Bos Qatar

Bos Qatar

Share

random content

30/05/2026

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa Masjid Istiqlal juga menerima banyak hewan kurban dari komunitas non-Muslim selama perayaan Idul Adha 1447 Hijriah baru-baru ini. Menurut Nasaruddin, partisipasi antarumat beragama ini mencerminkan bahwa semangat Idul Adha tidak hanya dipandang sebagai ritual keagamaan bagi umat Islam, tetapi juga sebagai momen yang bermakna untuk berbagi dan mengulurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. 🤍🤍🇮🇩

30/05/2026

Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kompleks SDN Tlogo 2, Kanigoro, Blitar, tetap dilanjutkan. Sebagian halaman sekolah kini dibatasi pagar seng untuk area proyek. Di balik pembatas itu, 182 murid masih aktif belajar tiap hari. Artinya, ini bukan sekadar gedung kosong yang kebetulan tak terpakai. Ini ruang pendidikan yang masih hidup, masih berfungsi, dan masih jadi tempat anak-anak menuntut ilmu.

Rencana penggunaan sebagian lahan SDN Tlogo 2 sebenarnya sudah jadi perbincangan sejak awal 2026. Beberapa sarana sekolah disebut akan masuk area KDMP, antara lain perpustakaan, ruang kepala sekolah, sanggar tari, hingga eks rumah dinas yang selama ini dipakai jadi gudang. Di dokumen, fasilitas itu mungkin tampak sepele. Tapi bagi sekolah, semua punya peran penting. Perpustakaan jadi tempat siswa akrab dengan buku. Sanggar tari dipakai untuk kegiatan. Ruang kepala sekolah adalah pusat koordinasi. Bukan sekadar ruang tambahan yang bisa dihapus begitu saja dari gambar denah.

Sekolah tidak menolak KDMP. Tuntutan utamanya sederhana: bila ada ruang yang dipakai proyek, siapkan dulu pengganti yang layak. Bukan nanti. Bukan menyusul. Bukan setelah pekerjaan dimulai. Sebab pendidikan tidak bisa diperlakukan seperti barang pindahan yang dititipkan di pojokan sambil menunggu renovasi rampung. Anak tetap harus belajar, guru tetap harus mengajar, dan sekolah harus berjalan normal.

Pemerintah daerah disebut akan merenovasi gedung pengganti untuk kegiatan belajar. Lokasinya diarahkan ke eks bangunan sekolah lain yang akan dibersihkan dan diperbaiki. Dana renovasi katanya bakal diajukan lewat perubahan anggaran. Di sinilah letak ironinya. Secara fisik KDMP sudah kelihatan, pagar seng sudah berdiri, tapi ruang pengganti masih berupa rencana, usulan, dan proses perbaikan. Secara logika awam, tempat pengganti disiapkan dulu, baru ruang lama dimanfaatkan. Tapi dalam praktik pembangunan, urutannya kadang lebih kreatif: mulai dulu, beresinnya belakangan.

KDMP sendiri bukan program biasa. Lahir dari Inpres Nomor 9 Tahun 2025 tentang percepatan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Sasarannya ambisius: sekitar 80 ribu koperasi di seluruh Indonesia. Tujuannya positif: menguatkan ekonomi desa, memperlancar distribusi sembako, mendukung ketahanan pangan, membuka layanan simpan pinjam, menyediakan gudang, klinik, apotek, sampai jadi penampung hasil tani warga.

Di level gagasan, program ini memang menarik. Desa butuh koperasi yang kokoh. Petani perlu tempat jual hasil panen yang lebih adil. Warga butuh akses kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. UMKM butuh ekosistem ekonomi yang tidak hanya ramai saat seremoni. Kalau dikelola baik, koperasi desa bisa jadi penggerak penting ekonomi lokal. Persoalannya, program sebaik apa pun tetap bisa terlihat keliru bila eksekusinya kurang peka.

Kritik atas KDMP di area SDN Tlogo 2 bukan berarti anti koperasi. Bukan juga anti pembangunan desa. Yang dipertanyakan adalah pemilihan lokasi dan tahapan pelaksanaannya. Kenapa harus di sekolah yang masih aktif? Kenapa ruang pengganti belum benar-benar siap sebelum proyek jalan? Kenapa murid harus ikut menanggung dampak program ekonomi desa?

Pertanyaan itu relevan karena sekolah bukan fasilitas nomor dua. Pendidikan juga kepentingan publik. UU Sisdiknas sudah menegaskan bahwa satuan pendidikan wajib menyediakan sarana prasarana sesuai kebutuhan belajar. Permendikbudristek No. 22/2023 juga mengatur standar sarpras pendidikan. Artinya, sekolah tak cukup sekadar masih bisa dipakai. Harus aman, layak, nyaman, dan menunjang pembelajaran.

Jika sebagian ruang sekolah hilang atau alih fungsi, dampaknya bukan cuma fisik bangunan. Suasana belajar bisa terusik. Akses ruang berubah. Kegiatan sekolah menyempit. Anak-anak mungkin belum kenal istilah aset, hibah, PAK, atau program strategis nasional. Tapi mereka tahu kalau halaman sekolahnya berubah jadi lokasi proyek. Mereka paham saat ada seng pembatas. Mereka paham ketika ruang yang biasa dipakai tiba-tiba tak bisa diakses lagi.

Di titik ini, satirenya muncul sendiri. Negara kerap bicara soal generasi emas dan masa depan bangsa. Tapi di lapangan, ruang belajar anak bisa tersenggol proyek. Anak diminta tekun belajar, tapi fasilitasnya harus siap mengalah bila ada kebutuhan pembangunan. Kalau polanya begini, jangan-jangan papan tulis pun bisa digeser ke teras, asal laporan tetap mencatat KBM berjalan normal.

Pembangunan memang penting. Desa tak boleh stagnan. Ekonomi warga harus diperkuat. Namun pembangunan yang sehat butuh tata cara masuk akal. Bila ada fasilitas pendidikan terdampak, yang diutamakan adalah perlindungan proses belajar. Ruang pengganti harus siap lebih dulu. Komunikasi dengan sekolah dan wali murid harus jelas.

Keselamatan anak wajib dipastikan. Baru setelah itu proyek berjalan tanpa meninggalkan kesan bahwa pendidikan cuma disuruh menyesuaikan.
Yang mengganjal dari kasus ini adalah posisi anak yang nyaris tanpa pilihan. Mereka tak ikut rapat. Tak ambil keputusan. Tak bisa menyampaikan keberatan dengan bahasa birokrasi. Tapi merekalah yang menanggung dampaknya. Dalam banyak proyek, kelompok yang suaranya kecil justru paling sering diminta mengalah. Kali ini, yang mengalah 182 siswa.

Padahal nilai koperasi dekat dengan kebersamaan dan gotong royong. Tapi gotong royong bukan berarti pihak yang lebih lemah selalu menepi. Bukan berarti sekolah harus merelakan sebagian ruangnya demi proyek cepat jalan. Kalau koperasi mau jadi simbol kemajuan desa, cara membangunnya juga harus mencerminkan keadilan, bukan sekadar mengejar bangunan cepat berdiri.

Kasus SDN Tlogo 2 jadi cermin kecil cara kita memaknai pembangunan. Yang dikejar sering kali proyek kelihatan berjalan, bangunan segera tegak, laporan tersusun, target tercapai. Sementara hal yang tak mudah difoto seperti kenyamanan anak belajar, ketenangan guru mengajar, dan rasa aman orang tua, justru diletakkan belakangan.

Semoga renovasi ruang pengganti benar-benar dilakukan cepat, layak, dan aman. Semoga 182 siswa SDN Tlogo 2 tetap bisa belajar tanpa gangguan. Semoga KDMP di desa itu sungguh memberi manfaat bagi warga. Tapi dari kasus ini, ada pelajaran penting: pembangunan yang baik bukan hanya soal apa yang dibangun, melainkan juga siapa yang terdampak dan bagaimana mereka diperlakukan.

Sebab desa yang maju tak cuma terlihat dari koperasinya yang berdiri. Desa yang maju juga tampak dari cara ia menjaga ruang belajar anak-anaknya. Kalau masa depan selalu diagungkan, maka tempat anak menyiapkan masa depan itu jangan gampang digeser demi proyek. Apalagi atas nama pembangunan. Karena pembangunan yang benar seharusnya memberi anak ruang yang lebih baik, bukan membuat mereka belajar lebih dini tentang arti mengalah pada kepentingan orang dewasa.



Disclaimer:
Tulisan ini ulasan sederhana tentang fenomena bisnis atau industri untuk bahan pembelajaran dan renungan masyarakat umum. Walau merujuk berbagai sumber yang dapat dipercaya, ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

30/05/2026

Tampil lebih fresh.
Aurel Hermansyah lepas filler bibir
Yang melekat selama ini padanya.
Hal inipun mendapat respon positif dari netiz3n hingga di doakan jangan sampai
Kena sinus dan oplas seperti yang sedang
Tren saat ini.

30/05/2026

Inilah sosok yang sedang berbaring di atas tanah di tengah jutaan jamaah haji. Beliau adalah Presiden Republik Pantai Gading, Alassane Ouattara.

Beliau datang untuk menunaikan ibadah haji dengan biaya pribadi, bahkan dikabarkan menolak fasilitas istana dan penginapan mewah yang biasanya disediakan sesuai protokol kenegaraan oleh pemerintah Saudi.

Lalu muncul pertanyaan yang menggetarkan hati:
“Di mana pengawalnya?”

Beliau datang tanpa iring-iringan besar, tanpa kemewahan berlebihan, tanpa jarak dengan rakyat biasa.

Sejak memimpin Pantai Gading, negaranya mengalami stabilitas keamanan, politik, dan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Pendapatan masyarakat meningkat, pembangunan berjalan, dan negaranya menjadi lebih aman.

Pemimpin yang adil akan melahirkan rasa aman.
Orang yang menebar ketenangan kepada rakyatnya, Allah karuniakan ketenangan dalam hidupnya.

Sungguh, pemandangan seperti ini mengingatkan kita bahwa di hadapan Allah, jabatan dan kemewahan dunia tidaklah berarti. ✌️
Semuaorang Pengikut

30/05/2026

REKOR BARU: RUPIAH TERPEROSOK KE LEVEL TERLEMAH, DOLAR AS DI SEJUMLAH BANK RESMI LEWATI RP18.000

Rupiah ditutup terjun bebas melawan dolar AS pada Selasa, 26 Mei 2026. Tekanan besar ini terjadi jelang libur panjang Idul Adha.

Data Refinitiv mencatat rupiah berakhir di Rp17.775/US$, melemah 0,25%. Ini jadi rekor baru titik terendah sepanjang masa, dan makin dekat ke level psikologis Rp17.800/US$. Sejak dibuka stagnan di Rp17.730/US$, rupiah langsung terkoreksi hingga level terendah Rp17.790/US$.
Dampaknya, bank nasional dan asing langsung menaikkan harga jual valas. Beberapa bank internasional bahkan sudah menjual dolar AS di atas Rp18.000.

Daftar kurs beli-jual dolar AS per 26 Mei 2026:

• BCA pukul 15.03 WIB: E-Rate beli Rp17.779, jual Rp17.799. TT Counter & Bank Notes beli Rp17.585, jual Rp17.835.
• Mandiri pukul 11.22 WIB: Special Rate beli Rp17.740, jual Rp17.770. TT Counter & Bank Notes beli Rp17.835, jual Rp17.535.
• BNI pukul 14.50 WIB: Special Rates beli Rp17.780, jual Rp17.800. TT Counter & Bank Notes beli Rp17.740, jual Rp17.810.
• BRI pukul 15.00 WIB: E-Rate beli Rp17.598, jual Rp17.800. TT Counter beli Rp17.605, jual Rp17.905.
• UOB pukul 08.23 WIB: Beli Rp17.412, jual Rp17.962.
• CIMB Niaga pukul 14.30 WIB: Kurs Valas & Converter beli Rp17.782, jual Rp17.797.
• HSBC pukul 09.05 WIB: Transfer Rates beli Rp17.535, jual Rp17.985. Banknote Rates beli Rp17.460, jual Rp18.060.
• MUFG pukul 09.18 WIB: Exchange Rate TTB beli Rp17.430, TTS jual Rp18.030.

Melemahnya rupiah secara tajam ini diperkirakan membuat otoritas moneter bergerak cepat menjaga stabilitas pasar uang dari dampak lanjutan depresiasi.

30/05/2026

Untuk pembelajaran kita semua untuk memilih tempat yang tepat untuk menimba ilmu di pondok pesantren...
Banyak yang pekel berkedok kiai..

30/05/2026

Satir Atas Capaian Prabowo

Dalam pidatonya di DPR dan hampir di setiap kesempatan resmi, Presiden Prabowo Subianto tampil penuh percaya diri menjelaskan berbagai capaian pemerintahannya. Ekonomi disebut stabil. Investasi meningkat. Program makan bergizi gratis berjalan. Hilirisasi dianggap sukses besar. Indonesia diyakini sedang bergerak menuju masa depan cerah bernama Indonesia Emas. Di layar televisi nasional, narasi itu terdengar gagah, optimistis, dan penuh semangat patriotik. Tepuk tangan pejabat terdengar riuh seperti soundtrack wajib negara berkembang yang sedang percaya diri.

Tetapi di luar istana, di republik bernama warung kopi, rakyat punya cara sendiri membaca keadaan. Mereka tidak memakai indikator makroekonomi, melainkan indikator warung:

- harga kopi sachet,
- jumlah pelanggan yang ngutang,
- dan berapa orang mulai membeli rokok ketengan sambil pura-pura “mengurangi nikotin”.

Di Warkop Satir yang berdiri di pinggir jalan berlubang itu, televisi kecil menggantung miring di sudut ruangan. Gambarnya kadang buram, suaranya serak, persis seperti kondisi ekonomi pelanggan tetapnya.

Di meja depan duduk empat warga setia republik warung kopi:
seorang pensiunan guru, sopir pete-pete, mantan pegawai tekstil korban PHK, dan sarjana pengangguran yang kini lebih sering membuka aplikasi lowongan kerja daripada membuka masa depan.

Televisi menyiarkan pidato Presiden.

“Pemerintah berhasil menjaga stabilitas ekonomi nasional!”

Pemilik warung langsung mematikan kipas angin yang bunyinya lebih keras daripada televisi.
“Stabil dari mana?” katanya.
“Pelanggan saya sekarang stabil… stabil tidak punya uang.”

Warung langsung pecah oleh tawa.

Sarjana pengangguran menambahkan:

«“Ekonomi memang tumbuh. Yang tidak tumbuh cuma isi rekening rakyat.”»

Pensiunan guru mengangguk sambil mengaduk kopi hitam.

«“Sekarang statistik lebih sehat daripada masyarakat.”»

Di televisi, presenter berita dengan wajah serius mengumumkan nilai tukar rupiah mendekati Rp17.800 per dolar.

Sopir pete-pete spontan berdiri.

«“Akhirnya! Tinggal sedikit lagi mencapai angka keramat nasional: 17-8-45!”»

Pemilik warung tertawa sampai hampir tersedak gorengan.

«“Tema upacara tahun ini cocok diganti.”»

Sarjana pengangguran langsung menjawab:

«“Bukan lagi Dari Merdeka Menuju Sejahtera…”»

Semua serempak menyambung:

«“Dari Merdeka Jadi Meresah!”»

Gelak tawa pecah memenuhi warung.

Pensiunan guru bahkan sampai mengusap air matanya.

«“Ini pertama kali slogan kemerdekaan terasa sangat relevan dengan isi dompet.”»

Sopir pete-pete menambahkan:

«“Dulu rakyat melawan penjajah supaya merdeka. Sekarang rakyat melawan tanggal tua supaya tidak panik.”»

Televisi terus berbicara tentang optimisme nasional. Tetapi di meja warung, optimisme mulai kalah oleh daftar cicilan.

“Sekarang hidup ini lucu,” kata mantan pegawai tekstil.

«“Harga kebutuhan pokok naiknya seperti atlet sprint. Gaji naiknya seperti siput sakit pinggang.”»

Semua tertawa sambil mengangguk setuju.

Ia lalu melanjutkan:

«“Waktu saya kena PHK, HRD bilang perusahaan sedang efisiensi.”»

Pemilik warung langsung menyambar:

«“Di negara ini efisiensi artinya rakyat disuruh hemat karena negara tidak mampu membuat hidup murah.”»

Sarjana pengangguran membuka aplikasi lowongan kerja di ponselnya.

«“Ini lebih lucu lagi. Lowongan kerja sekarang syaratnya minimal pengalaman lima tahun, umur maksimal dua puluh tiga tahun.”»

Sopir pete-pete langsung tertawa keras.

«“Berarti yang diterima itu bayi reinkarnasi.”»

Warung kembali gaduh.

“Dan gajinya?” tanya pemilik warung.

Sarjana pengangguran menarik napas panjang.

«“Cukup untuk beli bensin pergi pulang wawancara.”»

Pensiunan guru geleng-geleng kepala.

«“Negara ini memang unik. Anak muda disuruh bermimpi besar, tapi harga kos saja sudah membunuh cita-cita.”»

Di luar warung hujan mulai turun pelan. Tetapi pembicaraan makin panas ketika televisi menampilkan berita tentang inflasi yang disebut tetap terkendali.

Pemilik warung langsung berdiri sambil menunjuk rak sembako.

«“Inflasi terkendali itu mungkin maksudnya rakyat sudah tidak punya tenaga lagi untuk protes.”»

Seorang ibu yang sedang membeli minyak goreng setengah liter ikut menyahut:

«“Sekarang belanja itu bukan memilih kebutuhan, tapi memilih penderitaan mana yang ditunda.”»

Warung mendadak hening sesaat.

Lalu sopir pete-pete mencoba mencairkan suasana:

«“Tenang Bu. Pemerintah bilang kita menuju Indonesia Emas.”»

Ibu itu langsung menjawab cepat:

«“Iya. Tapi sementara ini rakyat masih hidup di Indonesia Cemas.”»

Tawa meledak lagi.

Belum selesai tawa itu reda, televisi kembali menyiarkan berita tentang Program Makan Bergizi Gratis. Presenter menyebutnya sebagai “program monumental membangun generasi emas bangsa.”

Pemilik warung mengangguk pelan.

«“Programnya bagus…”»

Lalu ia berhenti sejenak sambil menuang kopi.

«“…asal jangan generasi emasnya malah antre di puskesmas.”»

Warung kembali pecah oleh gelak.

Sopir pete-pete tiba-tiba mengangkat tangan.

«“Saya pernah angkut anak-anak korban MBG ke rumah sakit.”»

Suasana langsung berubah.

Sarjana pengangguran menoleh cepat.

«“Serius?”»

Sopir itu mengangguk.

«“Banyak muntah-muntah. Ada yang pusing. Ada yang lemas.”»

“Terus?” tanya pemilik warung.

Sopir pete-pete tersenyum pahit.

«“Waktu di lokasi ada petugas bilang begini: jangan bilang keracunan makanan… bilang saja anak-anak lupa cuci tangan.”»

Warung langsung sunyi sepersekian detik.

Lalu pemilik warung tertawa keras.

«“Hebat! Jadi sekarang bakteri juga sudah ikut oposisi?”»

Tawa pecah lagi.

Sarjana pengangguran ikut menyambar:

«“Berarti ayamnya bersih, nasinya bersih, dapurnya bersih… yang salah cuma tangan anak SD?”»

Sopir pete-pete mengangguk sambil tersenyum tipis.

«“Kurang lebih begitu narasinya.”»

Pensiunan guru yang sejak tadi diam akhirnya bicara pelan:

«“Di republik ini kalau ada masalah, yang pertama dicuci bukan sistemnya…”»

Ia menyeruput kopi sebentar.

«“…tapi narasinya.”»

Warung langsung gaduh.

Pemilik warung bahkan menepuk meja.

«“Sekarang yang paling higienis di negara ini bukan makanannya… tapi klarifikasinya!”»

Gelak tawa kembali memenuhi ruangan.

Televisi terus menampilkan pejabat meninjau dapur MBG sambil tersenyum lebar di depan kamera.

Sarjana pengangguran menatap layar lalu berkata:

«“Negara ini memang unik. Foto launching selalu lebih sehat daripada hasil akhirnya.”»

Sopir pete-pete menimpali:

«“Yang penting kameranya kenyang dulu.”»

Semua kembali tertawa pahit.

Namun di balik humor itu, mereka tahu persoalannya serius. Program sebesar MBG memang memiliki niat sosial yang baik. Tetapi ketika pelaksanaan lemah, pengawasan buruk, dan kualitas tidak dijaga, maka yang rusak bukan hanya makanan, tetapi juga kepercayaan rakyat.

Pensiunan guru lalu berkata pelan:

«“Memberi makan anak itu pekerjaan mulia.”»

Ia menatap televisi lama sekali.

«“Karena itu jangan sampai lebih banyak mengenyangkan pidato daripada memastikan makanannya aman.”»

Warung kembali sunyi.

Di luar, hujan makin deras. Air mengalir melewati lubang jalan di depan warung seperti metafora keadaan negeri yang terus bergerak tanpa benar-benar diperbaiki.

Dan di situlah ironi republik ini bekerja paling sempurna:
pemerintah merayakan angka-angka keberhasilan,
sementara rakyat merayakan keberhasilan kecil karena masih bisa membeli telur tanpa berutang.

Negara sibuk menyusun slogan optimisme,
sementara rakyat sibuk menyusun strategi bertahan hidup.

Dan mungkin itulah sebabnya Warkop Satir selalu penuh.
Karena di sana rakyat bisa tertawa bersama atas kenyataan yang sebenarnya terlalu pahit untuk dijelaskan secara serius.

Rudi Sinaba

30/05/2026

Sentimen Danantara dan lonjakan harga minyak dunia jenis WTI diperkirakan akan menekan rupiah pada pekan terakhir Mei. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut indeks dolar AS masih kuat di atas level psikologis 100, sementara harga WTI berpotensi menembus USD 105,5 per barel. Kombinasi ini membuat rupiah berisiko melemah hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS.

Ibrahim menegaskan pelemahan rupiah bukan kesalahan teknis moneter Bank Indonesia, melainkan masalah struktural akibat defisit neraca transaksi berjalan yang mendekati 3%. Sentimen pasar juga tertekan oleh rencana pengaktifan Danantara, yang memicu kekhawatiran lembaga pemeringkat internasional dan berpotensi menurunkan rating utang Indonesia. Arus modal asing keluar (capital outflow) semakin menambah tekanan terhadap rupiah.

30/05/2026

Kami Ingin Bukti

Kami sudah bosan dengan pidato-pidato. Kata-kata mereka manis, janji mereka muluk, tapi kenyataannya tetap sama. Rakyat masih lapar, tanah masih dirampas, anak-anak masih belajar di atap bocor, dan mereka tetap tersenyum dari kursi kekuasaan. Kata-kata itu hanya angin, sementara penderitaan kami tetap menumpuk.

Kami tidak butuh retorika yang memuaskan hati mereka sendiri. Kami tidak butuh janji yang terdengar heroik di media, sementara di desa-desa kami tetap menderita. Kami ingin bukti. Bukan ucapan, bukan slogan, bukan tepuk tangan di balairung. Bukti yang nyata: tanah dikembalikan, hak-hak ditegakkan, ketidakadilan dihentikan.

Kami ingin melihat perubahan yang bisa disentuh, dirasakan, bukan sekadar didengar. Karena kata-kata yang tak diikuti tindakan hanya menambah kebosanan, menambah kemarahan, dan menumbuhkan kesadaran bahwa rakyat tidak boleh diam lagi.

Kami menuntut bukti. Bukan lagi pidato. Bukan lagi janji. Karena rakyat yang sadar tahu: perubahan hanya datang dari keberanian penguasa untuk bertindak, bukan dari kecerdikan kata-kata mereka.

Salam Kato

30/05/2026

DPRD Lombok Tengah tegas dukung langkah Pemda menertibkan puluhan ritel modern yang melanggar Perda.

Ketua Komisi II DPRD Loteng, Ferdian Elmansyah, menyebut penutupan ini sudah tepat karena gerai-gerai tersebut memang tidak sesuai Perda No. 7 Tahun 2021 tentang Penataan Pasar Rakyat dan Toko Swalayan. Ia juga minta Pemda dan manajemen ritel duduk bareng cari solusi untuk karyawan, supaya nggak ada PHK. Opsi yang disodorkan Pemda: ubah pola usaha atau lakukan mutasi internal.

Sementara itu, Kepala DPMPTSP Loteng, Dalilah, menjelaskan 25 gerai ritel modern sudah tutup secara mandiri sesuai batas waktu: 18 gerai Alfamart dan 7 gerai Indomaret. Penyebab utamanya karena jaraknya terlalu dekat dengan pasar tradisional. Semua ini dilakukan untuk melindungi UMKM dan memperkuat ekonomi lokal.

Dalilah juga menegaskan, penutupan ini murni karena pelanggaran aturan, bukan menghambat investasi. Dan ditegaskan lagi, kasus ini nggak ada hubungan sama Koperasi Desa Merah Putih.

Gerai-gerai itu sebenarnya sudah berdiri sebelum Perda terbit. Pemda sudah kasih waktu untuk penyesuaian, tapi karena tetap abaikan teguran sejak awal 2026, akhirnya dijatuhi sanksi.

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in South Jakarta ?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Address


Jl
South Jakarta
35362