Nur vendi vendi nur

Nur vendi vendi nur

Share

AWALI DENGAN BIISMILLAH ��� � SLLU SEMANGAT BUAT ANAK

06/12/2023

Waktu itu

30/11/2023

Pg

TAMAT || Istriku Pura-Pura Meninggal - Rahma La 11/11/2023

MEMBUSUKNYA MAYAT SELINGKUHAN SUAMIKU (8)

"Astaghfirullah. Jangan ganggu aku!"

"Aku hanya meminta tolong, Asih."

Jantungku berpacu dengan cepat, aku hendak berlari, tapi kakiku berat sekali, seperti ada beban di sana. Aku menelan ludah, apa yang harus aku lakukan sekarang?

"Tolong bantu aku."

Aduh, apa juga yang mau dibantu. Aku tidak mau menoleh ke belakang. Kakiku sudah gemetar, semua tubuhku juga gemetar. Aku harus apa sekarang?

"Kamu harus berjanji akan membantuku, baru aku akan melepaskanmu."

"Bantu apa? Tolong lepasin aku. Kita gak ada hubungannya sama sekali. Lepasin aku!"

"Gak ada?" Dia tertawa pelan.

"Sayang?! Asih?" Suara Mas Zaki terdengar, kali ini aku hendak berteriak, tetapi tidak bisa juga. Suaraku justru tidak keluar.

"Kamu selamat kali ini, jangan beri tahukan pada dia, aku akan mendatangimu lagi nanti untuk meminta bantuan."

Kakiku seperti terlepas dari rantai. Aku langsung terjatuh. Napasku tersengal. Aku berusaha untuk menenangkan diri, baru kemudian kembali berdiri. Entah kenapa, aku justru merasa tadi adalah Bu Ningsih, meski pun aku tidak melihat wajahnya secara langsung, tetapi suaranya terdengar jelas tadi.

"Sayang, kamu habis dari mana? Kok berantakan kayak gini?" Mas Zaki langsung membantuku berdiri, karena kakiku rasanya lemas sekali.

Aku belum bisa menjawab, lagi p**a apa yang harus aku jawab? Aku bingung, juga entah siapa tadi bilang kalau aku tidak boleh memberi tahukannya pada Mas Zaki.

"Sayang? Kamu gak papa kan? Kamu sakit?"

"Ya ampun, Bu Asih kenapa?" Pak Agung dan Bu Fani datang, tampak kaget ketika melihatku yang sudah lemas.

"Saya juga gak tau, Pak, Bu. Kamu mau p**ang aja, Sayang?"

Mendengar pertanyaan Mas Zaki, aku langsung menganggukkan kepala. Sungguh, aku tidak ada kekuatan lagi untuk melanjutkan acara ini. Mas Zaki juga langsung mengiyakan permintaanku, dia membopongku.

"Makasih banyak ya Pak Anton dan Bu Fani sudah membantu saya untuk bawa istri saya ke mobil. Saya juga nitip buat pamitan sama pak bos, soalnya istri saya gak bisa ditinggal."

"Iya, sama-sama Pak. Besok kalau saya datang untuk menjenguk Bu Fani boleh tidak, Pak?" tanya Bu Fani membuat Mas Zaki terdiam.

"Boleh saja, Bu. Tapi kayaknya kalau dari pagi sampai sore saya masih di kantor. Mungkin hanya ada istri dan juga adik ipar saya. Gak papa, Bu?"

"Ya sudah, nanti kabarin aja Pak. Lebih baik sekarang Bapak fokus ke Bu Asih dulu, kasihan sudah menunggu, kecapekan juga kayaknya."

Mas Zaki menganggukkan kepala, sekali lagi berterima kasih, kemudian kembali masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan ke mobil, kami diperhatikan terus. Aku sudah tidak peduli, ya meskipun pada ujungnya kasihan Mas Zaki juga, karena sebenarnya ini acara dia juga, malah aku kacaukan.

"Kamu tadi dari mana, Sayang? Kan aku tinggal sebentar, kenapa gak nelepon aja kalau ada apa-apa, kan jadi kayak gini kejadiannya."

Aku langsung terdiam dan menundukkan kepala mendengar perkataan Mas Zaki. Apa yang harus aku jawab? Apa kah aku harus menjelaskan apa yang aku lihat tadi?

Ah, jangan dulu untuk sekarang. Aku juga butuh pendapat dari Rafi dulu.

"Abis dari kamar mandi, maaf banget ya Mas jadi ngerusak acara kamu, badan aku lemes banget tadi."

Suamiku itu diam sejenak, kemudian kembali menoleh ke aku. "Tapi kamar mandi bukan di situ loh arahnya, Sayang. Kamu masuk kamar mandi yang mana?"

Eh? Aku menggigit bibir mendengar pertanyaan Mas Zaki. Memang salahku pakai berbohong segala dengannya. Aku menggaruk ujung hidung yang tidak gatal.

"Iya, maksudnya aku tadi lagi usaha nyari kamar mandi di situ. Eh gak ketemu, aku udah gak kuat, akhirnya lemes deh."

Mas Zaki akhirnya menganggukkan kepala, percaya dengan apa yang aku katakan. "Kamu itu kecapekan, nanti banyakin istirahat aja biar gak kecapekan lagi."

Akhirnya setelah setengah jam perjalanan, kami sampai juga di rumah. Mas Zaki memanggil Rafi untuk membantuku turun dari mobil. Meskipun kebingungan, Rafi tetap membantu Mas Zaki.

"Mbak Asih kenapa? Kok pucat banget, lemas lagi. Memangnya ada apa di pesta? Ada yang jahatin Mbak?" tanya Rafi membuatku menggelengkan kepala.

"Mbak kamu kecapekan, Rafi. Udah ya, jangan banyak tanya dulu. Kita antar dulu Mbak kamu ke kamar."

Setelah membantuku untuk tiduran di tempat tidur, Mas Zaki langsung duduk di pinggir kasur, menatapku lekat, kemudian memegang tanganku serius.

"Kamu gak papa kan, Sayang? Perlu aku panggilin dokter?"

Eh, aku langsung menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Mas Zaki barusan. Aku tidak butuh dokter, aku juga tidak sakit.

"Mana Dani, Raf?" tanyaku pada Rafi yang berdiri di belakang Mas Zaki.

"Udah tidur, Mbak. Beberapa menit sebelum kalian sampai."

Aku menganggukkan kepala, kemudian kembali menatap Mas Zaki yang tampak cemas. Dia sejak tadi mengecek ponselnya, membuatku mengernyitkan dahi, apa kah Mas Zaki sedang memikirkan sesuatu? Atau ada yang mengganggu pikirannya?

"Kamu kenapa, Mas?" tanyaku membuatnya menoleh, kemudian menggelengkan kepala.

Ponsel Mas Zaki berdering. Dia langsung beranjak. "Mas angkat telepon dulu sebentar ya, Sayang. Abang titip Mbak sama kamu, Rafi." Mas Zaki menepuk pundak Rafi pelan, kemudian keluar kamar.

Melihat Mas Zaki yang tampak panik seperti itu, aku langsung mengernyitkan dahi, dia kenapa dah? Kenapa panik banget sampai seperti itu?

"Itu Bang Zaki kenapa, Mbak? Lagi ada masalah?"

Entah, aku mengangkat bahu, kemudian menatap Rafi yang masih penasaran dengan Mas Zaki.

"Mbak kayak gini ada alasan tau, Raf."

"Oh ya? Apa itu, Mbak?"

"Jadi tadi itu—"

"Sayang!" Mas Zaki langsung memotong perkataanku yang hendak menceritakan semuanya pada Rafi. Untung saja aku belum bercerita.

"Ada apa, Mas? Kenapa kamu kayak panik gitu?"

"Mas harus balik lagi ke acara tadi ya, pak bos nanyain Mas. Katanya ada sesuatu yang mau disampaikan. Penting banget, nanti Mas gak p**ang terlalu malam kok. Kamu dijagain sama Rafi dulu ya."

Mendengar itu, aku diam sejenak menatap wajah Mas Zaki. Kemudian pada akhirnya aku menganggukkan kepala, masa aku tidak memperbolehkan Mas Zaki untuk kembali ke acara itu sih.

"Aku janji gak bakalan p**ang malem kok. Jagain Mbak kamu dulu ya, Raf. Abang gak bakalan lama." Mas Zaki menepuk pundak Rafi, kemudian memakai jaketnya. Setelah mencium kening dan mengusap kepalaku, Mas Zaki dengan cepat melangkah ke depan. Rafi mengantar sejenak, kemudian kembali ke kamarku.

"Mbak kenapa? Tadi gak jadi cerita."

Aku langsung nyengir mendengar perkataan Rafi, kemudian berusaha untuk memperbaiki posisi duduk, membuat Rafi tampak panik karena melihatku yang memperbaiki posisi duduk sendiri, sok kuat.

"Mbak jangan macam-macam deh, nanti Rafi yang kena marah sama Bang Zaki."

"Aman Raf, Mbak mau ceritain kejadian tadi di acara pesta itu."

"Okey, ayo cerita Mbak."

Adikku sudah siap sekali untuk mendengarkan ceritaku. Aku menghela napas pelan, kemudian menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, Rafi hanya bisa melongo, tetapi tidak mengomentari apa pun, dia mendengarkan tanpa memotong ceritaku.

"Udah gila hidup kita sekarang, Mbak," kata Rafi setelah aku selesai menceritakan semuanya.

Entah lah, aku bingung sekali sekarang. Sepertinya setiap aku kemana-mana, ada saja yang mengikutiku.

"Masa Mbak dikejar-kejar kayak gitu, seolah Mbak gak pantas lagi buat hidup. Terus juga dimintain tolong, memangnya dia mau minta tolong apa? Haduh, aneh banget deh. Jadi pusing."

Aku langsung nyengir mendengar perkataan Rafi barusan. Dia sepertinya kesal sekali.

Mana aku tau juga kalau ujungnya bakalan seperti ini. Semua yang terjadi, kekonyolan hal ini, ketidak masuk akalan semua ini, berawal dari kami menemukan koper berisi mayat itu. Seperti sial sekali hidup sekarang.

"Gak tau deh, Raf. Mbak gak mau ikut-ikutan lagi. Mbak mau kehidupan Mbak yang dulu, yang gak pernah ada yang ganggu."

"Kayak mana, Mbak. Bahkan ketika Mbak lagi menghadiri acara pesta aja, itu ngikut kan?"

Mendengar pertanyaan Rafi, aku langsung menggaruk kepala. Benar apa yang dia katakan. Memang itu sudah cukup jauh, tetapi masih saja aku bertemu mahkluk itu.

"Mbak kayaknya mau minta pergi dari tempat ini dulu sama Mas Zaki, kemana gitu, ke rumah orang tuanya Mas Zaki atau basing lah. Mbak udah pusing banget, gak mau lagi di sini."

"Yah, jangan gitu d**g, Mbak. Kalau gitu kan Rafi jadi gak bisa ikut Mbak, masa Rafi tinggal sendirian di sini, kan Mama sama Papa juga lagi di luar negeri. Gak mungkin kan kalau Rafi ikut Mbak ke rumah orang tuanya Bang Zaki."

Hmm, benar juga sih apa yang dikatakan oleh Rafi. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Lalu apa yang harus aku lakukan? Masa aku harus diam saja begini sih?

"Atau kita pindah rumah aja ya, Raf? Kayaknya itu lebih menarik. Dibandingkan kita tinggal di rumah ini, Mbak udah ngerasa gak aman lagi rumah ini."

"Nah, kalau itu sih Rafi gak papa, Mbak. Cuma mungkin nanti Mbak tanya dulu sama Bang Zaki. Siapa tau Bang Zaki malah gak mau kalau pindah."

Ya sudahlah, itu saja opsi yang lumayan menarik. Aku menghela napas pelan, kemudian beranjak dari tempat tidur. Tubuhku sudah lumayan membaik, tidak terlalu lemas seperti ketika dibawa p**ang oleh Mas Zaki tadi.

"Eh? Mbak mau kemana? Jangan kebanyakan gerak dulu, Mbak."

"Mau ke kamar mandi, Raf. Masa gak boleh sih. Mbak mau bersih-bersih juga, ganti baju sekalian."

"Mbak udah enakan?" tanya Rafi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Udah mendingan kok, Raf. Kamu kalau mau tidur, langsung tidur aja. Dari pada besok kecapekan. Besok Mbak mau langsung ngomongin sama Mas Zaki soal saran untuk pindah dari rumah ini."

"Oke, Mbak. Ah iya, terus nanti yang bukain pintu Bang Zaki siapa kalau aku tidur duluan? Mbak harus nya tidur aja, gak usah nungguin Mas Zaki lagi, kan juga tadi lagi lemes banget."

"Itu aman kok, Raf. Mas Zaki juga bawa kunci depan. Nanti kamu kunci aja pintu depannya."

"Oalah, oke Mbak. Jadi ini Mbak gak papa ditinggal sendirian."

Aku menganggukkan kepala, kemudian melangkah ke kamar mandi. Setelah berganti pakaian, aku mencuci muka, kemudian gosok gigi.

Krek!

Eh? Aku langsung menoleh ke pintu, kemudian menelan ludah, apa kah itu Rafi? Dia sedang menjahiliku?

"Raf?" Aku melangkah mendekat ke pintu.

Gelap.

Tiba-tiba saja lampu kamar mandi mati. Aku menutup mulut, siapa yang mematikan lampu kamar mandi? Mana gelap semua lagi.

"Rafi?!"

Astaga, pintu kamar mandi tidak bisa dibuka, aku berusaha untuk membukanya, tetapi seperti ada yang menarik dari luar. Tidak mungkin Rafi, dia tidak pernah sejahil ini padaku.

"Rafi?! Tolong Mbak!" Aku berusaha untuk berteriak.

"Bukan kamu yang harus ditolong, Asih. Aku yang harus ditolong."

Aku langsung menoleh ke belakang, tidak ada siapa pun di sana, tetapi bulu kudukku langsung berdiri semua. Aku masih berteriak, berusaha untuk membuka pintu kamar mandi, jantungku sudah berdetak tidak karuan. Apa yang harus aku lakukan?

Bau amis menyengat. Aku mengusap ujung mata, jangan menangis di sini. Bagaimana ini?

Tanganku dipegang seseorang, tangannya kasar sekali. Aku bisa melihat di remangnya lampu, banyak darah yang menetes.

"Rafi?! Tolong Mbak! Rafi?!"

"Tidak ada yang bisa menolong kamu, Asih. Aku yang harusnya meminta tolong pada kamu. Apa kah kamu bisa menolongku?"

"Enggak! Lepasin! Rafi tolongin Mbak!"

Aku merasa tanganku tergores sesuatu, pedih sekali. Namun, aku berusaha untuk mengabaikannya, aku ingin segera pergi dari kamar mandi ini. Aku menelan ludah, jantungku sepertinya akan copot setelah ini.

"Bantu cari tubuhku, Asih."

"Lepasin! Tubuh apa?! Saya aja ketakutan begini! Lepasin saya!" Aku berteriak berusaha untuk melepaskan tangan nya dari tanganku.

"Tolong Asih, hanya kamu yang bisa menolongku. Datang ke rumahku, masuk ke kamarku, banyak petunjuk di sana. Tolong aku, Asih."

Menolong diri sendiri saja aku tidak bisa. Aku masih berusaha untuk berteriak meminta bantuan dari Rafi.

"Mbak!"

Akhirnya. Aku langsung terduduk di lantai kamar mandi. Tidak peduli dengan celanaku yang basah terkena air. Rafi langsung memelukku.

"Mbak kenapa? Astaga, ini tangan Mbak kenapa berdarah kayak gini? Ayo, Mbak. Rafi bantu berdiri."

Rafi benar-benar membantuku. Dia juga membantu untuk mengeringkan celanaku. Aku masih terisak, tanganku pedih sekali, tetapi itu tidak mengalihkanku dari kejadian tadi.

"Ya ampun, untung luka nya gak terlalu dalam. Aku juga gak tau sih, yang penting udah dikasih obat sama diperban, semoga darahnya berhenti mengalir, Mbak."

Dia sejak tadi berusaha untuk mengurusku. Meski pun tampak sekali, kalau Rafi khawatir dan takut. Aku mengusap p**i, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku seperti dibayang-bayangi oleh ketakutan besar.

Entah kenapa, aku tidak punya salah apa pun pada orang lain. Lagi p**a siapa dia? Kenapa dia malah minta tolong padaku dan bukan orang lain saja? Aku bukan siapa-siapa yang harus diganggu hidupnya.

"Udah, Mbak tenang aja dulu. Terus nanti coba tidur ya, besok aja ceritanya. Aku temenin Mbak sampai Mbak tidur."

Aku mengangguk pada Rafi yang sejak tadi banyak sekali membantuku. Entah lah kalau tidak ada dia apa jadi nya aku di sini. Mungkin aku sudah gila sejak tadi.

Akhirnya aku tertidur, tetapi sepertinya baru beberapa menit, aku sudah mendengar suara orang samar-samar.

"Makasih banyak udah bantuin jagain Mbak kamu ya, Raf."

Mas Zaki baru p**ang ternyata. Aku membuka mata sedikit, melirik jam. Astaga, sudah pukul tiga malam. Larut sekali Mas Zaki p**ang, dari mana dia? Mana mungkin pesta baru selesai jam segini.

"Aku ke kamar dulu, Bang," kata Rafi tampak banyak bicara.

Suara langkah kaki Mas Zaki terdengar mendekat. Dia kemudian memperbaiki posisi selimutku, kemudian mengecup keningku.

"Maafin Mas, Sayang."

Eh? Mas Zaki meminta maaf untuk apa? Memangnya dia punya salah apa?

***

BACA SELENGKAPNYA DI KBM APP. CARI DI PENCARIAN DENGAN JUDUL YANG SAMA ATAU KLIK LINK DIBAWAH. JANGAN LUPA DISUBSCRIBE. MAKASIH.

Penulis: Rahma La

TAMAT || Istriku Pura-Pura Meninggal - Rahma La Ayo bergabung dan subscribe buku TAMAT || Istriku Pura-Pura Meninggal agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari Rahma La di aplikasi KBM.

Photos from Resep koki's post 03/11/2023
Photos from Dapur Fika's post 03/11/2023
02/11/2023

NUGGET SAYUR
Ayo bergabung ke dalam grup Ide JUALAN Modal Kecil Rumahan ✅

BAHAN
25 Sdm tepung terigu
500 ml air
4 butir telur ayam
Secukupnya daun bawang (potong kecil")
4 buah sosis ayam/sapi (potong kecil")
1 buah wortel (potong tipis"/serut)
1 buah kentang (potong tipis"/serut)
1 Sdm Masako ayam
1/4 Sdm garam
1/4 Sdm lada bubuk

~bahan pencelup
15 Sdm tepung terigu
1/4 Sdm masako ayam
Sejumput lada bubuk
1/4 Sdm baking powder
Secukupnya air
(Campurkan semua bahan lalu aduk sampai tercampur rata.)

~secukupnya tepung panir

Cara Membuat
1. Campurkan tepung terigu dengan 500 ml air lalu aduk sampai tercampur rata.
2. Masukan telur, sosis, daun bawang ,wortel, kentang,Masako, garam, lada bubuk lalu aduk sampai tercampur rata.
3. Setelah tercampur masukan larutan terigu dan saring. Lalu aduk sampai tercampur rata.
4. Olesi loyang dengan minyak goreng lalu tuangkan adonan. Kemudian kukus selama ±30 menit. Setelah matang angkat dan ditunggu sampai dingin.
5. Keluarkan dari loyang. Lalu potong kotak untuk ukuran bisa disesuaikan dengan selera.
6. Celupkan ke dalam larutan pencelup lalu taburi dengan tepung panir.
7. Goreng di minyak yang sudah panas dan api sedang kalau sudah kecoklatan siap diangkat.
NUGGER SAYUR SIAP DINIKMATI 😍

Semoga Bermanfaat dan selamat mencoba😊🙏

Photos from Teras inspirasi's post 31/10/2023
Photos from Kreasi Boga & Nature's post 30/10/2023
Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Kediri?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Jalan Meliwis
Kediri
167412