewi Anjani yang hatinya kelam, tiba-tiba langit berubah menjadi suram.
Suasana siang terang benderang berubah menjadi temaram, seakan telah beranjak menjadi malam, mengantar tidur burung balam . . . . .

Dewi Anjani setelah dan sebelum menjadi monyet

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Ambarawa?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Website

Address


Ambarawa