Ekspresi Jamal Nashir.

Ekspresi Jamal Nashir.

Share

Kami selalu setia dg menyajikan hasanah refrensi buat audensi yg respek dg kami.

21/10/2024

Orang paling tertipu adalah orang yg merendah di hadapan orang yg tidak menghargainya, yg mencintai orang yg tidak bermanfaat baginya, yg bangga dengan pujian orang yg tidak mengenalnya. ( Imam Syafi'i)

04/08/2022

BASHIROHNYA GUS DUR YANG TAJAM.

GUS DUR & MATA ALLAH

TANPA didampingi siapa pun, Gus Dur dan aku bertemu di warung nasi depan kampusku. Pakaian batik dan sarung membungkus tubuhnya, peci yang miring serta kacamata tebalnya melengkapi kediriannya. Dialog yang bagiku aneh pun terjadi. Aneh karena perbincangan kami kesana kemari, tak jelas arahnya.

Gus Dur :
"Sebenar apa pun tingkahmu, sebaik apapun prilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.!"

Mughni :
"Iya, Gus. Tapi.."

Gus Dur :
"Bagaimana tidak repot, hidupmu terlalu banyak 'tapi'.!"

Mughni :
"Hehehehe.."

Gus Dur :
"Apa kamu kenal Wa Totoh? Maksud saya KH. Totoh Ghozali."

Mughni :
"Disebut kenal ya tidak, tapi saya sering mendengar ceramah-ceramahnya di Radio."

Gus Dur :
"Belajarlah kamu kepadanya, bagaimana memurnikan tauhid masyarakat. Dia menggunakan bahasa lokal sebagai senjatanya, memakai humor cerdas tanpa hina dan caci."

Mughni :
"Baik, Gus, kalau itu perintah Panjenengan."

Gus Dur :
"Ini bukan perintah, ini memang sesuatu yang seharusnya kamu lakukan sebagai Da'I."

Mughni :
"Laksanakan."

Gus Dur :
"Kamu s**a menulis?"

Mughni :
"Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya."

Gus Dur :
"Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus."

Mughni :
"Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai wanita?"

Gus Dur :
"Ya itu tadi, karya sastramu buruk sekali."

Mughni :
"Hmmmmm.."

Gus Dur :
"Kamu pernah pesantren?"

Mughni :
"Pernah, Gus."

Gus Dur :
"Dimana?"

Mughni :
"Di Al-Falah sama di Al-Musaddadiyah."

Gus Dur :
"Rupanya kamu Santri Kyai Syahid sama Kyai Musaddad."

Mughni :
"Iya."

Gus Dur :
"Saya juga sering bersilaturahmi ke beliau-beliau itu. Mereka salah satu penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama'ah."

Mughni :
"Ketika jadi Santri, saya nakal sekali. Saya merasa malu kepada beliau-beliau itu, Gus."

Gus Dur :
"Saya beritahu kamu, kebaikan seorang Santri tidak dilihat ketika dia berada di Pondok, melainkan setelah dia menjadi alumni. Kamu tinggal buktikan hari ini, bahwa kamu adalah santri yang baik."

Mughni :
"Terima kasih, Gus."

Gus Dur :
"Dunia tanpa pesantren, bagi saya adalah siksa. Bersyukurlah karena kamu pernah menjadi bagian di dalamnya."

Mughni :
"Iya, Gus."

Gus Dur :
"Kamu mau tau rahasia hidup saya dalam memandang segala sesuatunya?"

Mughni :
"Tentu, Gus, saya ingin tau rahasia panjenengan."

Gus Dur :
"Dalam memandang segala sesuatu, gunakanlah 'mata' Allah."

Mughni :
"Waduh. Bagaimana contohnya?"

Gus Dur :
"Contohnya begini. Ketika saya didatangi banyak orang yang meminta perlindungan, apakah orang itu benar atau salah, saya terima semuanya dengan lapang dada. Karena apa? Saya selalu yakin, Allah lah yang menggerakan hati mereka untuk datang kepada saya. Jika saya tolak karena mereka bersalah, itu sama saja saya menolak kehendak Allah. Perlindungan saya kepada orang-orang yang disudutkan karena kesalahannya itu, bukanlah bentuk bahwa saya melindungi kesalahannya, tapi saya melindungi kemanusiaannya."

Mughni :
"Duh.."

Gus Dur :
"Lebih jauhnya begini. Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca al-Qur'an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi al-Qur'an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah."

Mughni :
"Ya Allah.."




muda nusantara

08/04/2022

BERANGKAT MINIMNYA WAWASAN,LALU INGIN MEMBUAT MADZHAB YANG BARU MENURUT VERSI FIKIRANNYA YG FRAGMATIS

MADZHAB ANTI MADZHAB

Sarinyala.id

Akhir² ini, kita sering mendengar seruan yg mengajak agar umat Islam berlepas diri dari seluruh mazhab dan tidak berpegang dgn salah satu madzhab apapun, terutama dalam masalah Fikih. Mereka menyerukan agar umat Islam berpegang pada Al-Quran dan Sunnah saja, dgn pemahaman para sahabat dan salafus shalih. Lalu mereka menyebut hal itu sbg berpegang teguh terhadap madzhab Rasulullah. Aliran ini pun kemudian mencatut nama salafus shalih untuk dijadikan nama mereka.

Jika kita amati sepintas, seruan ini tampak sangat indah dan memukau. Bagaimana tidak, siapa yg ingin menandingi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, nabi yg maksum (steril dari kesalahan), dgn mengikuti para imam atau ulama yg tidak maksum ? Siapa yg ingin mengikuti pendapat para imam atau ulama dgn meninggalkan hadits² shahih, padahal mereka semua mengatakan, “Jika hadis shahih, itulah madzhabku.” Maka, secara tidak langsung jika kita mengikuti hadits shahih, berarti kita telah melaksanakan wasiat para imam itu sendiri. Sebaliknya, jika kita mengikuti pendapat mereka dgn meninggalkan hadits shahih, berarti kita telah menyelisih madzhab mereka. Benarkah demikian ?

Semenjak wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, para ulama –yg merupakan pewaris para nabi- melanjutkan perjuangan Islam dgn mentransfer ajaran² Islam kepada generasi berikutnya. Perjuangan ini dipelopori oleh para ulama dari kalangan sahabat nabi, dilanjutkan dengan para pengikutnya (tabiin), pengikut pengikutnya (atba’ tabiin) dan seterusnya hingga sekarang.

Sebagaimana telah menjadi sunnatullah bahwa seiring berlalunya zaman, dinamika kehidupan selalu berubah. Problematika yg muncul dalam kehidupan manusia semakin bertambah dan kompleks. Banyak permasalahan baru dihadapi oleh umat Islam yg belum pernah terjadi pada masa sebelumnya, terutama di zaman nabi. Keadaan itu mendorong tokoh² Islam yg diwakili oleh para ulama mujtahidin untuk membahasnya secara intensif dan mencari solusinya dalam syariat Islam. Karena Islam adalah solusi dan tak ada satu permasalahan pun yg terlewatkan tanpa ada hukumnya dalam Islam.

Oleh karena itu, mereka tertuntut untuk memberikan jawaban dari setiap permasalahan yg terjadi dgn merujuk pada sumber² resmi dalam syariat. Lalu bagaimana mereka menjawab tantangan zaman yg selalu bertambah dan tidak pernah berkurang itu dengan sumber syariat berupa teks² Quran dan hadis yg jumlahnya sangat terbatas ?

Sejarah Lahirnya Fikih

Pada masa nabi, seluruh sahabat dapat merujuk langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selaku pemilik tunggal otoritas membuat hukum (tasyri’) yg mewakili Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga setiap permasalahan dapat terselesaikan dengan pengawasan dari langit secara langsung. Namun sepeninggal beliau, para sahabat yg pernah hidup semasa dgn beliau menggunakan Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sbg dasar mengambil hukum. Jika tidak menemukan, maka mereka berijtihad sekuat tenaga dgn akal mereka, baik dengan membandingkan persoalan serupa yg telah ditetapkan hukumnya melalui teks² (metode Qiyas) ataupun mengembalikannya pada prinsip² dasar ajaran Islam sebagaimana yg telah mereka pahami selama bersahabat dgn nabi. Sebagian hukum itu akhirnya dibukukan oleh orang² setelahnya dan dinamakan hukum Fikih.

Fikih ibarat bangunan megah yg telah dibangun oleh para ulama sejak ribuan tahun lalu hingga sekarang. Fikih mencerminkan kekayaan hukum Islam. Di dalamnya kita akan mendapati ribuan bahkan jutaan permasalahan yg dibahas oleh para fuqoha. Sebagian permasalahan itu telah menjadi kesepakatan (ijma’ atau ittifaq) seluruh ulama, sebagian lain merupakan pendapat mayoritas (jumhur), dan selebihnya adalah permasalahan yg masih dipersilihkan (ikhtilaf).

Di dalam kitab² Fikih, kita mendapati penjelasan para ulama mengenai hukum² Islam dgn bahasa yg komunikatif. Sebagian kitab, di samping menjelaskan hukum² juga menyertakan dalil²nya, sementara sebagian lain hanya menyebutkan hukum²nya saja tanpa dalil. Alasan tidak disertakannya dalil bisa bermacam², di antaranya karena dalil itu sudah sangat populer (masyhur) sehingga tidak perlu disebutkan lagi, atau kadangkala dalil itu bukan berupa teks yg zhahir dan sharih, melainkan penafsiran yg diambil dari teks, baik melalui metode mafhum muwafawah ataupun mukhalafah sebagaimana dibahas dalam ilmu Ushul Fikih. Atau bisa juga untuk meringkas kitab supaya tidak terlalu panjang dan bertele² sehingga menyulitkan para murid dan membuat mereka bosan.

Itulah wujud kekayaan hukum Islam yg tidak meninggalkan satu permasalahan pun kecuali para fuqoha telah membahasnya secara detail, tentu saja sesuai dgn kondisi pada zaman mereka.

Jika ayat dan hadis kita ibaratkan sbg bahan² pokok, maka Fikih merupakan produk yg sudah siap pakai. Umat Islam tidak perlu repot² membolak-balik kitab Quran atau kitab² hadis lalu membaca satu-persatu ayat dan hadis yg jumlahnya mencapai ribuan untuk mengetahui bagaimana tatacara shalat yg benar, atau puasa yg benar, dan sebagainya. Mereka cukup mencarinya dalam kitab² yg telah ditulis oleh para ulama yg telah mereka sarikan dari sumber² resmi dalam syariat Islam dgn metode atau kaidah yg telah diketahui dalam Ushul Fikih. Tujuan para ulama membukukan hukum² itu adalah untuk mempermudah seorang murid dalam mencari hukum² dalam permasalahan² tertentu.

Kalangan yg menyerukan agar umat Islam meninggalkan kitab² Fikih ibarat ingin meruntuhkan istana yg sudah dirintis oleh para ulama sejak dahulu dan mengajak umat Islam untuk membangun kembali istana baru dari awal dgn berbekalkan bahan² pokok yg (sangat boleh jadi) tidak semua umat Islam mengerti tentangnya. Memang slogan kembali kepada Quran dan Sunnah mudah diucapkan, namun prakteknya tak semudah pengucapannya.

Seharusnya, sebelum mereka menyerukan hal itu, mereka harus menawarkan terlebih dahulu rancangan atau desain bangunan seperti apa yg akan mereka buat, bagaimana bentuknya, apa saja alat²nya, bagaimana cara membuatnya, dan seterusnya. Itulah yg dinamakan dgn Ushul Fikih, yaitu pondasi Fikih. Tak mungkin sebuah bangunan dapat berdiri tanpa pondasi. Tanpa itu semua, ibarat berteriak² dgn tangan kosong. Karena seruan itu sama saja mendeklarasikan umat Islam agar meninggalkan mazhab yg ada dgn membangun mazhab baru yg independen.

Memang, bangunan Fikih dibuat dengan bahan² ayat dan hadits, selebihnya disusun dgn akal atau ijtihad. Namun permasalahannya, tidak semua lapisan umat Islam dapat melakukan hal itu. Para pakar Ushul Fikih telah membagi umat Islam menjadi dua: mujtahid dan muqallid. Para mujtahid adalah mereka yg memiliki kapabilitas dan kompetensi di bidang penyimpulan hukum (istimbathul ahkam) secara langsung dari dalil² yg terperinci (al-adillatut tafshiliyyah), sementara para muqallid yg diwakili oleh kalangan awam umat Islam adalah mereka yg tidak memiliki kemampuan itu.

Maka sangat keliru menyamakan seluruh lapisan umat Islam secara massal tanpa membedakan tingkat intelektualitas mereka lalu mengajak mereka untuk berijtihad secara langsung dgn mengambil dalil² dari Quran dan sunnah lalu menyusunnya menjadi sebuah hukum syar’i, sebagaimana yg didengungkan oleh orang² yg mengaku² sbg mujtahid mutlak di zaman ini. Bagaimana kita ingin mengajak orang² yg tidak mengerti tentang kaidah² istimbathul ahkam untuk menyimpulkan hukum secara langsung dgn merujuk kepada Quran dan sunnah, sementara sebagian di antara mereka (boleh jadi) membaca Quran saja masih belum benar ? Ungkapan kembali kepada Quran dan sunnah akan menjadi tepat jika dipandu dgn pemahaman yg benar dan kemampuan yg mumpuni, bukan ditujukan kepada orang awam yg mungkin bahasa Arab saja tidak tahu.

Adapun pendapat sebagian orang yg menyisipkan kategori muttabi‘ di antara dua kategori di atas, tidaklah merubah substansi pembagian tsb. Muttabi‘ pada dasarnya bukanlah mujtahid karena belum sampai derajat ijtihad. Jadi membebani muttabi‘ untuk berijtihad juga kurang tepat.

Ushul Fikih

Imam Syafii (w. 205 H) adalah orang pertama yg meletakkan dasar² dan pondasi untuk melakukan sebuah ijtihad. Dalam kitabnya yg sangat menumental, Ar-Risalah, beliau menjelaskan kepada umat Islam bagaimana tatacara pengambilan hukum secara benar. Kitab itu kemudian dinobatkan oleh seluruh ulama sbg kitab pertama dalam bidang Ushul Fikih. Beliau ditahbiskan sbg Bapak Ushul Fikih. Setelah itu, para ulama berbondong² menulis tentang tema yg sama dan mengembangan apa yg pernah beliau tulis.

Selain dikenal sbg seorang ahli Fikih dan ushul, beliau ternyata juga seorang pakar hadis. Namun demikian, beliau tidak serta merta memaksa seluruh elemen umat Islam untuk berijtihad hanya bermodalkan hadis shahih saja, apalagi tanpa menjelaskan metode pengambilan hukum. Dalam catatan sejarah, berapa banyak para perawi hadis yg tsiqoh tapi tidak faqih?

Oleh karena itu, berbekal hafalan hadis saja tidak cukup untuk membangun sebuah bangunan Fikih. Jika tidak, mengapa ada pembahasan tentang nasikh-mansukh, ‘am-khas, mutlaq-muqayad dan lain sebagainya dalam kajian Ushul Fikih? Bahkan Imam Syafii menulis sebuah kitab khusus berjudul Ikhtilaful Hadits yg berisi tentang ayat² atau hadits² shahih yg secara kasat mata tampak saling kontradiksi (ta’arudh). Ternyata diperlukan otak-otak mujtahid untuk melakukan itu semua. Para imam Mazhab Empat-lah yg telah sampai pada derajat itu dan beberapa mujtahid mutlak lainnya tentunya, baik yg sezaman dgn mereka maupun yg sebelumnya atau setelahnya.

Madzhab

Kata mazhab berasal dari bahasa Arab (dza-ha-ba) yg berarti tempat (arah) pergi. Jika seseorang sedang pergi ke arah utara maka dikatakan, “Mazhabnya adalah utara.” Kata ini kemudian digunakan untuk menyatakan pendapat² para ulama karena perbedaan pendapat di antara mereka seperti perbedaan arah mereka pergi. Jika seorang ulama berpendapat mengenai suatu permasalahan, maka pendapat tsb disebut madzhabnya.

Madzhab Selain Empat Madzhab

Jika ada orang bertanya, “Bukankah di sana ada banyak mujtahid mutlak, baik yg sezaman dgn para imam Mazhab Empat maupun sebelumnya atau setelahnya, lalu mengapa hanya berpegang pada Imam Empat saja ?” Jawabnya adalah sebagai berikut :

PERTAMA, tidak ada madzhab yg di-service secara istimewa oleh para pengikutnya kecuali hanya empat mazhab itu. Kita ambil contoh Mazhab Auza’i, mazhab yg dinisbatkan kepada seorang imam besar bernama Al-Auza’i, meskipun beliau dahulu adalah seorang imam besar yg boleh jadi secara keilmuan menandingi Imam Empat, namun mazhab beliau tidak sampai kepada kita secara mutawatir alias hilang begitu saja ditelan waktu. Yang tersisa hanya nukilan² perkataan beliau yg dimuat dalam kitab² hadits maupun Fikih, itupun di antara sebagian nukilan itu ada yg benar dan ada yg tidak. Entah ke mana para pengikut yg dahulu mengikuti mazhab beliau? Yang pasti, madzhab beliau tidak terkodifikasi sebagaimana Mazhab Empat. Begitu juga halnya dgn mazhab² lainnya yg lenyap bersama zaman, seperti madzhab Ibnul Mubarak, madzhab Sufyan Ats-Tsauri, madzhab Ibnu ‘Uyaynah, madzhab Al-Layts dan lain².

Bandingkan dgn Madzhab Empat yg tetap eksis dan mendapatkan pelayanan istimewa dari para pengikutnya hingga detik ini dan hingga hari kiamat nanti (atas seizin Allah). Mazhab Hanafi misalnya, yg mendapatkan pelayanan luar biasa dari para pengikutnya sehingga sebagian besar (untuk tidak mengatakan semua) fatwa Imam Abu Hanifah telah terekam secara detail dalam kitab² para muridnya, yaitu Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad. Begitu juga dgn mazhab Maliki, Syafii dan Hambali. Perpustakaan takkan lengkap tanpa kitab² karangan mereka.

KEDUA, tak terhitung jumlah para ulama yg menjadi pengikut Mazhab Empat, bahkan di antara mereka adalah para ahli hadits. Sebut saja Imam Nawawi, Ibu Hajar Asqolani, bahkan Ibnu Taimiyah sekalipun. Sangat sulit diterima oleh akal bahwa mereka semua tidak memiliki kemampuan untuk menyaring hadits² shahih dalam mazhab mereka. Jika memang keberadaan madzhab² itu telah menyimpang dari rel syariat Islam –sebagaimana tuduhan kalangan anti-mazhab, pastilah mereka menjadi orang pertama yg menyerukan kepada umat Islam untuk meninggalkan semua mazhab yg ada.

KETIGA, tak satupun di antara keempat mazhab itu yg dibangun tanpa dasar atau pondasi (ushul). Setiap madzhab memiliki ushulnya masing². Maka, sangat mengherankan seruan sebagian orang untuk membangun madzhab baru namun tidak dijelaskan bagaimana ushulnya. Jika memang kalangan yg ingin berlepas diri dari madzhab² itu konsisten dgn seruan mereka sendiri, seharusnya mereka menawarkan kepada umat Islam konsep madzhab baru seperti apa yg ingin dibangun. Tentu saja slogan “Jika hadis shahih, itulah madzhabku” saja tidak cukup sebagaimana telah kita bahas di atas.

Jika ada yg bertanya, “Bukankah mazhab² itu lahir sebelum zaman kodifikasi (tadwin) hadis, jadi ada kemungkinan sebagian hadits shahih tidak sampai kepada sebagian imam ?”

Perlu diingat bahwa Imam Abu Hanifah lahir pada tahun 80 H. Artinya, jarak antara kelahiran beliau dgn wafat Rasulullah hanya beberapa puluh tahun saja. Sebagian di antara guru² beliau merupakan para pembesar tabiin seperti Al-A’raj, Ikrimah, ‘Alqamah dan lain². Begitu juga dgn Imam Malik yg lahir pada tahun 93 H. Dalam kitab Shahih Bukhari atau kitab² hadits lainnya kita sering menjumpai hadis yg diriwayatkan oleh Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Artinya, antara Imam Malik dengan Rasulullah hanya melewati dua orang perawi saja. Lalu bagaimana dgn Imam Abu Hanifah yg masa hidupnya paling mendekati Rasulullah di antara Imam Empat yg ada ? Bagaimana dgn Abdullah Ibnul Mubarak, seorang Muhaddits besar yg sering hadir dalam majelis Imam Abu Hanifah ? Begitu juga dgn Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Memang benar, masih terbuka kemungkinan secara akal bahwa sebagian hadis shahih tidak sampai kepada para imam. Namun, apakah logis mengatakan bahwa seluruh ulama pakar hadits pengikut madzhab itu tidak mengetahui keberadaan hadits itu ? Apakah logis hadits shahih itu baru diketahui di abad belakangan ? Ataukah mereka semua terjebak dalam fanatisme kelompok (ta’ashub madzhabi) ?

KEEMPAT, banyak hadits yg secara kasat mata tampak shahih, namun ternyata memiliki ‘illat qadihah (cacat tersembunyi namun parah) yg hanya bisa dideteksi oleh pakar hadits klasik sehingga mereka semua sepakat meninggalkan hadits itu karena tidak dapat dijadikan hujjah, namun di kemudian hari hadits itu dishahihkan oleh sebagian orang yg tidak mengerti tentang ilmu hadits, kecuali hanya dari kitab² saja. Tentu saja kemampuan ahli hadits klasik berbeda dgn ahli hadits kontemporer, apalagi yg hanya bermodalkan kitab² saja tanpa mulazamah dan talaqqi dgn guru.

Jadi, menggunakan logika sebagian hadits tidak sampai kepada para imam tidak bisa dijadikan dalil untuk meruntuhkan madzhab mereka. Mazhab fikih itu telah eksis dibangun sebelum adanya kitab² hadits dan diikuti oleh para ulama, bahkan termasuk para muhadditsin, baik mutaqadimin maupun mutaakhirin. Lalu bagaimana mungkin orang yg datang belakangan (di zaman ini) melontarkan kemungkinan bahwa sebagian hadis tidak sampai kepada sebagian imam ?

KESIMPULANNYA, kelompok yg mengajak umat Islam untuk meninggalkan madzhab pada hakikatnya adalah mengajak untuk mengikuti madzhab mereka. Jadi, aliran anti-madzhab pun sebenarnya merupakan mazhab baru yg independen, apapun namanya.

Wallahu a’lamu bis showab.

Source Syria

Shared by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA'AH SARINYALA Kabupaten Gresik

WEBSITE
https://www.sarinyala.id/

Facebook Jama'ah Sarinyala https://www.facebook.com/groups/1811379799080690/?ref=share

Facebook
https://www.facebook.com/sarinyala.id/

YOUTUBE MAJELIS NGAJI SARINYALA https://youtube.com/c/MAJELISNGAJISARINYALA

Twitter
Instagram : ahmadzainialawi

Sarinyala - Berbagi Ilmu Menebar Kebaikan 23/03/2022

SELF AWARENEES/KESADARAN DIRI, MANIFESTASI KEBERADABAN SESEORANG.

Sarinyala - Berbagi Ilmu Menebar Kebaikan Bermula dari kumpulan orang-orang mengaji cangkruk’an di warung-warung kopi, tepi jalan, rumah ke rumah, langsung di bawah langit tanpa atap,

14/03/2022

Ikatan batin pada setiap murid&guru selalu lestari,sehingga panjatan do'apun senantiasa terucap oleh keduanya.

GURU DAN MURID SALING MENDOAKAN

Guru ibarat lentera ilmu. Tanpa jasa mereka mustahil manusia bisa meraih peradaban secanggih seperti saat ini. Adapun murid2nya, sudah seharusnya mendoakan para gurunya yg telah mengajarkan ilmu agama maupun ilmu pengetahuan kepada mereka. Hal ini merupakan bagian dari adab penuntut ilmu.

Mendoakan semua murid, menjadi keharusan bagi setiap guru di dunia ini, entah dia itu terucap di lisan ataupun hanya sekedar terucap dalam hati. Ikatan batiniah antara guru dan murid haruslah menjadi ikatan yg kuat, yg dibalut doa setiap harinya.

Pernah ada seorang guru yg berpesan demikian :

"Kalau kalian nanti jadi guru, jangan lupa doakan murid2mu, saya setiap habis sholat selalu mendoakan semua murid² saya. Kenapa ? Karena, saya tidak yakin apakah akan ada satu saja yg saya ajarkan akan membawa kalian pada kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat. Kalau pun kalian nanti sukses, belum tentu itu karena salah satu ilmu yg saya ajarkan. Tapi Insya Allah, doa saya akan selalu mengiringi langkah kalian."

Doa seorang guru terhadap para murid²nya merupakan salah satu doa yg mujarab. Sama halnya doa orang tua kepada anak²nya dan doa nabi untuk umatnya.

Hendaklah setiap guru mendoakan para muridnya. Berdoa agar murid²nya dimudahkan dalam menyerap ilmu yg diberikan, menjadi anak² yg soleh dan solehah, taat kepada Allah dan rasul-Nya, taat kepada orang tua dan gurunya dan selamat hidup dunia dan akhirat.

Disebutkan oleh Al-Qadhi Abu Al-Fadhl ‘Iyadh bin Musa bin ‘Iyadh bin 'Imrun bin Musa bin Muhammad bin 'Abdullah bin Musa bin 'Iyadh Al-Yahshubi Al-Andalusi As-Sabti Al-Maliki atau Imam Al-Qadhi Iyadh rahimahullah (wafat 1149 M) di dalam kitab beliau Tartibul Madarik bahwa Al-Imam Abu Ishaq Al-Jibyani rahimahullah (salah seorang ulama Maalikiyyah) bahwa telah dikabarkan kepada beliau tentang kisah seorang guru yg baik.

Beliau mengatakan :

وبلغنا عن معلم عفيف، رئي وهو يدعو حول الكعبة ويقول: اللهم أيما غلام علمته، فاجعله في عبادك الصالحين، فبلغني أنه خرج على يديه نحواً من تسعين عالم وصالح…

“Sampai kepadaku khabar tentang seorang pengajar yg mulia. Dia pernah terlihat sedang bermunajat di sekitar Ka’bah dgn mengucapkan :

اللهم أيما غلام علمته، فاجعله في عبادك الصالحين

“Ya Allah, jadikanlah setiap anak yg pernah aku ajari sbg hamba-Mu yg shalih.”

Maka sampailah khabar kepadaku bahwa lahir dari didikannya sekitar sembilan puluh ulama dan orang² shalih.” (Kitab Tartibul Madarik, 6/246)

Contoh doa seperti diatas, bagi para guru adalah pelipur lara, apabila nanti ternyata ilmu² yg diajarkan ternyata tidak sesuai dgn bidang yg digeluti oleh murid2nya saat dewasa nanti. Setidaknya, akan tetap ada doa dan ridho tulus seorang guru, yg akan selalu menyertai murid²nya dalam menggapai kesuksesan.

Bagi seorang murid, doa guru² mereka adalah modal besar untuk menggapai kesuksesan yg mereka cita²kan. Doa² guru terutama yg terlontar langsung akan menjadi pemicu semangat dan kepercayaan diri bagi para muridnya.

Doa guru adalah pengikat suci jalinan guru dan murid. Jika kita rutin menyempatkan diri setiap hari untuk mendoakan murid² kita, itu akan jadi jalan pengingat untuk murid² kita untuk selalu mengingat gurunya meski terpisah jarak yg terlampau jauh.

Doa Murid Untuk Gurunya

Mendoakan guru menjadi salah satu adab mulia seorang murid kepada guru. Guru ibarat lentera ilmu. Berkat jasa mereka, manusia bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Seorang murid tentu tak boleh melupakan jasa² guru. Guru yg selalu mendidik membaca Al-Qur’an, membaca teks2 literasi, memahami konsep kehidupan, hingga belajar hidup mempersiapkan bekal di dunia fana ini. Jasa2 itu menjadi alasan utama seorang murid harus mendoakan guru²nya.

Maka, seorang murid harus mendoakan guru²nya, sebagaimana doa kepada orang tua. Karena guru adalah pendidik ruhani, sedang orang tua lebih banyak berperan sbg pendidik jasmani. Sebagaimana disebutkan dalam syair yg dikutip dari kitab Ta’lim Muta'allim:

أُقَدِّمُ أُسْتَاذِي عَلَى نَفْسِ وَالِدِي ** وَإِنْ نَالَنِي مِنْ وَالِدِي الْفضْلَ وَالشَرَف

Aku lebih mengutamakan guruku dari orang tuaku, meskipun aku mendapat dari orang tuaku keutamaan dan kemuliaan.

فَذَاكَ مُرَبِّ الرُّوْحِ وَالرُّوْحُ جَوْهَرُ ** وَهذَا مُرَبِّ الْجِسْمِ وَالْجِسْمُ كَالصَّدَف

Ustadzku adalah pengasuh jiwaku dan jiwa adalah bagaikan mutiara, sedangkan orang tuaku adalah pengasuh badanku dan badan bagaikan kerangnya.

Contoh mendoakan para gurunya, telah dilakukan para ulama salaf. Ketawadhuan dan keteladanan para ulama salaf yg selalu mendoakan guru² mereka, harus kita tiru juga. Setidaknya, ada beberapa kisah yg berkaitan dgn hal ini.

Doa Imam Ibnu Hambal

Suatu hari, anak Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah,yg bernama Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahumullah menanyakan kepada beliau:

"Wahai ayahku, bagaimana sosok Imam Asy-Syafi’i itu ? Aku mendengar bahwa engkau banyak mendoakannya". Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjawab : "Wahai anakku, Imam Syafi’i itu diperumpamakan seperti matahari bagi dunia, dan kesehatan bagi manusia. Lihatlah, apakah kedua benda itu memiliki pengganti ?"



Ahmad bin Laits rahimahullah pernah mendengar Imam Ahmad Ibnu Hambal (Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al-Marwazi Al-Baghdadi) rahimahullah (wafat 2 Agustus 855 M, Baghdad, Irak) bercerita :

إنى لأدعو الله للشافعى فى صلاتى منذ أربعين سنة يقول اللهم اغفر لى ولوالدى ولمحمد بن إدريس الشافعى

"Sungguh aku berdo’a kepada Allah untuk kebaikan Imam Asy-Syafii (guru Imam Ahmad) dalam shalatku selama 40 tahun. Beliau membaca doa :

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِوَالِدَيَّ وَلِمُحَمَّدِ بنِ إِدْريسَ الشَّافِعِى

“Ya Allah, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan untuk Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i". (Kitab Manaqib Asy-Syafi'i, 2/254, karya Abubakar Ahmad bin Husain bin Ali bin Abdullah Al-Baihaqi Asy-Syafi'i atau Imam Al-Baihaqi rahimahullah wafat tahun 1066 M di Naisabur, Iran)

Juga termaktub dalam Kitab Siyar A'lam an-Nubala' (8/217) karya Al-Imam Al-Hafidh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah At-Turkmani Al-Fariqi Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi atau Imam Adz-Dzahabi rahimahullah, 5 Oktober 1274 M - 3 Februari 1348 M di Damaskus, Suriah). Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :

ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺣْﻤَﺪُ: ﻭَﺇِﻧِّﻲ ﻷَﺩْﻋُﻮ ﻟِﻠﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ ﻣُﻨْﺬُ ﺃَﺭْﺑَﻌﻴﻦَ ﺳَﻨَﺔٍ ﻓِﻲ ﺻﻼﺗﻲ.

"Sungguh saya mendoakan untuk Imam Asy-Syafi'i selama 40 tahun dalam shalat saya".

Doa Yahya Bin Said

Al-Imam Abu Sa'id Yahya bin Sa'id bin Farrukh Al Qaththan At-Tamimi Al-Ahwal Al-Bashri atau Imam Imam Yahya bin Sa'id Al-Qathan rahimahullah (wafat 198 H / 813 M di Basrah)

ﻋَﻦْ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑﻦِ ﻣَﻌِﻴْﻦٍ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑﻦَ ﺳَﻌِﻴْﺪٍ ﻳَﻘُﻮْﻝُ: ﺃَﻧَﺎ ﺃَﺩْﻋُﻮ اﻟﻠﻪَ ﻟِﻠﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ ﻓِﻲ ﺻﻼﺗﻲ ﻣُﻨْﺬُ ﺃَﺭْﺑَﻊِ ﺳِﻨِﻴْﻦَ.

Abu Zakariya Yahya bin Ma'in Al-Ghatfan Al-Baghdadi atau Imam Yahya bin Ma'in rahimahullah (ulama ahli jarh wa ta'dil) mendengar bahwa Yahya bin Sa'id berkata: "Saya mendoakan kepada Allah untuk Asy-Syaafi'i dalam shalat saya sejak 4 tahun" (Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah, dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala' 8/273)

Doa Abdurrahman bin Mahdi

Al-Hafidh Al-Kabir Imamul Ilmi Asy-Syahir Abu Sa'id Abdurrahman bin Mahdy bin Hasan bin Abdurrahman Al-Ambari Al-Luklu’i Al-Bashri atau Imam Yahya Bin Ma'in rahimahullah (wafat 814 M di Basrah Iraq)

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺛَﻮْﺭٍ: ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻲ ﻋَﺒْﺪُ اﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑﻦُ ﻣَﻬْﺪِﻱٍّ: ﻣَﺎ ﺃُﺻَﻠِّﻲ ﺻَﻼَﺓً ﺇﻻَّ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺃَﺩْﻋُﻮ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻲ ﻓِﻴْﻬَﺎ.

Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata kepada Imam Abu Tsaur rahimahullah (Ibrahim bin Khalid bin Abi al-Yaman Abu Tsur Al-Kalbi Al-Baghdadi wafat 854 M di Baghdad) : "Saya tidak melakukan shalat kecuali saya mendoakan untuk Asy-Syafi'i di dalam shalat tersebut". (Al-Hafidh Adz-Dzahabi, kitab Siyar A'lam an-Nubala' 8/252)

Abu Bakar bin Al Khallad

Abu Bakar Muhammad bin Khallad bin Katsir Al-Bahili Al-Bashri atau Imam Abubakar Al-Khallad rahimahullah (wafat 853 M di Basrah)

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﺑﻦُ ﺧَﻼَّﺩٍ: ﺃَﻧَﺎ ﺃَﺩْﻋُﻮ اﻟﻠﻪَ ﻓِﻲ ﺩُﺑُﺮِ ﺻَﻼَﺗِﻲ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻲ.

Abu Bakar bin al-Khallad berkata: "Saya mendoakan kepada Allah setelah shalat saya untuk Asy-Syafi'i". (Imam Adz-Dzahabi, kitab Siyar A'lam an-Nubala' 8/242)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا وَارْحَمْهُمْ، وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيْمِ، فِي مَقْعَد الصِّدْقِ عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Wahai Allah ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajar kami. Sayangilah mereka, muliakanlah mereka dengan keridhaan-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang. (Imam al-Haris al-Muhasibi, Risâlah al-Mustarsyidin, Dar el-Salam, halaman 141).

Para ulama pendahulu yg mulia tsb adalah sosok² yg bersih ruhaninya, cemerlang otaknya, dan memesona akhlaknya. Mereka adalah kesempurnaan dari lautan manusia yg penuh kurang dan salah. Mereka ibarat gemintang yg senantiasa bercahaya di tengah gulita malam.

Meski berbeda pendapat dalam banyak persoalan cabang agama, mereka adalah sosok yg saling menghormati, berlomba memuliakan, dan senantiasa mendoakan di dalam tiap kesempatan munajatnya. Alhasil, hati mereka saling berpelukan dan pikiran mereka bersih dari buruk sangka.

Anda mengaku ikut Ulama salafus shalih ? Maka ikutilah juga akhlak mereka dalam perbedaan dan keteladanan hubungan guru dan murid.

Wallahu A'lam. Semoga bermanfaat !!

Written from various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA'AH SARINYALA Kabupaten Gresik

WEBSITE
https://www.sarinyala.id/

Facebook Jama'ah Sarinyala https://www.facebook.com/groups/1811379799080690/?ref=share

Facebook
https://www.facebook.com/sarinyala.id/

YOUTUBE MAJELIS NGAJI SARINYALA https://youtube.com/c/MAJELISNGAJISARINYALA

Twitter
Instagram : ahmadzainialawi

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Sukoharjo?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Address


Ngreco
Sukoharjo
57562