nurainii_nduknung
"Di sini saya berbagi dua dunia yang saya cintai: tulisan dan makeup.
Dari puisi hingga tips kecantikan, setiap update adalah cerminan ekspresi diri yang tak terbatas."
Nama: Nuraini
Judul: Seorang DJ Cantik dari Desa Terkutuk
Akun KBM: nuraini30784 💐
Backstage masih ramai. Bau parfum bercampur asap rokok, suara gelas beradu dengan tawa para tamu VIP. Sinta hanya duduk di sofa kulit hitam, mengusap keningnya. Senyum masih ia jaga, walau matanya terasa berat.
“Minum, Sin.” Seorang waitress menyodorkan segelas air putih.
Sinta menerimanya. Tangannya sempat bergetar sedikit sebelum meneguk. Air itu dingin, menenangkan kerongkongan, tapi tak mampu mengusir rasa aneh yang sejak tadi menempel di telinganya. Suara-suara yang tidak ikut riuhnya crowd.
“Set lo barusan gila banget.” Seorang DJ senior mendekat, menepuk bahunya. “Mix lo beda, fresh. Gue belum pernah dengar beat kayak tadi.”
Sinta tersenyum sekilas. “Thanks, Kak.”
Tapi dalam hati ia bergidik. Beat yang ia mainkan tadi bukan seluruhnya ciptaan dirinya. Ada potongan nada yang seakan muncul begitu saja, mendorong tangannya memilih tombol, menggeser slider, menambah efek. Ia tak mengerti dari mana datangnya inspirasi itu. Rasanya seperti… ada yang berbisik di telinganya, memandu.
Vano muncul di pintu backstage. Kaos hitamnya basah oleh keringat, kamera masih menggantung di leher.
“Lo harus liat foto-foto ini.” Ia mengangkat kameranya antusias. “Ada satu momen pas lampu strobo nyala, dan lo”
“Van.” Sinta memotong dengan suara pelan. “Kita p**ang, ya?”
Ekspresi Vano mereda. Ia melihat wajah Sinta yang pucat. “Oke. Ayo.”
Mereka keluar lewat lorong samping. Klub itu masih berguncang dengan dentuman DJ berikutnya, tapi suara itu makin jauh ketika pintu besi menutup.
Di luar, udara malam menyambut. Jalanan basah, aroma tanah bercampur bensin dari kendaraan yang lewat. Sinta menghirupnya dalam-dalam, mencoba melepaskan beban di dadanya.
“Lo yakin oke?” tanya Vano lagi.
Sinta mengangguk, meski tak sepenuh hati. “Cuma pusing dikit.”
Vano tidak bertanya lebih jauh. Mereka naik motor, melaju menembus jalan kota. Lampu-lampu jalan berganti cepat, seperti potongan adegan film yang dipercepat. Sinta duduk membisu di belakang, matanya memandangi cahaya lampu yang kadang berubah samar, mirip obor di tepi jalan tanah seperti di desa.
Ia menggeleng pelan, mencoba membuang bayangan itu.
Apartemen kecil Sinta berada di lantai delapan. Dari balkon, lampu kota berkelip tak pernah tidur. Ia berdiri lama di sana, masih dengan baju kasual setelah mandi. Angin malam menyapu rambutnya.
Di meja, Vano sedang menyalin foto-foto ke laptop. “Liat nih, Sin. Angle lo gila keren.”
Sinta menoleh sekilas. “Boleh nanti. Gue lagi pengen diem dulu.”
Vano mengangguk, maklum. Ia tahu Sinta sering butuh waktu sendiri setelah manggung.
Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Wajah Sinta terlalu kosong. Matanya seakan menatap jauh ke tempat lain.
Ketika akhirnya Sinta duduk di depan laptop untuk melihat foto, tubuhnya menegang.
Di salah satu frame, lampu strobo membelah crowd. Ratusan penonton terekam sedang melompat. Tapi di tengah kerumunan itu, ada satu wajah yang menatap lurus ke arah kamera dan wajah itu terlihat terlalu pucat, matanya hitam legam tanpa bola mata.
“Van..…” suara Sinta hampir berbisik. “Lo lihat ini?”
Vano mendekat. “Mana?”
Ia menyipitkan mata. “Itu kan cuma motion blur. Kamera lo nggak sempet fokus ke satu orang, jadi…”
“Tapi matanya,” desak Sinta. “Hitam, Van. Lo nggak liat?”
Vano terdiam sebentar. Ia tahu Sinta tidak sedang bercanda. Namun, ia juga tidak ingin memperkeruh suasana. “Mungkin cuma ilusi cahaya, Sin.”
Sinta menatap layar lama sekali. Gambar itu tidak berubah. Wajah pucat itu tetap menatap ke arahnya.
Dan seolah-olah, semakin lama ia menatap, semakin ia merasa wajah itu dikenalnya. Wajah dari masa kecil, dari desa yang seharusnya sudah hilang.
Malam semakin larut. Vano akhirnya pamit, meninggalkan Sinta sendirian di apartemen.
Ia menutup laptop, mematikan lampu, lalu berbaring di ranjang. Namun matanya enggan terpejam.
Di telinganya, sorakan crowd masih terngiang. Sorak yang awalnya penuh euforia, kini terdengar seperti ratapan.
Dan di antara ribuan suara itu, ada satu yang jelas memanggil namanya. Bukan dengan teriakan manusia, melainkan dengan nada nyanyian kuno:
“Siin-taaa…”
Sinta menutup telinga dengan bantal, tapi bisikan itu tetap ada, bergema dari dalam kepalanya.
Air mata tanpa sadar mengalir di pipinya.
Lampu, musik, dan sorak. Semua itu seharusnya membawa kebahagiaan. Tapi malam ini, ia justru merasa semakin dekat dengan kegelapan.
Nama: Nuraini
Judul: Seorang DJ Cantik dari Desa Terkutuk
Akun KBM: nuraini30784 🌹
Lampu, Musik, dan Sorak
Sorot lampu menembus kabut tipis dari mesin asap, berkelindan dengan warna merah, biru, dan ungu yang menyilaukan. Di depan panggung, ratusan tubuh melompat serempak mengikuti ritme. Suara bass mengguncang dada, menyamarkan detak jantung siapa pun yang ada di dalam ruangan.
Sinta berdiri tegak di balik DJ booth, headphone masih menggantung di leher. Tangan kanannya terangkat tinggi, memicu sorakan yang memekakkan telinga.
“Make some noise, Jakarta!” suaranya meluncur ke mikrofon.
Kerumunan menjawab dengan teriakan panjang, seolah ingin merobek atap klub. Lampu strobo menyambar cepat, membuat bayangan-bayangan manusia bergerak patah-patah seperti adegan film yang terburu-buru diputar.
Di momen itu, Sinta merasakan sensasi yang hanya ia kenal di atas panggung percampuran antara adrenalin, rasa bebas, dan kekuasaan aneh yang membuatnya seakan mengendalikan ratusan orang sekaligus. Setiap ketukan yang ia lemparkan, setiap transisi yang ia susun, menjadi komando yang dipatuhi tubuh-tubuh di bawahnya.
Namun, di balik euforia itu, ada keresahan samar yang tak bisa ia abaikan.
Di telinganya, suara crowd bersorak, tapi di sela-sela beat, ia mendengar sesuatu yang berbeda. Suara seperti bisikan yang menyalip dari balik speaker. Lirih, namun jelas nyanyian asing yang tak pernah diajarkan siapa pun.
Ia menggoyangkan kepalanya, mencoba menepis halusinasi. “Fokus, Sin. Jangan kacau,” gumamnya dalam hati.
Sorakan kembali meledak ketika ia mengubah tempo. Track populer yang sedang naik daun dipadukan dengan remix miliknya sendiri. Penonton melompat lebih liar, tangan-tangan terangkat, kamera ponsel menyorot wajahnya yang berkilau terkena lampu.
Di barisan depan, ia bisa melihat sekelompok remaja berteriak namanya. Ada p**a beberapa selebritas muda yang menari tanpa peduli sorot kamera. Semua mata tertuju padanya.
Dan di momen itu, ada perasaan hangat merambat di dadanya. Inilah mimpi yang ia kejar selama bertahun-tahun berdiri di panggung besar, dikenal, disoraki. Namun, bersama hangat itu, selalu ada dingin yang menyusup dari dalam.
Lampu sorot menyoraki wajah-wajah penonton. Sinta sempat tertegun. Di antara ribuan mata yang memandang, ada beberapa yang terlihat… kosong. Tatapan hampa, tanpa sorakan, hanya diam menatapnya.
Ia kembali teringat malam pertama kali tampil di klub besar, ketika seorang pria berjas hitam berdiri tak bergerak di sudut ruangan. Sosok itu tidak ada di sini, tapi tatapan kosong yang ia lihat di beberapa penonton terasa serupa.
Dentuman musik terus berlanjut, namun pikirannya mulai melayang. Ia seakan kembali menjadi anak kecil yang duduk di beranda rumah kayu, mendengar tabuhan gendang dari hutan. Lampu klub berganti warna, namun di matanya, cahaya itu sesekali berubah menjadi kilatan api yang membakar rumah-rumah desa.
Sinta menggigit bibir, mengatur napas. Ia tak boleh goyah di panggung.
“Lo gila keren banget, Sin!” teriak seorang DJ senior yang malam itu bertugas sebagai penutup acara. Ia berdiri di samping panggung, menunggu giliran.
Sinta hanya tersenyum, mencoba menutupi kegugupannya. “Thanks, Kak.”
Ketika ia menurunkan volume, memberi tanda set-nya hampir selesai, kerumunan kembali bersorak panjang. Sorakan itu bukan hanya riuh, tapi juga seperti gelombang yang menghantam tubuhnya. Ia menunduk, memberi hormat kecil, lalu menekan tombol terakhir yang menutup performa.
Lampu sorot berganti putih terang, menyoroti wajahnya. Kamera ponsel berderet, merekam senyum dan lambaian tangannya.
Sorak itu begitu keras, namun di telinganya, samar, ia masih mendengar sesuatu yang lain: bisikan nyanyian tua yang tidak seharusnya muncul di tempat ini.
Backstage penuh sesak. Manajer klub menyalaminya, beberapa tamu penting datang memberikan ucapan selamat, bahkan ada yang langsung menawarinya kontrak untuk tampil lagi.
“Nama lo bakal meledak, Sin. Trust me, lo punya aura bintang,” kata salah satu promotor dengan senyum lebar.
Sinta tersenyum sopan, meski kepalanya masih berat. Ia hanya ingin keluar dari keramaian itu secepat mungkin.
Vano muncul sambil mengangkat kameranya. “Luar biasa, Sin! Gue dapet banyak foto gila barusan. Lo harus lihat nanti.”
Sinta menarik napas panjang. “Gue cuma pengen tidur sekarang.”
Mereka berdua keluar lewat pintu samping. Udara malam Jakarta menyambut dengan aroma bensin dan jalanan basah. Sinta mendongak sebentar, menatap lampu jalan yang berderet. Sorakan crowd masih terngiang di telinganya, bercampur dengan gema yang asing.
“Lo baik-baik aja?” tanya Vano sambil menyalakan motornya.
“Iya… cuma capek.”
Namun sebenarnya, bukan hanya lelah. Ada sesuatu yang terus mengikuti sejak ia memainkan lagu itu. Sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan dengan mudah.
Di apartemennya, setelah mandi dan mengganti pakaian, Sinta duduk di depan cermin. Wajahnya masih memantulkan cahaya lampu neon panggung make up tipisnya belum sepenuhnya luntur.
Ia menatap bayangan sendiri, lalu tersenyum pahit. “Lampu, musik, sorak… semuanya ada. Tapi kenapa rasanya kosong?”
Pikirannya kembali ke desa yang pernah ia tinggalkan. Suara gendang yang ia dengar malam ini mirip sekali dengan tabuhan yang dulu menghantui masa kecilnya. Apakah semua hanya halusinasi? Atau musik yang ia mainkan benar-benar membuka sesuatu yang seharusnya tetap terkunci?
Sorak penonton bisa memabukkan. Tapi bayangan kosong di mata sebagian mereka membuatnya sadar ada sorakan lain, dari tempat lain, yang ikut terbawa. Sorak yang bukan milik manusia.
Dan ia tahu, cepat atau lambat, ia harus mencari tahu.
Jangan lupa baca selengkapnya di Aplikasi KBM ☺️🙏
**anCeritaOnline
17/09/2025
Nama: Nuraini
Judul: Seorang DJ Cantik dari Desa Terkutuk
Akun KBM: nuraini30784
Hujan deras mengguyur tanah Desa Tirtasari malam itu. Petir menyambar langit, menerangi sesaat wajah-wajah pucat yang berdesakan di balai desa. Obor-obor menyala redup, menimbulkan bayangan bergerak di dinding kayu yang sudah rapuh dimakan waktu.
Suara gemuruh air bercampur dengan tangisan anak-anak. Orang-orang dewasa menunduk, wajah mereka diliputi rasa takut. Ada yang menggenggam erat tasbih, ada p**a yang berulang kali melafalkan doa. Namun, doa-doa itu seolah terhenti di udara, tidak pernah sampai pada langit.
Di tengah kerumunan, seorang perempuan berwajah tirus berdiri dengan tubuh gemetar. Dialah Ratna, ibu dari seorang gadis kecil bernama Sinta. Matanya bengkak karena terlalu sering menangis, namun ia mencoba tetap tegar. Sinta kecil bersembunyi di balik kain jariknya, tak berani mengangkat kepala.
“Semua ini salahmu, Ratna!” suara seorang lelaki tua memecah keributan. Suaranya parau, dipenuhi dendam. “Kalau saja kau tidak membiarkan musik itu dimainkan, kutukan ini tak akan datang!”
Ratna mengangkat wajahnya. Air matanya mengalir, tapi nadanya tetap keras. “Aku tidak pernah memainkannya! Aku hanya… hanya mendengar! Suara itu datang sendiri, bukan aku yang memanggilnya!”
Kerumunan bergemuruh. Beberapa mengangguk, beberapa menggeleng. Namun satu hal yang sama: rasa takut yang membelenggu.
Dari luar balai desa, terdengar tabuhan. Dum… dum… dum…
Suara gendang. Pelan. Ritmis. Seolah ada yang menabuhnya dari balik hutan.
Semua orang membeku.
“Lagi! Lagi dia datang!” seorang perempuan menjerit histeris.
Petir kembali menyambar, kali ini begitu dekat hingga balai desa bergetar. Angin masuk membawa aroma bunga kamboja bercampur bau tanah basah. Dan di antara itu, samar-samar terdengar suara nyanyian. Lembut, tapi menyesakkan. Seperti bisikan ratusan mulut yang bernyanyi serentak.
Ratna langsung memeluk Sinta kecil lebih erat. “Tutup telingamu, Nduk! Jangan dengar suara itu!”
Namun telinga anak kecil tidak bisa sepenuhnya menolak. Di sela-sela pelukan, Sinta mendengar potongan lirik asing. Kata-kata yang tidak ia mengerti, tapi entah kenapa melekat dalam ingatan.
Wajah lelaki tua yang tadi memarahi Ratna kini pucat pasi. Ia menunduk, bersimpuh di tanah, mulutnya komat-kamit. “Penjaga gerbang… mereka marah… kita sudah melanggar…”
Tiba-tiba, lampu minyak di balai desa padam serentak. Gelap total. Hanya ada suara hujan dan tabuhan gendang yang semakin keras.
Dum… dum… dum…
Dum… dum… dum…
Lalu, jeritan.
Satu demi satu orang-orang menjerit, suara mereka terputus seakan dicekik. Bau darah tercium samar di udara. Dalam kegelapan, Sinta hanya bisa mendengar suara ibunya yang berbisik tepat di telinganya:
> “Dengar, Nduk. Kau harus pergi malam ini. Jangan pernah kembali, apapun yang terjadi. Desa ini… sudah milik mereka.”
Ratna melepaskan pelukan, lalu menyerahkan Sinta ke pelukan seorang lelaki paruh baya. Tubuh lelaki itu berotot, wajahnya penuh luka. Dialah Budi, paman Sinta.
“Bawa dia! Sekarang!” Ratna berteriak di tengah hiruk pikuk.
“Apa kau yakin?” suara Budi serak, matanya berkaca-kaca.
“Pergi! Selamatkan dia! Hanya dia yang bisa menghentikan semua ini suatu hari nanti!”
Sebelum Budi sempat menjawab, sesuatu menghantam balai desa. Dinding kayu retak, atap runtuh sebagian. Dari celah gelap, tampak mata-mata merah menyala. Bukan manusia. Bukan juga binatang. Sesuatu yang hanya pernah disebut dalam dongeng-dongeng tua.
Tanpa berpikir, Budi menggendong Sinta kecil lalu berlari menembus hujan. Ia tidak menoleh, meski jeritan demi jeritan masih terdengar di belakang.
Di sepanjang jalan, tabuhan gendang mengikuti langkah mereka. Semakin cepat Budi berlari, semakin keras p**a dentumannya. Hingga akhirnya, ketika mereka menyeberangi jembatan kayu di tepi desa, suara itu berhenti mendadak.
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Budi berhenti sejenak, napasnya tersengal. Sinta masih memeluk lehernya erat, tubuh mungilnya gemetar ketakutan.
“Paman…” suaranya lirih. “Ibu ke mana?”
Budi tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan tangis. Ia tahu, Ratna tidak akan pernah keluar dari desa itu.
Ketika mereka tiba di bukit yang menghadap ke Tirtasari, Budi menoleh sekali lagi. Desa itu masih ada, tapi aneh. Lampu-lampu minyak menyala redup, namun tidak ada suara. Tidak ada tangisan, tidak ada jeritan, tidak ada kehidupan.
Dan hanya dalam hitungan detik, seolah-olah desa itu ditelan bumi. Kabut pekat turun menutupi, menelan semua yang ada. Hingga akhirnya, tak ada yang tersisa. Seakan desa itu tidak pernah ada.
Bertahun-tahun kemudian, orang-orang di luar hanya mengenal nama Tirtasari sebagai cerita rakyat. Sebagian bilang desa itu hilang karena bencana longsor. Sebagian lagi bilang penduduknya pergi meninggalkan tanah. Namun ada juga yang berbisik-bisik tentang kutukan. Tentang musik terlarang yang tak seharusnya dimainkan manusia.
Tak ada peta resmi yang mencatat keberadaannya lagi. Seolah desa itu sengaja dihapus.
Dan satu-satunya saksi yang masih hidup hanyalah seorang gadis kecil bernama Sinta. Gadis yang dibawa pergi oleh pamannya malam itu, meninggalkan ibunya di tengah kegelapan.
Sinta tumbuh di kota. Hidupnya berjalan seperti anak-anak lain sekolah, belajar, berteman. Namun satu hal tidak pernah hilang darinya yaitu musik. Dentuman-dentuman aneh dari masa kecilnya seakan terus mengikuti, bergaung di kepalanya.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar gema gendang itu. Setiap kali hujan turun, ia mencium aroma kamboja bercampur tanah basah. Dan setiap kali ia mencoba melupakan, suara itu kembali, semakin keras, semakin menuntut.
Musik yang sama.
Musik yang pernah membuat seluruh desanya menghilang.
Kini, setelah dewasa, Sinta menjadi seorang DJ. Ironisnya, musiklah yang membawanya pada pop**aritas. Musik p**a yang akan membuka pintu masa lalu yang telah terkunci puluhan tahun.
Karena musik tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu waktu untuk dipanggil kembali.
Dan Sinta sadar atau tidak telah memainkannya lagi.
Baca selengkapnya di App KBM
Jangan lupa komen, like dan subscribe ☺️🙏
05/09/2025
Dunia di Balik Pintu Waktu - nuraini30784
Raka, seorang anak biasa dengan rasa ingin tahu besar, tak sengaja menemukan sebuah pintu yang tak dikenalnya di sudut perpustakaan tua. Bersama Gula si ceria dan Riko si logis, mereka...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/72a8bd8a-683b-4be3-aed8-ef3aaede79e1?af=6941a1c2-e546-4628-a0b8-2d51694110fe
05/09/2025
Suara dari Balik Pagar - nuraini30784
Suara dari Balik Pagar adalah potret kehidupan perempuan di sebuah kampung kecil, di mana pagar rumah tak hanya membatasi halaman, tapi juga menjadi simbol batas antara yang terlihat dan yang...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/ed43cf47-c1f4-4f5e-8687-e9f07a6e4046?af=6941a1c2-e546-4628-a0b8-2d51694110fet
05/09/2025
Petualangan Nafisa & Kennan: Rumah yang Tak Pernah Biasa - nuraini30784
Pernah bayangin kulkas bisa ngobrol, celengan bisa kabur, atau bantal jadi pesawat? Di rumah Nafisa & Kennan, semua itu bisa kejadian! Ikuti dua bersaudara ini dalam petualangan seru, konyol, dan...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/94f9d787-9b96-465a-88ab-2bdc7c07fa88?af=6941a1c2-e546-4628-a0b8-2d51694110fe
Haunting (Cinta dan Ego) - nuraini30784
Cinta itu bukan hanya tentang jatuh hati. Tapi juga tentang bertahan, memaafkan, dan mengalah.
Rey dan Aluna adalah pasangan yang pernah saling mencintai dengan seluruh jiwa. Namun seiring waktu, kebahagiaan...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/95c781d4-00e7-4532-933e-040252937920?af=6941a1c2-e546-4628-a0b8-2d51694110fe
05/12/2024
Graduation .ym IAIN Kediri
13/11/2024
Click here to claim your Sponsored Listing.
Contact the business
Website
Address
Kediri
64174
