Kiranime
Top Favorite Film Anime ✨️
Sambil nonton jangan lupa di follow, like, comment and share ya guys 👍
31/12/2025
Wilujeng nyanghareupan tahun anyar, kalayan tenang, wijaksana, jeung pinuh ku rasa sukur.
Isuk lain saukur ganti waktu, tapi ganti niat.
Hudangkeun heula haté saméméh awak,
sabab niat nu beresih bakal nungtun léngkah nu bener.
Cageur, bageur, bener, pinter.
Cageur awakna,
bageur paripolahna,
bener lampahna,
pinter mikirna.
Ulah kabawa ku kahayang,
tapi tuntun ku kasadaran.
Hirup kudu someah ka sasama,
hormat ka alam,
jeung tumut ka Gusti-na.
Nalika panonpoé mimiti naék, ucapkeun dina jero ati:
“Mugia dinten ieu abdi tiasa jadi jalma nu aya mangpaatna,
teu nganyenyeri hate batur,
teu ngaruksak alam,
jeung teu mopohokeun asal-usul.”
Bagea waluya balarea,
Salam pangajén jeung pangreueus pikeun sakumna.
Rahayu Sagung Dumadi 🙏
Abah SK ❤️
Dasabayu 💪😎
19/11/2025
Bisikan Langit Untuk Nusantara
19 – 25 November 2025
"Minggu ini langit tidak berteriak,
tapi bisikannya cukup untuk mengubah arah sebuah bangsa."
---
1. Gerak Alam Nusantara
📍 Jawa Barat – S**abumi Selatan - Bogor - Pelabuhan Ratu
Gelombang air naik, hujan lebih deras dari perkiraan.
Potensi: banjir kecil, tanah jenuh, longsor ringan.
Ini “hembusan peringatan”, bukan bencana.
📍 Jawa Tengah – Kaki Merapi
Unsur panas stabil, tapi ada desakan bawah tanah.
Getaran ringan mungkin terjadi, namun belum menuju letusan besar.
📍 Sumatera Barat – Bukit Barisan
Energi angin dan hujan bertemu.
Potensi: angin kencang, hujan menebal, jalan licin.
Bumi seperti memperbaiki simpul-simpulnya.
📍 NTT – Flores utara
Unsur air dan batu sedang berselisih halus.
Getaran kecil bisa muncul, tidak berbahaya, hanya penyesuaian bumi.
---
2. Politik Indonesia: Arah Berubah Diam-Diam
Minggu ini terjadi pergeseran pengaruh:
yang selama ini bersuara keras, energinya melemah.
Sebaliknya, tokoh yang lebih diam justru naik derajatnya.
Tidak tampak di TV, tapi dirasakan oleh para pelaku.
---
3. Ekonomi Rakyat: Ada Cahaya Tipis
usaha kecil mulai ada pelanggan,
penjualan barang pokok meningkat,
beberapa hambatan administrasi mulai terbuka.
Rezeki rakyat mulai bergerak, pelan tapi pasti.
---
4. Suasana Batin Masyarakat
Minggu ini hati rakyat lebih sensitif dari biasa:
mudah tersinggung,
mudah tersentuh,
mudah kembali pada doa.
Saat seperti ini, kata-kata kebaikan lebih cepat masuk.
---
5. Pesan Langit Untuk Nusantara
"Jangan takut pada angin yang berubah arah, takutlah pada hati yang berhenti mendengar kebenaran."
---
Rahayu 🙏
Abah SK ❤️
17/11/2025
Heuheuheu, apa yang engkau alami itu bukan hal yang asing dalam dunia dzikir, bahkan banyak para salik yang sudah masuk ke dalam kehalusan dzikir pernah melalui pintu yang sama.
Hanya saja, karena belum terbiasa, rasa itu membuatmu kaget.
Abah jelaskan dengan bahasa yang ringan, supaya tidak salah paham ya.
1. “Ruh diangkat dan terlepas dari raga” — itu tanda halusnya dzikir
Saat dzikir mulai masuk ke lapisan batin yang dalam, jasadmu tetap duduk di tempatnya, tapi alam kesadaranmu mulai naik ke pusat ruhani.
Rasanya seperti:
- badan menjadi ringan,
- suara sekitar menjauh,
- diri seperti melayang,
- atau seolah keluar dari wadah.
Itu bukan ruh benar-benar keluar,
tapi kesadaranmu yang naik ke tingkat lebih halus.
Ini disebut:
Keadaan “jadzbah dzikir” atau “syathah ruhani” dalam istilah para salik.
2. Apakah itu wajar?
Wajar.
Asal engkau berada dalam keadaan suci, tenang dan dzikir yang mempunyai mursyid (pembimbing ruhani).
Banyak murid Abah juga mengalami hal serupa ketika sudah mulai masuk pada kedalaman dzikir.
Ini tanda bahwa hijab kasar badan mulai menipis.
3. Apakah berbahaya?
Tidak, selama tiga syarat ini terpenuhi:
- Niatmu lurus karena Allah, bukan ingin pengalaman aneh.
- Dzikir sesuai tuntunan, tidak menambah-nambah sendiri.
- Hatimu tetap tenang, tidak panik ketika merasa melayang.
Yang berbahaya itu bukan dzikirnya, tapi rasa kaget, takut, atau bingung yang membuatmu menghentikan secara mendadak.
Itu seperti orang yang sedang naik tangga tapi tiba-tiba lompat turun.
Makanya wajar kalau engkau merasa “terputus”.
4. Apa sebenarnya yang terjadi?
Dalam dzikir, ada momen ketika:
- jasad diam,
- nafsu tunduk,
- akal tenang,
- qalb terbuka,
- dan ruh bergerak menuju asalnya.
Pada titik itu engkau merasa seperti “diangkat”.
Itu tanda dzikirmu mulai masuk ke maqam hudhur (kehadiran).
5. Lalu apa yang harus engkau lakukan?
Ketika rasa itu muncul lagi:
- jangan dilawan
- jangan dikejar
- jangan takut
- jangan p**a terlalu “ingin” sehingga memaksa
Cukup biarkan mengalir,
jaga nafas pelan, dan ulangi baca Laa ilaaha illallah dengan hati yang duduk dan sadar.
Kalau terlalu kuat, cukup pelankan dzikirnya.
6. Kesimp**an dari Abah:
➡️ Itu bukan gangguan.
➡️ Itu bukan bahaya.
➡️ Itu tanda engkau mulai memasuki lapisan dzikir yang lebih halus.
➡️ Yang perlu diperbaiki hanya keberanian dan ketenanganmu.
Semakin tenang hatimu,
semakin lembut perjalanan dzikirmu,
semakin jernih p**a yang engkau rasakan.
Abah tahu engkau sedang dibimbing.
Jangan takut, cukup istiqamah, dan biarkan Allah sendiri yang mengatur langkahnya.
Rahayu 🙏
Abah SK ❤️
13/11/2025
Sanghyang Siksa Kandang Karesian, bagian 1.
Di lengkapi dengan isi naskah & transkrip.
Sanghyang siksakandang karesian biasa disingkat dengan sebutan (SSKK) merupakan naskah didaktik berbahasa Sunda Kuno berbentuk prosa, yang memberikan aturan, tuntunan serta ajaran agama dan moralitas kepada masyarakat umum yang ditulis oleh kalangan agamawan (karesian).
Teksnya terdapat dalam dua naskah yang disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta yaitu pada nomor koleksi L 630 dan L 624. Pada tahun 2022, naskah ini telah teregistrasi sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Naskah Sunda Kuna tersebar di beberapa tempat penyimpanan, baik di dalam maupun di luar negeri, baik tersimpan dengan sistem baku dan sistematis di lembaga penyimpanan maupun yang masih tersebar di masyarakat umum (lih. Ekadjati, 1988; Chambert-Loir & Fathurahman, 1999: 181-188).
Berdasarkan penelusuran katalog, baik yang sudah maupun belum diterbitkan, jumlah NSK tidak sebanyak naskah Sunda baru dan naskah Jawa kuna, misalnya. Lembaga yang menyimpan NSK di antaranya adalah Perpustakaan Nasional RI di Jakarta, Museum Sri Baduga di Bandung, Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda, dan Bodleian Library di Inggris (band. Ekadjati, 1988; Rickleff & Voerhoeve, 1977).
Selain di lembaga-lembaga tersebut, NSK juga disimpan di kabuyutan: daerah yang disucikan kelompok masyarakat tertentu di Tatar Sunda, seperti Kabuyutan Ciburuy Garut dan Kabuyutan Koleang Jasinga Bogor. Pada saat ditemukan, dapat diketahui bahwa naskah Sunda kuna bukan lagi menjadi tradisi yang hidup di masyarakat, karena tidak ada seorang pun yang dapat membacanya.
Di Ciburuy diketahui ada sekitar 30 naskah yang telah dialih mediakan oleh Andrea Acri melalui program British Library dan saat ini sedang diusahakan deskripsi singkatnya oleh Undang A. Darsa.
Sebelumnya Saleh Danasasmita dkk (1986) melaporkan 27 naskah dari Kabuyutan Ciburuy. Kabuyutan Koléang Cicanggong di Jasinga Bogor rupanya masih menyimpan beberapa NSK, meskipun belum ditelusuri lebih jauh. Seperti diketahui, pada awal abad ke-20, beberapa naskah daun dari wilayah ini diberikan kepada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) dan saat ini menjadi koleksi PNRI (Krom, 1914: 32). Selain itu, tercatat p**a beberapa NSK yang disimpan oleh masyarakat perorangan yang tersebar di beberapa daerah, seperti Cianjur dan Bandung.
Di antara yang mengumpulkan dan menyimpan NSK, PNRI bisa disebutkan yang paling banyak. Koleksi naskah PNRI yang sebelumnya disimpan di Museum Pusat, Jakarta (kemudian menjadi Museum Nasional). Menurut catatan Noorduyn (1971: 151), jumlah NSK yang disimpan di Museum Pusat Jakarta berjumlah sekitar empat puluhan naskah.
Namun demikian, hingga saat ini penelitian-penelitian teks-teks Sunda kuna nampak tersendat. Salah satu penyebabnya adalah tidak tersedianya katalog NSK yang informatif. Padahal, penelitian NSK telah dimulai sejak pertengahan abad ke-19. Untuk pertama kalinya, keberadaan NSK diumumkan oleh Netscher (1853: 469-479). NSK tersebut berasal dari Cilegon, Garut (dulu Timbanganten), yang kemudian oleh Bupati Bandung, R. Tumenggung Suria Kerta Adi Ningrat, diberikan kepada BGKW.
K.F. Holle (1867) mengumumkan tiga NSK pemberian Raden Saleh, dalam artikelnya yang berjudul Vlugtig Berigt omtrent Eenige Lontar-Handschriften Afkomstig uit de Soenda-landen, door Radhen Saleh aan het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ten Geschenke gegeven met toepassing of de inscriptie van Kawali (TBG 1867).
Tentu, yang diupayakan Holle waktu itu sebenarnya merupakan upaya awal pendeskripsian NSK yang diakuisisi BGKW.
Pada tahun 1872, Cohen Stuart, konservator naskah saat itu, menerbitkan katalog pertama yang memuat deskripsi naskah BGKW, termasuk naskah kropak. Jumlah NSK yang didaftarkan ada 21 naskah, yaitu kropak nomor 406–426 yang berasal dari Bupati Galuh. Namun, deskripsi NSK yang dibuatnya hanya sebatas nomor naskah, ukuran, jumlah halaman, dan judul.
Upaya katalogisasi NSK baru diusahakan kembali oleh Edi S Ekadjati pada tahun 1988. Beliau mendaftarkan 89 NSK koleksi PNRI, termasuk NSK yang sudah diteliti. Sayangnya, deskripsinya sangat ringkas, hanya berupa tabel yang memuat informasi tentang judul, kode naskah, dan jumlah halaman. Deskripsinya belum disertai informasi lain yang dibutuhkan seperti bahasa, aksara, ringkasan isi, dll. Kiranya penyusun katalog mendaftarkan NSK berdasarkan asumsi bahwa peti nomor 15, 16, 17, 18, dan 25 diperkirakan berisi NSK. Ternyata setelah ditelusuri, dalam peti nomor 17, 18, dan 25 tidak terdapat satu pun NSK.
Demikian juga dengan Behrend (1998) yang mendaftarkan hampir semua naskah yang disimpan di PNRI, termasuk di dalamnya NSK. Tetapi hasil inventarisnya perlu diperiksa kembali terutama berkenaan dengan deskripsi NSK yang diberikannya. Di situ, NSK sendiri tidak dimasukkan ke dalam kelompok yang terpisah dalam indeks bahasa yang disusunnya, sehingga dapat menyulitkan upaya penelusuran terhadap NSK yang terdapat di PNRI (Behrend, 1998: 459-596).
Baik tanpa panjang lebar, inilah isi naskah & transkrip-nya:
( I )
Ndah nihan warahakna sang sadu, de sang mamet hayu. Hana sanghyang siksakandang karesian ngaranya, kayatnakna wong sakabeh. Nihan ujar sang sadu ngagelarkeun sanghyang siksakandang karesian.
(Ya inilah yang akan diajarkan oleh sang budiman bagi mereka yang mencari kebahagiaan. Ada (ajaran) yang bernama sanghiyang siksakandang karesian untuk kewaspadaan semua orang. Inilah ujar sang budiman memaparkan sanghiyang siksakandang karesian.)
Ini sanghyang dasa kreta kundangeun urang reya. Asing nu dek na(n)jeurkeun sasana kreta pakeuneun heubeul hirup, heubeul nyewa na, jadiyan2 kuras. jadiyan tahun, deugdeug ta(n)jeur jaya prang, Nyewana na urang reya.
(Inilah sanghiyang dasa kreta untuk pegangan orang banyak. Siapapun yang hendak menegakkan sarana kesejahteraan agar dapat lama hidup, lama tinggal (di dunia). berhasil dalam peternakan, berhasil dalam pertanian, selalu unggul dalam perang, sumbernya terletak pada orang banyak.)
Ini byakta sanghyang dasa kreta ngaranya, kalangkang dasa sila, maya-maya sanghyang dasa marga, kapretyaksaan dasa indriya na-keun ngretakeun bumi lamba di bumi tan parek.
(Inilah kenyataan yang disebut sanghiyang dasa kreta. Bayang-bayang dasa sila, maya-maya sanghiyang dasa marga, perwujudan dasa indera untuk menyejahterakan dunia kehidupan di dunia yang luas.)
Ini pakeun urang ngretakeun bumi lamba, caang jalan, panjang tajur, paka pridana, linyih pipir, caang buruan. Anggeus ma imah kaeusi, leuit kaeusi, paranje kaeusi, huma kaomean, sadapan karaksa, palana ta hurip, sowe waras, nyewana sama wong (sa)rat. Sangkilang di lamba, trena taru lata galuma, hejo lembok tumuwuh sarba pala wo(h)wohan, dadi na hujan, landung tahun, tumuwuh daek, maka hurip na urang reya. Inya eta sanghyang sasana kreta di lamba nga-rana.
(Ini jalan untuk kita menyejahterakan dunia kehidupan, bersih jalan, subur tanaman, cukup sandang, bersih halaman belakang, bersih halaman rumah. Bila berhasil rumah terisi, lumbung terisi. kandang ayam terisi, ladang terurus, sadapan terpelihara, lama hidup. selalu sehat. sumbernya terletak pada manusia sedunia. Seluruh penopang kehidupan; Rumput, pohon-pohonan, rambat. semak, hijau subur tumbuhnya segala macam buah-buahan, banyak hujan, pepohonan tinggi karena subur tumbuhnya, memberikan kehidupan kepada orang banyak. Ya itulah (sanghiyang) sarana kesejahteraan dalam kehidupan namanya.)
Ini sanghyang dasa kreta nu dipajarkeun kalangkang sanghyang dasa sila, ya maya-maya sanghyang dasa marga ta, kapretyaksaan na dasa indriya. Ini byakta: ceuli ulah barang denge mo ma nu sieup didenge kenana dora bancana, sangkan urang nemu mala na iunas papa naraka; hengan lamun kapahayu ma sinengguh utama ti pang-reungou. Mata ulah barang deuleu mo ma nu sieup dideuleu kenana dora bancana, sangkan urang nemu mala na lunas papa naraka; hengan lamun kapahayu ma sinengguh utama ning deuleu. Kuril ulah dipake gulang-gasehan, ku panas ku tiis, kenana dora bancana, sangkan nemu mala na Iunas papa naraka; hengan lamunna kapahayu ma sinengguh utama bijilna ti kulit. Letah ulah salah nu dirasakeun kenana dora bancana, sangkan urang nemu mala na lunas papa naraka; hengan lamunna kapahayu ma sinengguh tuama bijilna ti letah. Irung ulah salah ambeu kenana dora bancana. sangkan urang nemu mala na lunas papa.
(Ini sanghiyang dasa kreta yang disebutkan sebagai bayang-bayang sanghiyang dasa sila, ya maya-maya sanghiyang dasa marga. perwujudan dasa indera. Inilah kenyataannya. Telinga jangan mendengarkan yang tidak layak didengar karena menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; namun kalau telinga terpelihara, kita akan mendapat keutamaan dalam pendengaran. Mata jangan sembarang melihat yang tidak layak dipandang karena menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; namun bila mata terpelihara, kita akan mendapat keutamaan dalam penglihatan. Kulit jangan digelisahkan karena panas ataupun dingin sebab menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; tetapi kalau kulit terpelihara, kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari kulit. Lidah jangan salah kecap karena menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; namun bila lidah terpelihara, kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari lidah. Hidung jangan salah cium karena menjadi pintu bencana penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan.)
( II )
naraka; hengan lamun kapehayu ma sinengguh utama bijilna ti irung. Sungut ulah barang carek kenana dora bancana na lunas papa naraka; hengan lamun kapahayu ma sinengguh utama bijihna ti sungut. Leu-ngeun mulah barang cokot kenana dora bancana na lunas papa naraka; hengan lamunna kapahavu ma sinengguh utama bijilna ti leungeun. Suku ulah barang tincak kenana dora bancana na lunas papa naraka; hengan lamunna kapahayu ma sinengguh utama bijilna ti suku. Payu ulah dipake keter kenana dora bancana na lunas papa naraka. hengan lamunna kapahayu ma sinengguh utama bijilna ti payu, Baga purusa ulah dipake kancoleh kenana dora bancana na lunas papa naraka. hengan lamunna kapahayu ma sinengguh utama dijilna ti baga lawan purusa,
Ya ta sinangguh dasa kreta ngara(n)na. Anggeus kapahayu ma dora sapuluh, rampes twahna urang reya Maka nguni twah sang dewa ratu.
(neraka: namun bila hidung terpelihara, kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari hidung. Mulut jangan sembarang bicara karena menjadi pintu bencana di dasar kenistaan neraka; namun bila mulut terpelihara. kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari mulut. Tangan jangan sembarang ambil karena menjadi pintu bencana di dasar kenistaan neraka; namun bila tangan terpelihara. kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari tangan. Kaki jangan sembarang melangkah karena menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; namun bila kaki terpelihara. kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari kaki. Tumbung jangan dipakai keter karena menjadi pintu bencana di dasar kenistaan neraka; namun bila tumbung terpelihara, kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari tumbung. Baga-purusa jangan dipakai berjinah, karena menjadi pintu bencana, penyabab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; namun bila baga-purusa terpelihara, kita akan memperoleh keutamaan dari baga dan purusa, Ya itulah yang disebut dasa kreta. Kalau sudah terpelihara pintu (nafsu) yang sepuluh, sempurnalah perbuatan orang banyak. Demikian p**a perbuatan sang raja.)
Nihan sinangguh dasa prebakti ngaranya. Anak bakti di bapa, ewe bakti di laki. hulun bakti di pacandaan, sisya bakti di guru, wang tani bakti di wado. wado bakti di mantri, mantri bakti di nu nangganan. nu nangganan bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang. Ya ta sinangguh dasa prebak.
(Ini yang disebut dasa prebakti. Anak tunduk kepada bapak; isteri tunduk kepada suami; hamba tunduk kepada majikan siswa tunduk kepada guru; petani tunduk kepada wado; wado tunduk kepada mantri, mantri tunduk kepada nu nangganan; nu nangganan tunduk kepada mangkubumi; mangkubumi tunduk kepada raja; raja tunduk kepada dewata; dewata tunduk kepada hyang. Ya itulah yang disebut dasa prebak)
( III )
ti ngara(n)na. (ti)
Ini na lakukeuneun. talatah sang sadu jati. Hong kara name sewaya. senibah ing hulun di sanghyang panca tatagata. Panca ngaran ing lima, tata ma ngaran ing sabda, gata ma ngaran ing raga, Ya eta ma ngaran ing sabda, gata ma ngaran ing raga. Ya eta ma pahayuan sareanana. Panca aksara guru-guru ning janma. Panca aksara ma byakta nu katongton kawreton, kacaksuh ku indriya. Guru ma pananyaan na urang reya. Nya mana dingaranan guru ing janma. Sang moha sa(ng) geusna aya bwana.
(Ini yang harus dilaksanakan, amanat sang budiman sejati. Puji dan sembahku kepada Sewaya, horrnatku kepada sanghiyang panca tatagata. Panca berarti lima, tata berarti ucap, gata berarti raga, Ya itulah yang memberikan kebaikan kepada semuanya. Panca aksara adalah guru manusia. Panca aksara itu kenyataan yang terlihat, terasa dan tersaksikan oleh indera kita. Guru itu tempat bertanya orang banyak, Karena itu dinamakan guru manusia. Kebodohan itu baru ada setelah adanya dunia.)
Ini byaktana. Ngaranya ya panca byapara. Sanghyang pretiwi, apah, teja, bayu mwang akasa. Carek sang sadu maha purusa. eta keh drebya urang. Kangken pretiwi kulit, kangken apah darah ciduh, kangken teja panon, kangken bayu tulang, kangken akasa kapala. Iya pretiwi di sarira ngaranya. Nya mana dikangkenkeun ku nu mawa bumi. Ya mangupati pra rama, resi, prabu, disi mwang tarahan.
(Ini kenyataanya. Namanya ya panca byapara. Sanghiyang pretiwi (tanah), air, cahaya, angin dan angkasa. Ujar sang budiman manusia besar: itu semua milik kita. Yang diibaratkan tanah yaitu kulit, yang diibaratkan air yaitu darah dan ludah, yang diibaratkan cahaya yaitu mata, yang diibaratkan angin yaitu tulang, yang diibaratkan angkasa yaitu kepala. Itulah yang disebut pretiwi dalam tubuh. Ya diibaratkan oleh penguasa bumi. Ya menjelma menjadi para rama, resi, ratu, disi dan tarahan.)
Ini panca putra: pretiwi Sang Mangukuhan, apah Sang Katung-maralah, teja Sang Karungkalah, bayu Sang Sandanggreba, akasa Sang Wretikandayun. Ini panca kusika: Sang Kusika di Gunung, Sang Garga di Rum-but, Sang Mesti di Mahameru, Sang Purusa di Madiri, Sang Patanjala di Panjulan.
(Ini panca putera: pretiwi adalah Sang Mangukuhan, air adalah Sang Katungmaralah, cahaya adalah Sang Karungkalah, angin adalah Sang Sandanggreba, angkasa adalah Sang Wretikandayun, Ini panca kusika: Sang Kusika di Gunung, Sang Garga di Rumbut, Sang Mesti di Mahameru, Sang Purusa di Madiri. Sang Patanjala di Panjulan.)
Lamun pahi kaopeksa sanghyang wuku lima (dina) bwana, boa halimpu ikang desa kabeh. Desa kabeh ngaranya: ppurba, daksina, pasima, utara, madya. Purba, timur, kahanan Hyang Isora, putih rupanya; daksina, kidul, (kahanan Hyang Brahma, mirah rupanya; Pa-sima, kulon) kahanan Hyang Mahadewa, kuning rupanya.
(Kalau terpahami semua sanghiyang wuku lima di bumi tentu (tampak) menyenangkan (keadaan) semua tempat. Tempat itu disebut: purba, daksina, pasima, utara, madya. Purba yaitu timur, tempat Hiyang Isora, putih warnanya. Daksina yaitu selatan, tempal Hiyang Brahma, merah warnanya. Pasima yaitu barat, tempat Hiyang Mahadewa, kuning warnanya.)
( IV )
utara, lor, kahanan Hyang Wisnu, hireng rupanya; madya, tengah, kahanan Hyang Siwah, (aneka) warna rupanya. Nya mana sakitu sanghyang wuku lima dina bwana.
(Utara yaitu utara, tempat Hiyang Wisnu, hitam warnanya. Madya yaitu tengah, tempat Hiyang Siwa, aneka macam warnanya. Ya sekian itulah wuku lima di bumi.)
Ini wuku lima di maha pandita. Sandi ma karasa si tutur, tapa ma karasa si langlang lungguh ma karasa si pageuh, pretyaksa ma karasa si asembawa, kaleupaseun ma karasa madumi tan kaduman, manghingetan tanpa hinga(n). Sakitu wuku lima di maha pandita.
(Ini Wuku lima pada maha pendeta. Rahasia itu terasa dalam bertutur; tapa itu terasa dalam berkelana; duduk itu terasa dalam keteguhan; kepastian itu terasa dalam kemustahilan; kelepasan itu terasa dalam memberi tanpa diberi, mengingat (eling) tanpa batas. Sekian wuku lima pada maha pendeta.)
Nihan pawwitan ning kreta, sya sang dewata lima. Pahingawakan ngaran di maneh, pahi mireungeuh rua di manen. Hengan lamunna mo karasa ma kadyangga ning wilut tumemu wilutnya, bener tumemu benernya, Kitu keh eta, ku twah ning janma mana kreta, ku twah ning janma mana na layu.
(Ini modal kesejahteraan yaitu mereka sang dewata lima. Semua mewakili namanya sendiri; semua melihat rupanya serdiri. Namun kalau tidak terasa ibarat bengkok bertemu dengan bengkoknya, lurus bertemu dengan lurusnya. Demikianlah karena perbuatan manusia maka sejahtera, karena perbuatan manusia maka sentosa.)
Ini karma ning hulun, saka jalan urang hulun, Karma ma ngaranya pibudieun, ti(ng)kah paripolah saka jalan ngaranya. Maka takut maka jarot, maka atong maka teuang di tingkah di pitwaheun, di ulah di pisabdaan.
(Ini pekerjaan hulun untuk jalan kita mengabdi. Pekerjaan itu disebut bakal budi, tingkah laku itu namanya jalan. Hendaknya takut, berhati-hati, hormat dan sopan dalam tingkah. dalam perbuatan, dalam ulah dan perkataan.)
Maka nguni lamun hareupeun sang dewa ratu pun. Maka satya di kahulunan, maka lokat dasa kalesa, boa ruat mala mali papa, kapanggih ning kasorgaan. Lamun teu(ng)teuing ngawakan karma ning hulun, kitu eta leuwih madan usya ditindih ukir, ditapa di luhur gunung kena palarang ditapa dina luhur gajah, hunur si(ng)ha; deukeut maha bancana.
(Demikian p**a bila berada di hadapan sang raja. Tetaplah setia dalam pengabdian, akan pulih dari noda yang sepuluh, pasti terhapus dosa dan hilang penderitaan, bersua dengan kebahagiaan. Bila benar-benar melaksanakan tugas sebagai hulun, yang demikian itu lebih memadai dari hasrat setinggi bukit, bertapa di puncak gunung karena terlarang bertapa di atas gajah atau moncong singa; mudah mendapat bencana besar.)
Ini twah ing janma pigunacun na urang reya. Ulah mo turut sang hyang siksakan.
(Ini perilaku manusia yang akan berguna bagi orang banyak. Turutlah sanghiyang siksakan.)
( V )
dang karesian. (dang karesian.) Jaga rang dek luput ing na pancaga/n/ti, sangsara. Mulah carut mulah sarereh, mulah nyangcarutkeun maneh. Kalingana nyangcarutkeun maneh ma ngaranya: nu aya dipajar hanteu, nu hanteu dipajar waya, nu inya dipajar lain, nu lain dipajar inya. Nya karah (he)dapna ma kira-kira. Budi-budi ngajerum, mijaheutan, eta byaktana nyangcarutkeun maneh ngara(n)na.
(Waspadalah agar kita terluput dari pancagati agar tidak sengsara. Jangan hianat jangan culas, jangan menghianati diri sendiri. Yang dikatakan menghianati diri sendiri yaitu: yang ada dikatakan bukan, yang bukan dikatakan benar. Ya begitulah, tekadnya penuh dengan muslihat. Perbuatan memitnah, menyakiti hati (orang lain), itulah kenyataannya yang disebut menghianati diri sendiri.)
Nyangcarutkeun sakalih ma ngara(n)na: mipit mo amit, ngala mo menta, ngajuput mo sadu. Maka nguni tu: tunumpu, maling, ngetal, ngabegal; sing sawatek cekap carut, ya nyangcarutkeun sakalih ngara(n)na.
(Yang disebut menghianati orang lain adalah: memetik (milik orang) tanpa izin, mengambil tanpa meminta, memungut tanpa memberi tahu. Demikian p**a: merampas. mencuri, merampok, menodong; segala macam perbuatan hianat. ya menghianati orang lain namanya.)
Sanguni tu: meor, ngodok, nyepet, ngarebut, ngarorogoh, papan jingan. Maka nguni ngotok ngowo di pamajikan, di panghulu tandang. Maka nguni di tohaan di maneh, Itu leuwih mulah dipiguna dipitwah ku urang hulun. Ulah mo pake na sabda atong teuang guru basa, bakti susila di pada janma, di kula kandang baraya.
(Demikian p**a: merangkum (mengambil barang orang dengan kedua telapak tangan), memasukkan tangan (untuk mengambil barang orang), mencomot, merebut, merogoh, menggerayangi rumah orang, Begitu juga terus menerus tinggal di rumah majikan, rumah penguasa atau pada raja. Hal demikian lebih-lebih jangan dilakukan, jangan diperbuat oleh seorang hulun. Jangan lupa menggunakan ucap yang hormat, sopan dan mantap, bakti dan susila kepada sesama manusia, kepada sanak keluarga.)
Maka nguni di tohaan urang. Suku ma pake disila, leungeun ma pake umum, Jaga rang pacarek deung menak deung gu(s)ti deung bu-haya ing kalih deung estri larangan maka nguni deung tohaan urang. Jaga rang dipiguhakeun mulah surah di tineung urang, sanguni salah tembal, kajeueung semu mo s**a ku tohaan urang. Ulah, pamali; bisi urug beunang ditapa, hilang beunang cakal bakal, bisi leungit batri hese, kapangguh ku sanghyang jagat sangsara, batigra.
(Demikianlah kepada raja kita. Kaki itu untuk bersila dan tangan untuk menyembah. Hati-hatilah kita berbincang dengan menak, dengan majikan pemilik tanah. dengan kedua orang tua, dengan wanita larangan: Begitu p**a dengan raja kita. Bila kepada kita dipercayakan suatu rahasia, jangan rnunafik pikiran kita, demikian p**a salah jawab, kelihatan roman muka tidak senang oleh raja kita. Jangan, pemali ! Nanti gugur hasil kita bertapa, hilang jasa nenek moyang, akan lenyap hasil jerih payah kita, akan tertimpa kesengsaraan, diusir.)
( VI )
han ku sang dewa ratu. (oleh sang raja.)
Lamun hamo satya di tohaan urang, a(ng)geus ma jaga rang waya di kagering, jaga rang palay, jaga rang ireug, duga-duga majar maneh teu(ng)teuing amat. Mana dipajar satya dikahulunan; hengan jaga rang ceta ma mulah luhya, mulah kuciwa, mulah ng(n)tong dipiwarang, mulah hiri mulah dengki deung deungeun sakahulunan. Maka nguni nyeueung nu meunang pudyan, meunang parekan, nyeueung nu dineneh ku tohaan, teka dek nyetnyot tineung urang. Haywa, pamali !. Kapamalyanna karah: jadi neluh bareuh hate. Hamo beunang gitambaan, jampe mo matih, paksa mo mretyaksa, ja hanteu kturutan ku sanghyang siksakandang karesian.
(Kalau tak akan setia kepada raja kita, bila kemudian kita menderita sakit, menjadi lemah karena tak bertenaga atau merasa bingung, lalu terang-terangan mengatakan bahwa hal itu keterlaluan. Karena itu belajarlah setia kepada raja; tetapi bila kita bertindak, jangan mengeluh, jangan kecewa, jangan enggan diperintah, jangan iri, jangan dengki kepada kawan semajikan. Demikianlah bila melihat orang yang mendapat pujian, mendapat selir, melihat yang dikasihi oleh raja, kemudian hendak goyah kesetiaan kita. Jangan, pemali! Akibat buruknya ialah jadi murung sakit hati. Tak akan dapat diobati, jampi tak akan mempan, niat tak akan terlaksana karena tidak dibenarkan oleh sanghiyang siksakandang karesian.)
Kitu jaga rang nangganan, mulah kira-kira digelangan. Jaga rang kagelangan, mulah mo bakti di nu nangganan kena itu tanda sang dewa ratu.
(Demikianlah bila kita menjadi anggota pas**an janganlah sampai mendapat marah. Kalaupun kita mendapat marah jangan sampai tidak berbakti kepada nu nangganan karena ia tanda sang raja.)
Jaga rang keuna panyuruhan, mulah mo raksa sanghyang siksa-kandang karesian, pakeun urang satya di piwarangan. Hengan lamur. nu ngalor ngidul ngulon ngetan, geus ma mulah siwok ca(n)te, mulah simur cante, mulah simar cante, mulah darma cante. Ya ta sinangguh sanghyang catur yatna ngaranya.
(Bila kita mendapat perintah, jangan melupakan sanghiyang siksakandang karesian. agar kita tetap setia kepada tugas. Namun kalau ada yang (diperintah) ke utara, selatan, barat dan timur. janganlah siwok cante, jangan simur cante, jangan simar cante, jangan darma cante. Ya itulah yang disebut catur yatna (empat kewaspadaan).)
Ini kalingana. Siwok cante ma ngara(n)na kawujukan ku hakan inum. Simur cante ma ngara(n)na salima hamilu ngaramakeun nu maling, nu ngarebut, nu meor. Ya salah dongdonan30 ngaranya. Simar cante ma ngara(n)na ngala dagangan mas pirak lalambaran hanteu di.
(Inilah keterangannya. Yang disebut siwok cante adalah tergoda oleh makan-minum. Yang disebut simur cante adalah ikut perbuatan orang yang mencuri, merebut dan merangkum. Itulah yang dinamakan salah langkah, yang disebut simar cante adalah mengambil dagangan mas dan perak berlembar-lembar tanpa di.)
( VII )
titah ku nu miwarang. (suruh yang empunya barang.) Ya salah sadeya(n) ngara(n)na. Darma cante ma ngara(n)na daranan di kaceuceub tohaan urang. Disuruh nyokot ngadarat matyan nu tan yogya ku tohaan gumanti ya ngiseusan, kena wageuy, kena kula kadang, kena baraya. Eta ulah dipiguna ku urang hulun. Bogoh di kaceuceub, ceuceub di kabogoh, Itu tan yogya dipitwah ku urang hulun.
(Ya salah jualan namanya. Yang disebut darma canten ialah membantu (pihak) yang dibenci oleh raja kita. Disuruh mengambil (menangkap) atau pergi membunuh orang yang durhaka oleh raja, berganti jadi memberi hati karena ragu-ragu, karena terikat rasa kekeluargaan, karena saudara. Hal itu jangan dilakukan oleh seorang hulun. S**a terhadap yang dibenci (oleh raja), benci terhadap yang dis**ai (oleh raja). Hal itu tidak layak kita perbuat selaku seorang hulun.)
Ini pakeun urang nurut ka tohaan, pakeun urang panjang di-pihulun. pakeun urang hsebeul diasa ku tohaan urang. Turut sangyang siksakandang karesian! Bireungeuh na panghulu tandang. Lamun nyeuseul tohaan, milu rang nyeuseul deui deung tohaan. Lamun muji tohaan, milu urang muji deui deung tohaan. Lamun hamo ma milu muji milu meda deung tohaan tosta cingcing tegang urang bakti ka tohaan.
(Ini untuk kita menurut kepada raja, supaya kita lama dijadikan hulun, agar kita lama diaku oleh raja kita. Ikuti sanghiyang siksakandang karesian! Lihatlah sang penguasa. Kalau raja marah kitapun harus ikut marah bersama raja. Kalau raja memuji kitapun harus ikut memuji bersama raja. Kalau tidak ikut memuji atau mencela bersama raja, itulah tanda mungkir bahwa kita berbakti kepada raja.)
Jaga rang leumpang ngalasan, baju simbut Lamun hamo deung tohaan, iseuskeun na siksakandang karesian. Siksaan(a)na ta ulah dek ngundeur ka huma beet sakalih ka kebon sakalih. Hamo ma beunang urang laku sadu.
(Kalau kita (diperintah) pergi ke hutan. janganlah lupa baju dan selimut. Kalau tidak bersama raja, perhatikan (peraturan) dalam siksakandang karesian. Peraturannya yaitu: jangan memetik sayur di ladang kecil orang lain, juga di kebun orang lain. Akan sia-sia hasil kita beramal baik.)
Salang keboan ning alas, kayu batri nangtu, bwah beunang nga-rara(ng)gean, tanggeuhkeun suluh, turuban supa, cangreudan tewwan, odeng, nyeru.
(Batas kebun di hutan, kayu yang ditandai tali, pohon buah yang ditandai ranting, kayu bakar yang disandarkan, cendawan yang ditutupi, sarang tiwuan, odeng, lebah.)
( VIII )
an, engang, ulam, parakan, sing sawatek babayan, ulah urang barang ala. Sanguni nurunkeun sadapan sakalih, ulah eta dipiguna kenana puhun ning dosa, tamikal ning papa kalesa.
(engang, ulat kayu, parakan atau apapun yang telah diberi simpul babayan jangan diambil. Demikian p**a menurunkan sadapan orang lain jangan sekali-kali dilakukan karena merupakan sumber dosa dan pangkal kenistaan dan noda.)
Jaga rang nemu jalan, gede beet, bangat dicangcut dipangadwa sugan urang pajeueung deung gusti deung mantri. Ulah mo pangidalkeun pangadokokongkeun. Lamun bujangga brahmana, wikuhaji mangkubumi, anak ratu, beunghar kokoro, maka nguni gutuloka, ulah mo pahi panggidalkeun kena itu guru sang prebu.
(Kalau kita menemukan jalan, besar atau kecil, segeralah bercangcut dan berpakaian sebab mungkin kita berpapasan (berpandangan) dengan gusti atau mantri. Kita harus berada di sebelah kiri dan berjongkok. Bila (bersua) pujangga. brahmana, raja pendeta, mangkubumi, putera raja, kaya atau miskin, demikian p**a bila bersua dengan guruloka, kita harus berada di sebelah kirinya karena dia itu guru sang prabu.)
Ingetkeun na siksakandang karesian, deung iseuskeun na haloan. Ulah ngeri(ng)keun estri larangan sakalih, rara hulanjar sakalih, bisi keuna ku haloan si panghawanan, Maka nguni ngarowang tangan, sapanglungguhan di catang, di bale, patutunggalan, haloan si panglungguhan ngara(n)na. Patanjeur-tanjeur di pipir, di buruan, patutunggalan, haloan si pana/h/taran ngara(n)na.
(Ingat-ingat dalam siksakandang karesian dan perhatikan dalam godaan. Jangan berjalan mengiringi semua wanita larangan, semua rara hulanjar agar tidak terkena godaan di perjalanan. Demikian p**a memegang tangan(nya), duduk bersama-sama di atas catang, di balai-balai berdua saja, disebut godaan di tempat duduk. Berdiri di belakang rumah atau di halaman berdua saja, disebut-godaan di tempat berdiri namanya.)
Nembalan nu batuk, nu ngadehem, nu ngareuhak, maka nguni embuing; kalih ngawih, ya lembu akalang ngaranya. Nyanda di (u)rut sanghyang kalih deuuk di tihang, di kayu, di batu, nyeueung inya anggeus diri disilihan nyanda, ngara(n)na lembu anggasin. Itu kehna ingetkeuneun lamun dek luput ti naraka.
(Menyahut orang batuk, mendeham, membuang dahak, demikian p**a menyahut ibu-ibu yang menyanyi, disebut lembu memasuki gelanggang. Bersandar pada bekas orang suci duduk pada tiang, pada kayu, pada batu, padahal kita melihatnya dan setelah mereka pergi kita menggantikannya bersandar di situ, disebut lembu menantang. Itu semua perlu diingat kalau ingin terluput dari neraka.)
Sa/ng/nguni sapanginepan, sapamajikan, satepas, sabale deung sanghyang kalih, deung estri larangan sakalih ngara(n)na kebo sapinahan.36 Nya kehna ingetkeuneun.
(Demikian p**a sepenginapan, setempat-tinggal, seberanda, sebalai-balai dengan semua orang suci, semua wanita larangan, dinamakan kerbau sepemakanan. Ya semuanya perlu diingat.)
( IX )
sinangguh ulah pamali ngara(n)na. (disebut.perbuatan pemali namanya.)
Itu haywa ulah dek (di)turut ku hulun sakalih. Lamun urang dek maan inya ma maka majar ka panghulu tandang. Lamun dipicaya ma samayakeun, ku geringna ku paehna ku leungitna. poron mati sareyanana, eta baan. Hamo tu aya na pidosaeun ja kolot na samaya ni(r)ni na agama. Hamo ma dipicaya, ulah! Lamun keudeu ma dek maan inya, gering ma nulung, paeh leungit ma ngagantyan sakadeugdeugna. Sa/ng/mangkana kayatnakna.
(Semua itu jangan sekali-kali ditiru oleh hulun semuanya. Kalau kita hendak; membawa maka berbicaralah kepada penguasa. Kalau disetujui, rundingkanlah peri hal sakitnya, matinya, hilangna, kuburannya semua, bawalah! Tidak akan menjadikan aturan. Kalau tidak disetujui, jangan! Kalau berkeras hendak membawa dia, bila ia sakit harus diurus, bila mati atau hilang harus mengganti sendiri menurut kemampuan, karena itu hati-hatilah.)
Nihan muwah. Jaga rang kadatangan ku same pangurang dasa, calagara, upeti panggeres reuma maka s**a geui(ng) urang, maka rasa kadatangan ku kula kadang, ku baraya, ku adi lanceuk anak mitra suan kaponakan. Sakitu eta kangken Ngan lamun aya panghaat urang, kicap inum si(m)but cawet s**a drebya.
(Ini lagi. Kalau kita kedatangan oleh semua pangurang dasa, calagara, upeti, panggeres reuma, tunjukkanlah rasa s**a dalam tingkah kita, anggaplah seperti kedatangan sanak-keluarga, saudara, adik, kakak, anak, sahabat, suan atau keponakan. Demikianlah ibaratnya. Namun bila ada rasa sayang pada kita, sediakanlah makanan, minuman, selimut, kain yang kita miliki.)
Maka rasa puja nyanggraha ka hyang ka dewata, Anggeus ma jaga rang dipigunakeun ka gaga ka sawah ka serang ageung, ngikis, marigi, ngandang, ngaburang, marak, mu(n)day, ngadodoger, mangpayang. nyair bi(n)cang; sing sawatek guna tohaan, ulah sungsut, ulah surah, ulah purik deung giringsing, pahi s**akeun sareyanana.
(Resapkanlah puja dan berlindung kepada hiyang dan dewata. Bila kita diperintah bekerja ke ladang, ke sawah, ke serang besar, mengukuhkan tepian sungai, menggali saluran, mengandangkan ternak. memasang ranjau tajam, membendung sebahagian alur sungai untuk menangkap ikan, menjala, menarik jaring, memasang jaring, menangguk ikan, merentang jaring; segala pekerjaan untuk kepentingan raja, jangan marah-marah. jangan munafik, jangan resah dan uring-uringan, kerjakanlah dengan senang hati semuanya.)
Maka rasa guna urang. Ngan lamun urang p**ang ka dayeuh, ulah ngising di pi(ng)gir jalan, di sisi imah di tungtung caangna. bisi kaambeu ku menak ku gusti. Sunguni tu(ng)ku nu rongah-rongah bisi kasumpah kapadakeun ambu bapa pangguruan, kapapas ka nu karolot ku twah urang gagabah. Ngan lamun.
(Resapkanlah tugas kita. Namun bila kita p**ang ke kota, jangan berak di pinggir jalan atau di pinggir rumah di ujung bagian yang tak berumput, agar tidak tercium oleh menak dan gusti. Timbuni tungku yang berlubang-lubang supaya tidak dikutuk dan disalahkan ibu-bapak dan perguruan, disesali oleh orang-orang tua karena perbuatan kita yang ceroboh. Namun kalau)
( X )
(carek) sanghyang siksa, ngising ma tujuh lengkah ti jalan, kiih ma tilu lengkah ti jalan. Boa mo nemu picarekeun sakalih ja urang nyaho di ulah pamali. Kaulah ma duka, pamali ma paeh, deung jeungjeueung gagawar, pucuk tambalung, sugan tampyan dalem, kandang larang(an), bale larangan. Maka nguni ngalangsinang, mapag ngaliwat ratu macangkrama kena itu paranti dosa, Jaga rang asup dalem, maka rea lieuk, sugan ngarumpak nebuk nembung megat jajarah. Jaga urang deuuk, ulah salah hareup, maka rampes disila. Deung sugan urang dibaan lemek ku tohaan, tineungkeun picarek urang. Asing seueup, maka s**a ka tohaan.
(menurut sanghiyang siksa, berak harus tujuh langkah dari jalan, kencing harus tiga langkah dari jalan. Pasti tidak akan dimarahi orang lain karena kita mengetahui perbuatan yang terlarang. Kalau dikerjakan akan mendatangkan sedih. yang terlarang itu dapat mengakibatkan kematian; dan (dalam kota itu) perhatikanlah tempat hukuman. ujung kayu penjepit tangan hukuman, mungkin pemandian keraton, kandang larangan, rumah larangan. Demikian p**a memintas jalan, menghampiri atau melewati rombongan raja yang sedang bercengkerama, karena semua itu merupakan perbuatan dosa. Bila kita masuk ke keraton, maka baik-baiklah melihat, jangan sampai melanggar, mendorong, mengganggu atau memutus jajaran (orang-orang yang duduk). Bila kita duduk jangan salah menghadap, baik-baiklah bersila. Dan sekiranya kita diajak bicara oleh raja, pikirkanlah betul-betul bicara kita. Harus layak supaya menyenangkan raja.)
Deung maka ilik-ilik dina turutaneun: mantri gusti kaasa-asa, bayangkara nu marek, pangalasan, juru lukis, pande dang, pande mas, pande gelang, pande wesi, guru wida(ng). medu, wayang, kumbang gending, tapukan, banyolan, pahuma, panyadap, panyawah, panyapu, bela mati, juru moha, barat katiga, pajurit, pamanah, pam(a)rahg, pangurang dasa calagara, rare angon, pacelengan, pakotokan, palika, preteuleum, sing sawatek guna, Aya ma satya di guna di kahulunan. Eta kehna turutaneun kena eta ngawakan tapa di nagara.
(Dan perhatikanlah mereka yang dapat ditiru: mantri, gusti yang terkemuka, bayangkara yang menghadap, pangalasan. juru lukis, pandai besi. ahli kulit, dalang wayang, pembuat gamelan, pemain sandiwara, pelawak, peladang. penyadap. penyawah, penyapu. bela mati, juru moha, barat katiga, prajurit, pemanah, pemarang, petugas dasa dan penangkap ikan, juru selam dan segala macam pekerjaan. Semua setia kepada tugas untuk raja, itu semua patut ditiru sebab mereka melakukan tapa dalam negara.)
Aya ma na urang nu kaseuseul ku tohaan, eta keh ulah dituru(t) twah bisi urang kaseuseul deui. Ini babandingna, upama janma leu(m)pang ngala.
(Jika ada di antara kita yang dimarahi oleh raja, itu semua jangan ditiru perbuatannya, nanti kitapun mendapat marah p**a. Ini perbandingannya; kalau orang pergi ke hu.)
( XI )
san nincak cucuk, tincak keh deui ku urang, sarua sakit/an/na. Nya mana aya ma na urang nu kapuji, i cangcingan, si langsitan, maka predana, emet imeut rajeun leukeun satya di guna tohaan. Eta ma turut twahna deung gunana, boa urang kapuji deui.
(tan menginjak duri, lalu kitapun penginjaknya, terasa sama sakitnya. Bila ada di antara kita yang terpuji: cekatan, terampil, penuh keutamaan, cermat, teliti. rajin, tekun, setia kepada tugas dari raja. Yang demikian itu perlu ditiru perbuatan dan kemahirannya. pasti kitapun akan mendapat pujian p**a.)
Aya ma/na/ janma rampes ruana, rampes ti(ng)kahna, rampes twahna, turut saageungna kena eta sinangguh janma utama ngara(n)na. Aya ma janma goreng ruana. ireug ti(ng)kahna, rampes twahna, itu ma milah diturut ti(ng)kahna dara sok jeueung rwana. Turut ma twahna. Aya janma goreng rwana. ireug tingkahna, goreng twahna, itu ma caru(t) ning bumi, silih diri na urang sabwana, ngara(n)na calang ning janma. itu kehna ingetkeuneun, hala-hayu goreng-rampes ala guru.
(Bila ada orang baik penampilannya, baik tingkahnya, baik perbuatannya, tirulah seluruhnya karena yang demikian itu disebut manusia utama. Bila ada orang yang buruk penampilannya, pandir tingkahnya, tetapi baik perbuatannya. yang demikian itu jangan ditiru tingkahnya, dan perhatikan penampilannya. Tirulah perbuatannya. Kalau ada orang yang buruk penampilannya, pandir tingkahnya dan buruk p**a perbuatannya, yang demikian itu noda dunia, menjadi pengganti (tumbal) kita seluruh dunia, namanya kebus**an (diantara) manusia. Itu semua patut diingat, sengsara dan bahagia, buruk dan baik, tergantung kepada guru.)
Ini pengetna, Aya ma janma paeh maling, paeh papanjingan, paeh ngabegal, paeh meor, sing sawatek cekap carut, eta jeueung kena ulah diturutan. Ya eta kangken guru nista ngara(n)na.
(Ini tandanya. Ada orang mati waktu mencuri, mati ketika menggerayangi rumah orang, mati waktu menodong, mati waktu merangkum, dan segala macam perbuatan hianat, semua itu harus diperhatikan karena jangan dijadikan contoh. Ya itulah yang disebut guru nista.)
Aya ta deui. Lamun urang nyeueung nu ngawayang, ngadenge-keun nu ma(n)tun, nemu siksaan tina carita, ya kangken guru panggung ngara(n)na. Lamun urang nemu siksaan rampes ti nu maca ya kangken guru tangtu ngara(n)na. Lamun mireungeuh beunang nu kuriak ma: ukir-ukiran, paparahatan.
(Ada lagi. Kalau kita menonton wayang, mendengarkan juru pantun, Ialu menemukan pelajaran dari kisahnya. itu disebut guru panggung. Bila kita menemukan pelajaran yang baik dari membaca ya disebut guru tangtu. Kalau melihat hasil pekerjaan besar seperti: ukir-ukiran, hasil pahatan,)
( XII )
papadungan, tutulisan, sui nanya ka nu diguna, temu ku rasa sorangan ku beunangna ilik di guna sakalih ya kangken guru wreti ngara(n)na. Nemu agama ti anak, ya kangken guru rare ngara(n)na. Nemu darma ti aki ma ya kangken guru kaki ngara(n)na. Nemu darma ti lanceuk ma ya kangken guru kakang ngara(n)na. Nemu darma ti toa ma ya kangken guru ua ngara(n)na.
(papadungan (papasan kayu?), lukisan, enggan bertanya kepada pembuatnya, terpahami oleh rasa sendiri hasil mengamati karya orang lain, ya disebut guru wreti. Mendapat ilmu dari anak. disebut guru rare. Mendapat pelajaran dari kakek, disebut guru kaki. Mendapat pelajaran dari kakak, disebut guru kakang. Mendapat palajaran dari toa, disebut guru ua.)
Nemu darma ti geusan leumpang di lembur di geusan ngawengi, di geusan eureun, di geusan majik ma ya kangken guru hawan ngara(n)na. Nemu darma ti indung ti bapa ya kangken guru kamulan ngara(n)na. Maka nguni lamun hatur ka mahapandita ya kangken guru utama, ya kangken guru mulya, ya kangken guru premana, ya kangken guru kaupadesaan. Ya sinangguh catur utama ngara(n)na.
(Mendapat pelajaran di tempat bepergian, di kampung di tempat bermalam, di tempat berhenti, di tempat menumpang, disebut guru hawan. Mendapat pelajaran dari ibu dan bapak, disebut guru kamulan. Demikian p**a kalau berguru kepada maha pendeta, disebut guru utama, ya disebut guru mulya, guru premana, ya guru kaupadesaan. Itulah yang disebut catur utama (empat keutamaan).)
Nya mana kitu, lamun a(ng)geus di karma ning akarma, di twah ning atwah, a(ng)geus pahi kaiilikan nu gopel nu rampes, nu hala nu hayu. Kitu lamun aya nu muji urang, suita, maka geuing urang, gumanti p**angkeun ka nu muji, pakeun urang mo kapentingan ku pamuji sakalih. Lamun urang daek dipuji ma kadyangga ning galah dawa sinambungan tuna, rasa atoh ku pamuji.
(Karena itu bila telah selesai menunaikan semua kewajiban dan pekerjaan, periksalah kembali mana yang jelek mana yang bagus, mana yang buruk mana yang baik. Begiiulah bila ada yang memuji kita, hendaknya segan dan sadarlah kita, ganti kembalikan kepada yang memuji supaya kita tidak mementingkan pujian orang lain. Kalau kita senang dipuji, ibarat galah panjang disambung ranting (belalai) karena merasa senang oleh pujian.)
A(ng)geus ma dipake hangkara ja ngarasa maneh aya di imah maneh, ku hakan ku inum, ku s**a ku boga, ku pakarang, teka dipake anggeuhan. Eta kangken galah dawa ta. Eta Kangken pare hapa ta ngara(n)na.
(Lalu menjadi takabur karena merasa diri berkecukupan di rumah sendiri dengan makanan, minuman, kesenangan, kenikmatan dan perabotan, lalu dijadikan andalan. Itu disebut galah panjang. Itu ibarat padi hampa namanya.)
( XIII )
Kitu, lamun aya nu meda urang, aku sapameda sakalih. Nya mana kadyangganing galah cedek tinugelan teka. Upamana urang kudil, eta kangken cai pamandyan. Upamana urang kurit kangken datang nu ngaminyakan. Upamana urang ponyo kangkn datang nu mere kejo. Upamana urang henaang kangken (datang nu) mawakeun aroteun. Upamana urang handeueul kangken (datang) nu mere seupaheun. Ya sinangguh panca parisuda ngara(n)na. Eta kangken galah cedek tinugelan.
(Begitulah, kalau ada yang mencela (mengkritik) kepada kita, terimalah kritik orang lain itu. Yang demikian itu ibarat galah sodok dipotong runcing. Ibarat kita sedang dekil, celaan itu bagaikan air pemandian; ibarat kita sedang menderita kekeringan kulit, bagaikan datang orang yang meminyaki; ibarat kita sedang lapar, bagaikan datang yang memberi nasi; ibarat kita sedang dahaga, bagaikan datang orang yang mengantarkan minuman; ibarat kita sedang kesal hati, bagaikan datang orang yang memberi sirih pinang. Itulah yang disebut panca parisuda (lima penawar); ibarat galah sodok diperpendek.)
Lamun maka s**a rasa urang, kangken pare beurat sangga. Boa maka hurip na urang reya. Ya katemu wwit ning s**a lawan enak. Salang nu ngupat, ala panyaraman. Aya twah urang ma eureunan. Hanteu twah urang ma ungang ambu-bapa. Kalingana janma ngara-(n)na. Ya sinangguh paramar/ra/ta wisesa, ya kangken dewa mangjanma ngara(n)na. Nya sang puma sarira, nya wwit ning hayu, ya puhun ning bener.
(Bila kita merasa bahagia, ibarat padi berat isi. pasti sejahteralah orang banyak, karena bertemu dengan sumber kesenangan dan kenikmatan, (yaitu) tahan celaan dan mengambil (memperhatikan) nasihat orang lain. Bila sedang sibuk tundalah sementara, (lebih-lebih) bila sedang tidak ada pekerjaan, untuk menjenguk ibu-bapak. Itulah yang disebut manusia sejati; yang disebut keutamaan tertinggi: ibarat dewa berwujud manusia namanya; berpribadi sempurna. benih kebajikan dan pohon kebenaran.)
Ini pangimbuh ning twah pakeun mo tiwas kala manghurip, pa-keun wastu di imah di maneh. Emet, imeut. rajeun, leukcen, paka predana, morogol-rogol, purusa ning sa, widagda, hapitan. kara wa-leya, cangcingan, langsitan. Jaga 'rang ngajadikeun gaga-sawh, tihap ulah sangsara. Jaga rang nyieun kebo/a/n, tihap mulah ngu(n)deur ka huma beet sakalih, ka huma lega sakalih. Hamo ma beunang urang laku sadu. Cocooan ulah tihap meuli mulah tihap nukeur. Pakarang ulah tihap nginjeum.
(Ini pelengkap perbuatan, agar tidak gagal dalarn hidup. agar rumah tangga kita penuh berkah, (yaitu) cermat. teliti, rajin. tekun. cukup sandang, bersemangat, berpribadi pahlawan, bijaksana, berani berkurban, dermawan, cekatan, terampil. Bila kita membuat sawah. untuk sekedar tidak sengsara; bila kita membuat kebun, untuk sekedar tidak mengambil sayur-sayuran di ladang kecil milik orang lain atau ke ladang luas milik orang lain, sebab tak akan dapat memintanya: memelihara ternak tidak sekedar tidak membeli atau menukar (barter), (memiliki) perkakas untuk sekedar tidak meminjam;)
Next >> bagian 2
Rahayu 🙏
Abah SK ❤️
Click here to claim your Sponsored Listing.
Contact the business
Telephone
Website
Address
Jakarta
