Madu Hutan Asli Sumbawa

Madu Hutan Asli Sumbawa

Share

Menjual Madu Hutan Asli Sumbawa
Dijamin akan kualitas & keaslian nya. Produk sudah berijin & anggota JMHI (Jaringan Madu Hutan Indonesia)

18/08/2020

Tes madu yang salah/ teori konspirasi :

1. Tes air, Madu di tuang diair/di gelas yg ada airnya jk tdk bercampur madu asli.
2. Tes korek api
3. Tes panas/di panaskn di sendok bergelembung2
4. Tes kain dan kertas madu di tuangkn di kertas/tisu tdk tembus.
5. Tes kuning telor/ bisa matang menggumpal
6. Madu tdk di rubungi semut
7. Berbentuk hexagonal ketika di taruh di piring berisi air lalu di goyang
8. Di taruh di freezer tdk beku

Tes madu yg tepat :

1. Tes laboratorium
2. Melihat panen langsung di hutan atau di box koloni lebah
3. Tes lidah profesional utk rasa n aroma nya.
Utk penjabarannya seperti ini :
1. Dari Aroma nektar/wangi bunga walaupun tdk menyengat wanginya tp harus ada aroma nektarnya.
2. Tes rasa madu tdk semanis gula.. Madu Di tetes sedikit di ujung lidah kemudian di kecap maka rasa manis akan hilang.. Tdk seperti gula yg akan menempel terus rasa manisnya.
3. Setelah diminum ada reaksi di tenggorokn hangat sampai di badan..
4. Ada busa untuk madu hutan.. Krn kadar air yg tinggi diatas 20%
Busa itu adalah fermentasi enzim diastase lebah.
5. Saat dioleskn ke tangan madu terasa licin sedangkn yg gula terasa lengket..

11/07/2020

Kenapa madu ber gas dan berbusa / berbuih :

Jika kamu pernah membuka tutup botol madu dan tiba- tiba meletup, dan madunya sperti mengelurkan busa di awal, maka itu adalah ciri khas dari madu murni (raw honey) yang memang tidak melalui proses pasteurisasi setelah dipanen.

Berbeda dengan madu yang sudah mengalami proses penyaringan atau pasteurisasi, di mana tidak akan mengeluarkan gas.

Kenapa ya madu bisa mengeluarkan gas?

Hal ini karena madu tersebut masih memiliki kandungan enzim diastase.

Nah, enzim inilah yang membuat madu dapat mengeluarkan gas dan busa.

Enzim diastase merupakan enzim yang ditambahkan lebah pada saat pematangan madu.

Enzim ini hanya terdapat pada madu yang baru dipanen atau madu yang tanpa pengolahan (raw honey).

Aktivitas enzim diastase dapat dijadikan indikator perlakuan panas pada madu.

Enzim merupakan protein, dan hanya aktif pada keadaan tertentu.

Enzim diastase dalam madu akan bekerja lebih aktif jika madu berada dalam suhu di atas 29 derajat celcius atau lebih, kadar air di atas 22 persen dan madu mengalami guncangan misalnya ketika proses pendistribusian.

Pemanasan pada suhu diatas 40 derajat celcius menyebabkan aktifitas enzim diastase menurun, bahkan pada suhu tinggi enzim tersebut menjadi tidak aktif.

Secara keseluruhan, madu memiliki macam – macam enzim.

Ada enzim amilase, glukooksidase, diastase dan enzim- enzim proteolitik lainnya. Semua enzim ini berasal dari nektar, serbuk sari dan sekresi saliva lebah, akan tetapi dengan semakin lama penyimpanan, enzim tersebut akan menjadi tidak aktif.

Dari segi khasiat, madu murni yang mengeluarkan gas berarti masih memiliki kandungan enzim dan vitamin yang baik untuk tubuh.

Jadi isu jika madu yang mengeluarkan gas dan buih adalah madu yang kualitasnya jelek, itu adalah kesalahan besar.

Justru madu yang seperti itu adalah madu yang masih memiliki kualitas baik.

Karena Indonesia sendiri termasuk negara yang memiliki kelembaban udara yang cukup tinggi (80 RM).
Sehingga wajar jika madu-madu yang ada di Indonesia itu mengeluarkan gas dan buih.

Nah sekarang udah ga khawatir lagi ya kenapa madu bisa bergas, dan juga madu tersebut aman kok untuk dikonsumsi karena membuktikan madu tersebut raw honey (madu murni) .

15/06/2020
16/05/2020

Metode penurunan kadar air ada tiga cara, yaitu:
1. Penurunan Secara langsung=> susah menjaga mutu madu Krn justru akan merusak madu
2. Penurunan tidak langsung (dehidrasi), => walaupun melalui pemanasan tidak langsung akan tetap mengurangi enzim yang ada sehingga kualitas madu menurun
3. Penguapan (dehumidifikasi) => lebih aman karena tanpa pemanasan.

Berikut ini adalah pembahasan ttg penurunan kadar air madu dengan metode dehumidifikasi

Pada umumnya kualitas madu, cairan manis yang dihasilkan oleh lebah madu dari berbagai sumber nektar belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3545-2004 yang merupakan Revisi SNI 01-3545-1994, yang menyebutkan salah satu indikator madu dinyatakan memenuhi syarat adalah kadar air yang tidak lebih dari 22%. Demikian juga halnya dengan kualitas madu lebah hutan Sumbawa, masih tergolong rendah karena memiliki kadar air di atas 22%.

Mengingat pentingnya mengontrol kadar air untuk menjaga kualitas madu yang memenuhi standar tersebut, Saptadi dan tim peneliti Balai Penelitian Teknologi HHBK, Mataram telah melakukan penelitian dengan menggunakan teknik penguapan menggunakan dehumidifier (alat yang berfungsi menurunkan kelembaban udara untuk mengkondensasi air dari udara) yang diaplikasikan dalam bangunan penurun kadar air madu dengan ruangan kedap.

Yang menjadi pertimbangan dalam menggunakan teknik ini karena teknik penguapan (dehumidifikasi) adalah teknik menurunkan kadar air madu yang dinilai paling efektif karena dapat meminimalkan kerusakan madu. Teknik ini dinilai lebih aman karena tidak menurunkan aktivitas atau menyebabkan punahnya enzim diastase, penyebab fermentasi yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan keasaman madu serta tidak meningkatkan indikator HMF (Hidroxy Methyl Furfural) akibat terdegradasinya gula madu sebagaimana jika dilakukan pemanasan, baik langsung maupun tidak langsung.

Bekerjasama dengan Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS), tim peneliti mendirikan salah satu bangunan penurun kadar air madu yang terletak di Desa Batu Dulang, Kecamatan Batu Lanteh, Kabupaten Sumbawa dengan ukuran 4,5 x 2 m2.

Penggunaan alat dehumidifier mampu menurunkan kelembaban udara yang menjadi salah satu faktor penyebab tingginya kadar air madu hutan alam Sumbawa. Sementara ruangan kedap yang dipasang pendingin udara difungsikan untuk menjaga suhu ruangan supaya tidak panas sehingga kadar air pada madu yang disimpan di dalamnya bisa turun.

Proses penurunan ini dititikberatkan pada prinsip pengeringan. Makin luas bidang kontak antara madu dengan udara pengering, makin banyak air yg diabsorbsi, sehingga kadar air dalam madu berkurang. Metode yang dilakukan untuk memperluas permukaan madu yaitu dengan meletakkannya pada wadah/tempat. Uji coba yang dilakukan dengan pengaturan suhu Air Conditioner (AC), 25°C dan 30°C dan ketebalan madu dalam wadah (2, 3 dan 4 cm) dengan alat dehumidifier (kelembaban) yang sama 40%.

Dari hasil pengujian tersebut juga disimpulkan bahwa kombinasi teknik penguapan dengan ruangan kedap dalam sebuah bangunan dapat menurunkan kadar air madu sehingga menghasilkan madu berkadar air memenuhi SNI, yaitu kurang dari 22%. Dengan kelembaban yang sama, tingkat penurunan kadar air pada suhu AC 25°C lebih tinggi dibandingkan pada suhu AC 30°C.

Dengan demikian, keberadaan bangunan penurun kadar air madu hasil kerjasama peneliti dengan masyarakat ini telah memberikan manfaat bagi koperasi madu yang ada di Desa Batu Dulang ini karena dapat meningkatkan kualitas madu sehingga mampu meningkatkan keuntungan nilai jual madu. Jika sebelumnya keuntungan bersih penjualan madu di desa ini sebesar Rp. 6.350 per botol, setelah kadar airnya diturunkan, keuntungan bersih meningkat menjadi Rp. 9.550 per botol sehingga terjadi peningkatan nilai tambah sebesar Rp. 3.200 atau sekitar 50,39 %. (PK/RH)***



Sumber : Makalah Penurunan Kadar Air Madu Hutan Alam Sumbawa

15/05/2020

Kristalisasi madu merupakan hal yang masih sangat sedikit diketahui oleh orang awam. Banyak yang mengira bahwa madu yang mengkristal adalah madu palsu. Padahal belum tentu seperti itu.

Kristalisasi madu merupakan hal yang spontan yang terjadi secara alami. Madu murni yang tidak dipanaskan biasanya akan mengalami kristalisasi seiring berjalannya waktu. Kristalisasi madu tidak akan mengubah kualitasnya, hanya saja warna dan teksturnya akan mengalami perubahan.

Madu memiliki kadar gula yang tinggi, dengan lebih dari 70% gula dan kurang dari 20% kadar air. Tingginya kadar gula di dalam madu membuat madu menjadi tidak stabil.

Kandungan gula utama di dalam madu adalah glukosa dan fruktosa, sementara yang menyebabkan kristalisasi adalah glukosa karena glukosa memiliki tingkat kelarutan yang lebih rendah dibandingkan fruktosa. Ketika glukosa mengkristal, ia akan terpisah dari air dan membentuk kristal yang teksturnya halus.

Kecepatan pembentukan kristal pada madu tergantung pada perbandingan glukosa dan fruktosa pada madu. Madu dengan kadar glukosa yang lebih tinggi daripada fruktosanya akan mengkristal lebih cepat.

Kristalisasi madu juga dipengaruhi oleh keberadaan partikel-partikel yang terkandung di dalam madu, seperti polen, royal jelly, propolis dan serpihan lilin lebah. Partikel-pertikel tersebut bertindak sebagai inti dari pembentukan kristal madu.

Selain itu, kecepatan kristalisasi pada setiap jenis madu juga berbeda. Beberapa jenis madu akan mengkristal dalam beberapa minggu setelah diekstrak dari sarang. Sementara beberapa jenis lainnya akan tetap dalam bentuk cair setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Contoh madu yang bisa mengkristal adalah Madu Karet, Madu Ketela Pohon, Mente dan Kaliandra. Sedangkan madu yang tidak bisa mengkristal adalah dari jenis madu flora seperti Madu Randu, Madu Rambutan, Madu Kopi, dan Madu Mangga.

Penting untuk diperhatikan bahwa kristalisasi madu bukanlah indikator utama untuk menentukan kualitas madu. Kondisi penyimpanan juga mempengaruhi pembentukan kristal pada madu.

Madu dapat membentuk kristal dengan cepat jika disimpan pada suhu 10-15°C (suhu kulkas/refrigerator). Namun, jika disimpan pada suhu di bawah 10°C (suhu pembeku/freezer), pembentukan kristal menjadi melambat. Suhu rendah akan meningkatkan kekentalan madu (madu menjadi lebih kental pada suhu dingin), sehingga pembentukan kristal melambat. Sementara itu, madu tidak akan membentuk kristal jika disimpan pada suhu sekitar 25°C (suhu ruang normal).

Supaya tidak mengkristal, madu dapat disimpan pada suhu ruang yang normal, yaitu sekitar 25°C. Madu tidak perlu disimpan di dalam kulkas. Jika madu mengkristal, madu dapat dicairkan kembali dengan menghangatkannya di dalam wadah gelas tahan panas yang diletakkan di dalam air bersuhu 40°C.

Demikian penjelasan tentang pengkristalan pada madu, diharapkan setelah membaca artikel ini, Anda tidak takut lagi untuk mengonsumsi madu yang sudah mengkristal.

11/05/2020

Buat yg masih tanya2...

Photos from Madu Hutan Asli Sumbawa's post 11/05/2020
10/05/2020

Madu, bakteri dan fermentasi

Semua makhluk hidup memerlukan air untuk hidup dan berkembang biak, termasuk bakteri. Bakteri memanfaatkan air dalam makanan untuk berkembang biak, oleh sebab itu makanan yg basah lebih cepat rusak daripada makanan yg kering. Namun tidak semua air dalam makanan bisa dimanfaatkan oleh bakteri, mereka hanya bisa memanfaatkan air bebas saja. Dalam ilmu pangan air bebas ini biasa disebut aktifitas air/water activity atau disingkat aw.

Bakteri memerlukan air bebas dalam jumlah lumayan bayak, ia bisa hidup jika air bebas (aw) dalam makanan berkisar 0,9 sedangkan aw madu berkisar 0,6. Karena aw madu sangat rendah menyebabkan bakteri tidak bisa hidup dalam madu. Namun, semakin encer madu nilai aw juga meningkat. Para ahli menghubungkan kadar air madu dan aw dengan rumus.

aw = 0,262 + 0,0179 %kadar air.

Contoh perhitungannya demikian, jika kita mempunyai madu dg kadar air 20% maka aw madu adalah :
aw = 0,262 + 0,0179(20)
= 0,262 + 0,358
= 0,62

Namun terdapat juga mikroba yang tahan terhadap aw rendah yaitu dari jenis khamir. Khamir yang ditemukan dalam madu dari spesies Saccharomyces cerevisiae.
Khamir masih mampu bertahan hidup pada aw 0,6 meskipun dia tidak bisa berkembang biak, tetapi dia tidak mati. Sehingga begitu aw meningkat (misalnya ada penambahan air) maka khamir langsung berkembang biak. Proses berkembang biaknya khamir ini biasa disebut fermentasi.
Pada proses fermentasi khamir akan memakan gula dalam madu. Sehabis makan ia akan berkeringat, kalau manusia keringatnya tidak enak... kalau khamir ia mengeluarkan CO2, berbagai asam dan alkohol.
CO2 berbentuk gas yang semakin lama semakin banyak menyebabkan wadah madu menggelembung dan door ...!!! Pecah
Asam yang dihasilkan menyebabkan madu berubah rasa menjadi kecut.
Alkohol yang dihasilkan semakin lama jumlahnya semakin banyak, semakin encer madu semakin cepat khamir menghasilkan alkohol.

MADU HUTAN SUMBAWA 1 09/05/2020

Selamat Pagi..
Yuk nonton ttg madu sumbawa..

MADU HUTAN SUMBAWA 1 Madu Hutan Aseli Sumbawa

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Denpasar?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Website

Address


Denpasar